Opini Publik
Eril dan Pembelajaran Kerelawanan
di Indonesia, setap terjadi bencana termasuk orang tenggelam pasti langsung ramai dicari oleh banyak relawan dari berbagai komunitas
Oleh: Ribut Lupiyanto, Deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA)
BANJARMASINPOST.CO.ID - KEPULANGAN Eril, putra Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akibat tenggelam di Sungai Aare, Swiss memberikan duka bagi Indonesia khususnya Jawa Barat (Jabar). Insiden hilangnya Eril terjadi pada Kamis 26 Juni, pada pukul 10.00 waktu setempat. Jasad Eril baru ditemukan di Bendungan Engehalde pada Rabu (8/6) pagi waktu setempat. Adapun pemakaman berlangsung pada Senin (13/6) di Cimaung, Kabupaten Bandung.
Banyak hikmah dan pembelajaran dari sosok Eril dan kejadian ini. Salah satunya adalah dinamika proses pencarian yang menjadi komitmen pemerintah Swiss. Sedikit perbedaan tampak dalam proses pencairan antara Swiss dan Indonesia. Di sana hanya dilakukan sedikit orang dan resmi dari kepolisian serta menggunakan alat canggih. Sedangkan di Indonesia, setap terjadi bencana termasuk orang tenggelam pasti langsung ramai dicari oleh banyak relawan dari berbagai komunitas meski dengan peralatan terbatas.
Eksistensi kerelawanan di Indonesia tentu patut dibanggakan. Namun pembelajaran dari Swiss terkait komitmen penuh pemerintah dan kepolisian dengan dukungan alat canggih juga perlu diserap. Apapun itu spirit kolaborasi kerelawanan mesti terus dipertahankan bahkan ditularkan secara internasional.
Perjuangan Relawan
Kerelawanan identik dengan bencana, baik personal, mikro, sedang hingga besar. Setiap kejadian selalu memberikan hikmah pembelajaran, termasuk kebencanaan. Selain faktor alam, bencana lingkungan banyak terjadi karena dipicu kegiatan manusia atau faktor antropogenik. Bencana tentu mengingatkan kita dan pemimpin untuk semakin bijak dan tegas dalam pelestarian lingkungan agar berkelanjutan.
Hikmah lain yang dapat dipetik antara lain dari keteguhan para korban, ketabahan para pengungsi, dan keikhlasan para relawan. Spirit perjuangan para relawan penting menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua.
Berbagai dampak bencana dapat cepat tertangani dan diminimalisasi berkat aktivitas relawan. Banyak cerita mengharukan di balik aktivitas para relawan saat terjadi bencana. Sudah pasti para relawan datang dan bekerja secara suka rela. Tanpa mengecilkan arti relawan di sektor lain, cerita relawan yang melakukan evakuasi sungguh membanggakan.
Mereka tidak surut meski pekerjaannya bergelut dengan maut. Sesaat sebelum awan panas menerjang, mereka harus sigap mengevakuasi warga yang terancam. Para relawan juga harus sabar membujuk warga agar mau mengungsi hingga relokasi untuk mengantisipasi bahaya. Pascabencana, mereka masih harus memasuki wilayah rawan bencana guna tanggap darurat.
Kejadian terbesar adalah ketika erupsi Merapi 2010, dimana lima relawan tewas dihantam wedhus gembel saat bertugas menyisir warga agar segera mengungsi. Selamatnya ribuan orang kadang harus ditebus dengan nyawa mereka. Dan inilah ciri-ciri pahlawan sejati, merelakan hidupnya untuk orang lain.
Para relawan bukanlah sosok yang fenomenal dan terkenal. Tapi kiranya kepahlawanannya sejajar dengan para pahlawan nasional. Relawan juga dapat dikategorikan pahlawan tanpa tanda jasa.
Spirit Kepahlawanan
Relawan tidaklah salah dinobatkan pula sebagai pahlawan dalam kebencanaan. Pahlawan sendiri berasal dari bahasa Sansekerta “Phala-Wan”, artinya orang yang menghasilkan buah atau hasil karya (phala). Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan pahlawan sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Jadi ada tiga aspek kepahlawanan, yakni keberanian, pengorbanan, dan membela kebenaran.
Tindak Kepahlawanan dapat dipahami sebagai perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya. Kepahlawanan sendiri memiliki nilai berupa sikap dan perilaku perjuangan yang mempunyai mutu dan jasa pengabdian serta pengorbanan terhadap bangsa dan negara.
Setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk lahir menjadi pahlawan. Apapun profesi, pendidikan, dan latar belakang lainnya, semua mampu meraihnya. Nilai kepahlawanan yang diperbuat tidak penting untuk diketahui ataupun diakui. Upaya konkrit mesti dilakukan dalam rangka menumbuhkan jiwa berani, berkorban, dan membela kebenaran.
Jiwa pemberani terlahir di atas pondasi ideologi yang kokoh. Pendekatan nasionalisme dan spiritualisme penting diupayakan dalam menumbuhkannya. Seluruh rakyat mestinya tidak mengenal istilah takut kecuali kepada Tuhan dan negaranya. Berhadapan dengan siapapun pemilik jiwa pemberani akan tetap menegakkan kepala, tidak peduli kepada penguasa, atasan, atau lainnya. Misalnya saja dalam pemberantasan korupsi perlu membutuhkan jiwa pemberani, berani menolak suap, berani melaporkan praktik korupsi, berani memberikan kesaksian, dan lainnya.
Keberanian membutuhkan pengorbanan dan pengorbanan membutuhkan keikhlasan. Konsekuensi atas keberanian yang digaungkan tentu akan menimbulkan ekses dari pihak lawan. Ekses tersebut bervariasi mulai dari ancaman hingga tindakan yang menyerang kehormatan, harta, hingga jiwa. Setiap anak bangsa mesti bersiap diri mengorbankan apapun demi menguatkan keberaniannya menyerukan kebaikan.