Opini

Merdeka dari Ancaman Pangan Berbahaya

Ciri awal penjajahan masa depan apabila kita diatur negara lain dan kita tidak bisa menolak karena kita tergantung impor pangan

Tayang:
Editor: Hari Widodo
Istimewa
Prof Dr Ir Ismed Setya Budi, MS, Dokter Tanaman Program Studi Proteksi Tanaman ULM. 

Oleh: Prof Dr Ir Ismed Setya Budi, MS
Dokter Tanaman Program Studi Proteksi Tanaman ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEMERIAHAN memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahun selalu terjadi. Tak terasa tahun ini kita telah memperingati hari kemerdekaan yang ke-77. Berarti Indonesia sudah layak menjadi negara yang besar berdaulat sesuai cita-cita pendiri negeri ini, saat berjuang mencapai kemerdekaan setelah lama jadi bangsa yang terjajah.

Memperingati hari kemerdekaan dengan kemeriahan tentu tidak salah, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana berpikir ke depan untuk menjadi negara yang betul-betul berdaulat.

Tentunya tugas berat generasi muda milenial, bukan hanya memperingati masa lalu tapi harus berpikir bagaimana bersaing di era global agar bisa keluar sebagai pemenang dari persaingan yang semakin gencar.

Ancaman penjajahan kekinian bukan lagi seperti pola penjajahan dulu di jaman kolonial tapi penjajahan jaman milenial adalah penjajahan akibat ketergantungan dengan kebutuhan makan dari negara lain.

Ciri awal penjajahan masa depan apabila kita diatur negara lain dan kita tidak bisa menolak karena kita tergantung impor pangan untuk menghidupi warganya.

Mempersiapkan generasi unggul masa depan adalah tugas berat kita semua. Banyak fakor penentu untuk menjadikan generasi unggul masa depan.

Kuncinya adalah terkait masalah pendidikan dan kesehatan yang sepatutnya mendapat perhatian serius, namun yang lebih utama lagi adalah mengatasi masalah kecukupan pangan.

Presiden pertama Indonesia sudah menyampaikan bahwa masalah pangan adalah masalah hidup mati bangsa Indonesia.

Kecukupan pangan ini masalah yang amat berat yang terus akan semakin berat, karena semua memerlukan makan bukan hanya dari jumlah yang tercukupi tapi juga kualitas yang sesuai harapan untuk hidup sehat. Di dalam tubuh yang sehatlah akan lahir generasi kuat unggul masa depan.

Konsumsi makanan sehat bisa didapat apabila makanan itu diolah dari tumbuhan yang sehat dan bebas dari bahan berbahaya seperti pupuk sintetis dan pestisida beracun. Jadi kunci utama keberhasilan untuk mendapatkan produk tanaman yang sehat adalah petani.

Namun perlu disadari, petani saat menanam tanaman pangan atau hortikultura penuh tantangan. Penyakit tanaman merupakan salah satu faktor pembatas utama pada setiap produksi tanaman pertanian di semua negara.

Setiap musim tanam penyakit tanaman selalu muncul dengan intensitas serangan yang beragam tergantung banyak faktor, bahkan bisa membuat petani gagal panen.

Makanya, kekhawatiran akan kehadiran penyakit tanaman selalu menghantui petani untuk bertindak gegabah dan akhirnya penggunaan pestisida sintetis dengan dosis yang di luar anjuran sehingga residu pestisida dalam tanaman semakin meningkat meracuni tanaman, dan nantinya makanan beracun ini dikonsumsi manusia.

Manusia juga akan mengkonsumsi air dan udara yang terkontaminasi racun pestisida saat aplikasi bahan di lahan.

Ancaman makanan beracun terkonsumsi generasi milenial semakin mengkhawatirkan mengingat variasi makanan kekinian yang sering jadi idola generasi muda adalah mengonsumsi sayur atau buah mentah segar.

Pertanyaan mendasar apakah sayuran mentah ini sudah memenuhi syarat bila langsung dikonsumsi untuk hidup sehat. Jawabnya tergantung petani yang menanam dan perlakuan saat di penyimpanan.

Tim Dokter Tanaman dari Program Studi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, hadir di tengah masyarakat tani melalui dana Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) dari LPPM ULM memberikan solusi alternatif kepada petani untuk kembali ke alam.

Melalui kegiatan bertema ”Tranfer teknologi pembuatan kompos media tanam berbasis mikroba indiginous dan gulma air untuk pertnian organik”, mengajak petani memanfaatkan kekayaan alam setempat berupa mikroba antagonis indiginous bermanfaat dan tanaman dari gulma sekitar lahan petani yang mengandung khasiat bisa mencegah berkembangnya hama penyakit.

Kehadiran Dokter Tanaman dari Prodi Proteksi tanaman diperlukan agar petani dengan berbagai keterbatasannya tidak kalap dan mengambil keputusan yang tidak tepat bahkan salah.

Petani perlu pendampingan secara intensif dan berkelanjutan untuk mengubah perilaku cara bercocok tanam yang baik dan benar berdasarkan hasil kajian penelitian melalui Program Dosen Wajib Meneliti (PDWM) ULM. Mengajak dan membimbing agar petani memulai bertani secara organik tanpa pestisida dan pupuk sintetis.

Petani perlu didampingi cara mendapatkan bahan alternatif pengganti pestisida untuk pengendalian hama penyakit di lahan dengan mikroba bermanfaat yang mampu menghambat perkembangan hama penyakit dan mampu meningkatkan kesuburan tanaman sehingga dapat berproduksi dengan baik.

Petani juga diberikan keyakinan bahwa pemanfaatan eco enzym yang dibuat dari sisa buah dan sayur yang tidak terpakai selanjutnya difermentasi maka hasilnya dapat membantu menyuburkan tanaman pertanian.

Strategi pengendalian ramah lingkungan adalah dengan pencegahan sedini mungkin dan selalu melakukan pengamatan rutin untuk menentukan kapan waktu pengendalian harus dilakukan. Bukan lagi penggunaan pestsida sintetis secara terjadwal dengan dosis yang berlebihan yang tentunya berdampak pada produk pertanian mengandung bahan beracun terus bertambah parah.

Saatnya pemanfaatan pestisida organik berbahan mikroba antagonis indiginous semakin menjadi perhatian semua pihak agar generasi muda milenial yang sehat dan tangguh tak terkontaminasi tubuhnya dengan pestisida beracun. Perhatian yang lebih juga semakin dituntut lahir dari kalangan akademisi untuk membuat inovasi yang memudahkan petani aplikasi di lahan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved