Jendela

Belajar dari Film Laga

Hati yang terhibur saat menyaksikan tokoh baik menang, dan sedih saat dia kalah, adalah cermin dari bahagia-derita manusia yang sejati.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SAYA sering bercanda, bahwa saya tergolong 'sufi’ alias suka film. Ada aneka jenis film seperti drama, komedi, dokumenter dan laga atau action. Jika diminta memilih, saya akan memilih film laga. Selain adegan-adegan yang menegangkan dan pertunjukan seni bela diri yang menakjubkan, saya menyukai film laga karena ia menghadirkan pertempuran antara yang benar dan salah, baik dan buruk, hak dan batil, adil dan zalim, dan hasil akhirnya juga bisa diperkirakan: yang benar, baik, adil dan hak itu akan menang. Untuk membuat dramatis, dalam cerita film laga biasanya si baik atau tokoh protagonis kalah dulu, tetapi akhirnya dia berhasil menang atas si jahat, sang antagonis.

Film memang bukan kenyataan. Ia adalah imajinasi kita tentang kenyataan. Namun, dapatkah kita mengimajinasikan sesuatu tanpa sama sekali merujuk pada kenyataan yang kita ketahui? Rasanya tidak mungkin. Imajinasi yang kita tampilkan, seaneh apapun itu, takkan bisa terlepas dari kepingan-kepingan kenyataan yang sudah kita kenali. Misalnya, perhatikan sosok-sosok makhluk antariksa dalam film fiksi-sains, atau makhluk-makhluk aneh dalam film supernatural, semuanya memiliki keserupaan, entah di bagian mana, dengan makhluk-makhluk yang sudah kita kenal dan lihat. Artinya, sejauh-jauh kita mengkhayal, kita takkan bisa keluar dari kenyataan yang membatasi kita.

Demikian pula, kesukaan kita pada yang benar, baik, indah dan adil, dan kebencian kita pada yang salah, buruk, batil dan zalim, tidak berasal dari luar diri kita yang asing, melainkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu fitrah kita. Fitrah adalah asal-usul primordial atau kejadian mula-mula, yang merupakan potensi kemanusiaan kita, yang kita bawa sejak lahir. Dalam tradisi Islam, kandungan fitrah itu adalah iman kepada Tuhan dan kecenderungan kepada yang baik, benar, indah dan adil. Karena itu, kesukaan kita pada tokoh baik (protagonis) dan kebencian kita pada tokoh jahat (antagonis) serta keterhiburan hati kita saat sang protagonis menang, adalah tampilan murni dari fitrah itu.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, kadangkala kita memang bertemu dengan yang samar-samar, tidak jelas hak dan batilnya. Apalagi, orang suka menggunakan alasan yang dibuat-buat, bukan untuk mencari kebenaran, melainkan pembenaran belaka. Yang sudah jelas haram, tetap saja dicar-cari alasan agar halal. Inilah yang disebut ‘pasca-kebenaran’, yakni sesuatu dianggap benar semata-mata karena sesuai dengan selera kita. Ukurannya selera saja, dan selera itu sangat subjektif. Apalagi jika selera itu sudah dipengaruhi hawa nafsu. Akal yang bijak akan berubah menjadi licik ketika nafsu menguasainya. Demi melayani nafsu, fakta diputarbalikkan, kebenaran pun ditutupi.

Dalam kenyataan pula, tidak dalam film laga pada umumnya, yang baik, benar, hak dan adil, tidak jarang malah tersingkir, dikalahkan oleh si jahat. Apalagi jika dalam suatu lingkungan, kelompok masyarakat atau bahkan bangsa, orang-orang yang tidak jujur dan menghamba pada hawa nafsu jumlahnya sangat banyak. Orang baik dan benar tadi akan dikucilkan dan kalah. Lebih buruk lagi, orang-orang baru, anak-anak muda yang tengah tumbuh, yang menyaksikan kenyataan seperti itu akan mudah terdorong untuk meniru perilaku jahat, licik dan penuh tipu daya yang dicontohkan oleh para senior mereka yang tampak sukses dan berjaya.

Di sisi lain, sesungguhnya kebenaran dan kebaikan takkan bisa ditutupi. Mungkin dalam proses hukum yang ditangani aparat yang korup hasilnya adalah ‘yang benar dipenjara, yang salah tertawa’ seperti kata Rhoma Irama. Namun kebenaran tetaplah kebenaran yang jika disangkal akan mengenai manusia itu sendiri. Masyarakat yang suka memanipulasi atau menyangkal kebenaran mau tak mau akan menanggung akibat buruknya. Jika hukum dipermainkan dan korupsi merajalela, negara akan bangkrut dan rasa saling percaya di masayarat makin tipis. Apalagi jika alam dirusak. Akibat berupa bencana alam seperti banjir dan pemanasan global pasti akan dirasakan oleh semua pihak.

Karena itu, dalam bahasa Arab, yang benar itu disebut al-haqq yang berarti benar sekaligus nyata. Kenyataan, realitas atau hakikat itu, ada dalam pikiran kita yang disebut rasional, dan ada pula dalam fakta yang dapat diindera yang disebut bukti empiris. Selain itu, ada pula kebenaran intuitif, yang disebut hati nurani, yakni hati yang bercahaya. Jika kau ragu-ragu akan sesuatu, tanyalah hati nuranimu. Ia akan menjawab dengan jujur, asalkan kamu dapat mencegah nafsu angkara memengaruhinya. Selain itu, bagi kaum beriman, sumber kebenaran utama adalah firman Tuhan. Jika akal, indera, hati nurani dan firman Tuhan selaras, maka itulah kebenaran hakiki.

Akhirnya, meskipun suatu saat manusia mengalami keraguan, dia takkan bisa mengelak dari memilih antara baik dan buruk, benar dan salah, adil dan zalim itu. Ia harus berada di salah satu pihak. Kebebasan memilih inilah yang membuat manusia menjadi manusia, bukan malaikat, bukan pula setan. Inilah tanggung jawab hidup manusia, yakni ujian dalam menentukan pilihan moral. Pilihan moral ini tidak bisa dinilai berdasarkan hal-hal duniawi seperti kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Orang bisa kaya, berkuasa dan terkenal karena hidupnya lurus dan baik, tetapi bisa pula sebaliknya. Yang menentukan nilai dirinya adalah pilihan moralnya, bukan kesuksesan duniawinya.

Alhasil, hati yang terhibur saat menyaksikan tokoh baik menang, dan sedih saat dia kalah, adalah cermin dari bahagia-derita manusia yang sejati.  (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved