Ramadhan 2022

Jangan Lupa Tunaikan Zakat Fitrah, Ini Makna Besar Terkandung Dalam Berzakat, Simak Juga Niatnya

Ketua MUI Kalsel, KH Husin Naparin Lc MA menjelaskan soal Zakat Fitrah yang termasuk dalam Rukun Islam, simak penjelasannya

Editor: Irfani Rahman
sutterstock
Ilustrasi zakat Fitrah 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bulan suci Ramadan akan berakhir. Selamat jalan Ramadan 2022, alhamdulillah kita dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadan dengan baik.

Di Ramadhan ini ada kewajiban kita yakni Zakat Fitrah. Zakat Fitrah termasuk Rukun Islam Keempat.

Simak tentang Zakat Fitrah dan makna serta keistimewaan yang ada dalam berzakat menurut Ketua MUI Kalsel, KH Husin Naparin Lc MA. Simak pula niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri dan keluarga.

Selain itu tidak ada sesuatu terjadi di negara yang membuat kita tidak bisa berpuasa Ramadan. Kendati pandemi covid 19 masih menghantui kita, namun pelaksanaan ibadah sholat tarawih di bulan suci Ramadan berlangsung dengan baik. Malah kian meningkat, dimana kegiatan malam Al-Qodar di sejumlah mesjid tetap ramai diadakan lebih-lebih pada malam ganjil pertiga terakhir bulan suci Ramadan.

Baca juga: Ini Tanda Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar, Buya Yahya Sebut Soal Perubahan Sikap

Baca juga: Link Twibbon Hari Buruh 1 Mei 2022, Keren Bisa Jadi Bingkai Foto yang Unik, Begini Cara Membuatnya

Ramadan berasal dari kata ramhado artinya melebur karena dengan berpuasa Ramadan kita umat islam melebur dosa-dosa. dengan demikian kita kembali mendapat kesucian itulah dia fitrah.

Mengakhiri puasa Ramadan kepada kita diwajibkan mengeluarkan atau membayar zakat fitrah, bisa dengan beras dan boleh dengan harganya berupa uang.

Zakat fitrah ini diserahkan kepada fakir miskin, meskipun ada delapan golongan yang berhak menerima zakat fitrah, sehingga pada hari raya semua fakir miskin bisa tersenyum dan bergembira, pada hari raya diharapkan tidak ada orang pengemis meminta-minta. Inilah yang diharapkan.

Tetapi pada kenyataannya bila hari raya tiba, masih banyak pengemis meminta-minta, hal ini terjadi bisa jadi karena pembagian zakat fitrah kurang merata, dan bisa jadi pula karena fakir miskin itu rakus.

Seharusnya dengan zakat nominal umat Islam yang miskin bisa berkurang. Seseorang penerima zakat seharusnya berusaha tidak menjadikan dirinya hanya sebagai penerima zakat pada setiap tahunnya.

Tetapi seharusnya dia berusaha agar tidak lagi menjadi penerima tetapi menjadi muzaki atau orang yang berzakat. Di sinilah bagaimana Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS ) berupaya membagi zakat dengan proposional tidak dibagikan hanya untuk konsumtif tetapi dibagikan, diatur sehingga menjadi produktif seperti menjadi modal usaha fakir miskin berdagang, sehingga mereka tidak lagi menjadi seorang penerima zakat tetapi diharapkan menjadi seorang yang muzaki (mengeluarkan zakat).

Baca juga: Berhutang Untuk Bayar Zakat Fitrah Apakah Diperbolehkan, Simak Penjelasannya

Baca juga: Buya Yahya Terangkan Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir Ramadhan 2022, Beserta Keutamaan Iktikaf 

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved