Jendela
Al-Banjari dan Kolonialisme
Melihat dinamika hubungan kesultanan Banjar dengan orang-orang Eropa, dapat dipahami mengapa jihad anti-kolonialisme bukan prioritas Syekh Arsyad.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - RABU, 16 Maret 2022 kemarin, saya turut diundang sebagai peserta seminar tentang “Rekam Jejak Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari”. Seminar ini merupakan rangkaian tahapan pengusulan sang tokoh untuk menjadi pahlawan nasional. Salah satu pembicara penting di seminar ini adalah Azyumardi Azra, guru besar sejarah dan cendekiawan terkemuka Indonesia. Dalam pemaparannya beliau mengatakan, tak sedikit pun keraguan bahwa Arsyad al-Banjari adalah ulama besar, tetapi belum ada bukti tertulis bahwa beliau itu anti-kolonialisme. “Apakah pernah dia menganjurkan jihad melawan Belanda? Adakah sumber Belanda yang menyebut perlawanan Arsyad?” tanya Azra.
Pertanyaan Azra itu mengingatkan saya pada pertemuan dengan seorang tokoh sekitar setahun lalu, yang meminta dukungan saya untuk pengusulan Syekh Arsyad menjadi pahlawan nasional. Tentu saja saya mendukung penuh niat baik itu. Namun, ada sedikit kekhawatiran di hati saya, kalau-kalau pengusulan itu akan menghadapi kendala.
Bagaimanapun, Syekh Arsyad jauh lebih besar dari gelar pahlawan nasional. Kekhawatiran saya itu persis terkait pertanyaan Azra tadi. Masalah ini pertama kali saya baca dalam tesis Abdul Muthalib di McGill University, tahun 1995 berjudul “The Mystical Thought of Muhammad Nafis al-Banjari: An Indonesian Sufi of the Eighteenth Century”. Mengapa Syekh Arsyad mendukung Sultan Tahmidullah yang bekerjasama dengan Belanda? Menurut Muthalib, sesuai dengan doktrin politik Sunni, Syekh Arsyad menghindari konflik yang dapat menimbulkan kekacauan sosial dan perang. Apalagi Sultan memberinya dukungan penuh dalam berdakwah, dan Belanda tampaknya tak pernah menghalangi atau mengganggunya (h.10).
Saya setuju dengan pendapat Abdul Muthalib, dan pandangan serupa juga dikemukakan Profesor Ismet saat seminar kemarin. Alih-alih mengambil langkah konfrontatif yang dapat menimbulkan kekacauan sehingga rencana dakwahnya gagal total, Syekh Arsyad lebih memilih perjuangan kultural, membangun masyarakat melalui pembelajaran di Pesantren Dalam Pagar, menulis kitab-kitab dalam bahasa Melayu, mengkader ulama-ulama penerus sambil membangun kemandirian melalui pertanian yang digarap bersama keluarga dan murid-muridnya. Rasanya sulit kita membayangkan Islamisasi masyarakat Banjar dan jaringan ulamanya yang begitu kuat hingga sekarang dapat terwujud andaikata Syekh Arsyad sibuk berperang melawan Belanda.
Sultan Banjar dan Bangsa Eropa
Namun, jawaban di atas secara historis mungkin masih perlu diperkuat. Syekh Arsyad hidup pada 1710-1812. Apa yang terjadi pada masa itu seputar hubungan kesultanan dengan orang-orang Eropa? Dalam karya penulis pionir sejarah Banjar, M. Idwar Saleh berjudul Sedjarah Bandjarmasin dan Goh Yoon Fong, “Trade and Politics in Banjarmasin 1700-1747” yang merupakan disertasi di University of London tahun 1969, saya menemukan penjelasan yang menarik dan rinci tentang berbagai peristiwa yang terjadi. Secara singkat dapat dikatakan, hubungan kesultanan Banjar dengan Portugis, Inggris dan Belanda ditentukan oleh politik antar berbagai kerajaan di Nusantara, perdagangan lada, dan perebutan kekuasaan internal kesultanan Banjar sendiri. Selama abad ke-17 hingga paruh kedua abad ke-18, kesultanan Banjar dapat bermain cantik, licin dan lihai. Ia tidak saja dapat menggunakan Belanda untuk melindungi diri dari ancaman Mataram dan Makassar serta menaklukkan Pasir, tetapi juga dapat mengambil keuntungan besar dalam bisnis lada, melawan monopoli Portugis, Inggris dan Belanda.
“Keradjaan Bandjarmasin lepas dari bahaya monopoli VOC. Hingga 1747, tak ada suatu bangsa asing jang bisa menanam monopoli di sana, atau semua mereka dihantjurkan, seperti jang dialami oleh Inggeris 1707, Portugis 1694, sama dengan keadaan Belanda 1638,” tulis M. Idwar Saleh (h. 90).
Kesultanan Banjar mulai lemah menjelang akhir abad ke-18 akibat konflik perebutan takhta di kalangan bangsawan istana sendiri. Dalam konflik itu, Tamjidillah naik takhta pada 1734, lalu dijatuhkan oleh Ratu Anom yang wafat pada 1761. Penerusnya adalah anak Tamjidillah, Pangeran Nata Negara. Demi menjaga kekuasaannya, Nata mengajak VOC untuk suatu kontrak menarik. Pada 1787, kontrak dibuat yang isinya antara lain menyerahkan Pasir, Laut Pulo, Tabaniouw, Mendawe, Sampit, Pembuang dan Kota Waringin kepada VOC, sementara Sultan tetap berkuasa atas wilayahnya sendiri. VOC juga diberi wewenang menentukan putra mahkota, tetapi harus dari keturunan Nata. VOC diberi hak monopoli lada. Ternyata, taktik ini tipuan belaka. Produksi lada diturunkan Sultan. Menjelang 1793, kebun-kebun lada dimusnahkannya. Hingga 1797, VOC merugi. Pada 1809, Banjarmasin ditinggalkan Belanda (h.94-97).
Jejak Al-Banjari di Abad ke-19
Demikianlah, meskipun beberapa kali membuat kontrak dan mengalami konflik fisik dengan Inggris dan Belanda, kesultanan Banjar tidaklah tunduk pada kekuasaan asing itu. Yang terjadi adalah hubungan kerjasama dan permainan politik yang saling memanfaatkan, dan kesultanan Banjar justru beroleh untung. Dalam keadaan yang demikian, tidak mengejutkan jika Syekh Arsyad tidak mengangkat masalah kolonialisme sebagai isu prioritas dalam dakwahnya. Namun, mengingat tipu-muslihat para sultan yang licin terhadap orang-orang Eropa itu, sementara Syekh Arsyad tergolong orang istana, tidak masuk akal jika beliau tidak menyimpan sikap anti-kolonialisme. Hal ini paling kurang dibuktikan oleh para penerus Syekh Arsyad di abad ke-19.
Paling tidak ada dua bukti di abad ke-19 yang menunjukkan sikap anti-kolonialisme, yang akarnya dapat ditarik ke Syekh Arsyad al-Banjari. Dalam disertasinya di Temple University tahun 2014 berjudul “The Reception of the Qur’an in Indonesia: A Case Study of the Place of the Qur’an in a Non-Arabic Speaking Community”, Ahmad Rafiq mengatakan, Parukunan Besar Melayu karangan Abdur Rasyid (1885-1934) jelas dipengaruhi Syekh Arsyad. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan di halaman depan kitab ini, yaitu “diambil dari setengah karangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.” Kata ‘setengah’ di sini berarti sebagian. Nah, dalam kitab ini disebutkan, salah satu yang dapat merusak iman adalah memakai tali leher dan cipiyu. Tali leher adalah dasi, dan cipiyu adalah topi. Keduanya pakaian orang Eropa. Sikap keras anti-pakaian Eropa ini, kara Rafiq, mungkin karena Parukunan Besar ditulis saat Perang Banjar (1859-1906).
Kedua, karya Helius Sjamsuddin tentang Perang Banjar berjudul Pegustian dan Temenggung (2014: 246-263) yang semula adalah disertasi di Monash University tahun 1989, menyebutkan bahwa perang ini sangat diwarnai oleh semangat jihad. Tokoh perlawanan terhadap Belanda dalam perang ini, yaitu Pangeran Antasari, adalah seorang yang taat beragama. Lebih penting lagi, dia didukung oleh gerakan Baratib Baamal. Dalam laporan Belanda disebutkan, Antasari mengutus anaknya, Muhammad Said, ke Amuntai, untuk menghimpun kekuatan melalui gerakan ini. Zikir yang dibaca kelompok ini menunjukan sejenis amalan tarekat yang diperkirakan Sjamsuddin adalah Tarekat Naqsyabandiyah. Namun, Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (2012: 382) menilai, ia adalah Tarekat Sammaniyah karena salah satu anak Antasari Bernama Muhammad Seman. Kita maklum, Syekh Arsyad adalah murid Syekh Samman. Dalam artikel jurnal tentang Tarekat Sammaniyah di Kalsel (Khazanah 2004), A. Athaillah menyebutkan,Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani mulai mengijazahkan tarekat ini pada 1994. Jalur silsilahnya melalui guru beliau, Tuan Guru Syarwani Abdan hingga tersambung ke Syihabuddin dan ayahnya, Syekh Arsyad.
Alhasil, jika melihat dinamika hubungan kesultanan Banjar dengan orang-orang Eropa pada abad ke-17 dan 18, kita dapat memahami mengapa jihad anti-kolonialisme bukan agenda prioritas Syekh Arsyad. Namun, pengaruh Syekh Arsyad terkait anti-kolonialisme dapat dilacak pada abad ke-19 dalam kitab Parukunan Besar Melayu dan gerakan Baratib Baamal. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrah4man-rektor-universitas-islam-negeri-uin-antasari.jpg)