Opini Publik

Menyoal ANBK, Mutu Pendidikan dan Literasi Numerasi Kita

UN syarat kelulusan siswa, maka ANBK hanya menilai mutu pembelajaran di sekolah dan melihat kemampuan numerasi dan literasi para siswanya.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Muh. Fajaruddin Atsnan, Dosen UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - PENULIS mencoba mengaitkan headline Banjarmasin Post dengan Tajuk Banjarmasin Post (15/9/2022), dengan hajatan dunia pendidikan kita yaitu ANBK. Ya, sektor pendidikan, khususnya sekolah-sekolah di bawah naungan KemendikbudRistek sedang disibukkan selain dengan implementasi kurikulum merdeka, juga di bulan September-November melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). ANBK itu sendiri adalah reinkarnasi pengganti Ujian Nasional (UN). Bedanya, kalau UN dijadikan sebagai syarat kelulusan siswa, maka ANBK hanya menilai mutu pembelajaran di sekolah-sekolah dan melihat sejauh mana kemampuan numerasi dan literasi para siswanya.

Meskipun ‘hanya’ menilai mutu pembelajaran di sekolah, tetapi perlu ditelisik lebih jauh perihal apa benar, ANBK ini bisa menilai kualitas input, proses, dan output pembelajaran di sekolah? Apakah ANBK juga bisa memetakan sejauh mana kemampuan literasi dan numerasi anak? Meskipun pemerintah, dalam hal ini KemendikbudRistek mengklaim bahwa hasil dari Asesmen Nasional (AN) ini nantinya akan dijadikan informasi awal yang dapat dipakai untuk memantau perkembangan mutu pendidikan dari masa ke masa, serta mengidentifikasi gap/kesenjangan yang terjadi antarbagian dalam sistem pendidikan nasional kita. Kalau melihat roadmap awal pelaksanaan kegiatan Asessmen Nasional (AN) yang mencakup tiga bagian, yaitu Asessmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar dengan sasaran mendaratnya pada literasi dan numerasi, maka nada optimistis ANBK sebagai pemotret kualitas pendidikan terutama pembelajaran dan kemampuan literasi numerasi, boleh dikedepankan.

Tetapi, sejauh mana angel yang bisa dicapai? Apakah hasil jepretan tersebut bisa mengcover setiap jengkal daerah dari perkotaan sampai daerah 3T? Sehingga benar-benar bermakna pelaksanaan ANBK ini, tidak sekadar melenyapkan Ujian Nasional (UN) mengganti nama baru saja, yang esensinya sama.

Perlu Perbaikan
Pelaksanaan ANBK sendiri sebenarnya sudah berlangsung dari tahun lalu, tahun ajaran 2021-2022, yang mana kala itu masih transisi dari pembelajaran daring ke tatap muka terbatas. Artinya, ini tahun kedua. Melihat masa transisi, tentu pelaksanaan di edisi perdana sudah bisa ditebak ditemukan beberapa kendala di lapangan, yang perlu evaluasi, agar tujuan ANBK bisa maksimal tercapai. Pertama, perlu bimbingan intensif khususnya operator dan teknisi yang menjadi jantung lancar dan sukses tidaknya ANBK. Ini penting dilakukan tidak hanya membagi modul mandiri untuk dipelajari, tetapi lebih kepada learning by doing, praktik dengan simulasi pelaksanaan ANBK. Diharapkan, tentu diklat bimbingan teknis diberikan sampai para teknisi dan operator mafhum betul soal IT yang menjadi roh pelaksanaan ANBK.

Kedua, pemerintah juga harus menjamin ketersediaan jaringan internet, bahkan sampai tablet atau komputer yang dahulu pernah dijanjikan. Keberadaan jaringan internet yang tidak lelet (baca: susah sinyal) dan tersedianya komputer/tablet yang support untuk pelaksanaan ANBK, akan meminimalkan sekolah yang satu ikut “numpang” ujian di sekolah yang memiliki kesiapaan sarana prasarana, seperti sinyal internet yang stabil dan komputer/tablet/laptop yang memadai dan mencukupi untuk digunakan para murid.

Ketiga, selain sarana prasarana seperti jaringan internet (baca: sinyal) dan minimnya perangkat komputer dan sejenisnya, tentu keberadaan jaringan listrik juga patut dipersiapkan. Belum lagi ke jaringan internet, kalau listrik padam, wifi ikut padam, dan akan mengganggu pelaksanaan ANBK. Segala hal yang perlu diperbaiki agar jika ANBK terus ada, maka benar-benar bisa siap untuk mengukur sejauh mana kualitas/mutu pendidikan, terutama terkait pembelajaran di sekolah.

Menilai Mutu
Dalam urusan menilai mutu atau kualitas pembelajaran di sekolah, tentu kita perlu indikator dan standarisasinya. Kalau acuannya adalah SNP atau Standar Nasional Pendidikan, tentu ada beberapa point yang perlu dikaji. Pertama, seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dimana disebutkan bahwa usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, salah satunya tampak dari proses pembelajarannya. Pasal 19 secara eksplisit menyebut bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk aktif, kreatif, mandiri sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.

Lantas, apakah menjelang pelaksanaan ANBK, proses pembelajaran, atau kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah dilaksanakan dengan mengakomodir semua aspek tersebut? Lantas, bagaimana dengan input dan outputnya?
Sistem penerimaan sekarang, sudah bertransformasi dari berdasarkan nilai UN menjadi zonasi dan dibarengi dengan tes kemampuan awal (placement test) untuk menentukan dimana start si anak. Hal tersebut bagus sebagai data awal, bagaimana kualitas input para siswa yang masuk. Kalau menginginkan proses pembelajarannya juga berbasis HOTS, maka jangan hanya menuntut anak-anak yang baru masuk seketika bim salabim menjadi anak berkemampuan berpikir tingkat tinggi. Guru pun harus menjadi pribadi yang HOTS juga dengan cara terus mengembangkan diri, berlatih membuat soal-soal berbasis HOTS, dst. Pertanyaannya, apakah sebelum ANBK, guru membiasakan diri untuk menerapkan pembelajaran bermakna (meaningfull learning) seperti berbasis HOTS, Project Based Learning, yang menjadi ruh dari amanat pendidikan kita saat ini?

Kedua, apakah siswa, guru, dibiasakan dengan kemampuan literasi numerasi sebelum ANBK berlangsung? Kita apresiasi dengan kebiasaan baik di sekolah-sekolah misalnya 15 menit pertama masuk sekolah, membaca buku apapun genrenya, tetapi sebaiknya tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah, dan lingkungan bermain. Sehingga, tujuan ANBK untuk memotret kualitas pembelajaran dan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak kita bisa terwujud. Impactnya, mutu/kualitas pendidikan nasional kita bisa terdongkrak. Semoga. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved