Jendela

Sufi dan Dunia Tanpa Rahasia

Dunia tanpa rahasia adalah dunia impian belaka. Di dunia era digital ini, yang rahasia dan yang dibuka belum tentu kebenaran.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “DUNIA Tanpa Rahasia” adalah judul artikel menarik karya Agus Sudibyo di Kompas, 23 September 2022. Judul ini mirip dengan ungkapan bahwa kita kini hidup seperti ikan dalam aquarium. Maksudnya, semua orang dapat melihat siapa kita dan apa yang kita kerjakan. Sebenarnya dunia tanpa rahasia itu mustahil, dan sebanyak apapun informasi tentang diri kita, kita tidak akan sama dengan ikan dalam aquarium. Karena itu, yang dimaksud kiranya adalah banyak informasi yang biasanya dirahasiakan kini justru terkuak ke publik.

Seperti dipaparkan Agus Sudibyo, media sosial dan Google merupakan platform yang sangat banyak menyimpan data pribadi kita. Ketika kita mendaftar sebagai pengguna facebook misalnya, kita harus memberikan informasi tentang diri kita seperti tanggal lahir, pekerjaan, pendidikan, email atau nomor ponsel. Kemudiaan, saat kita menggunakan media sosial, kita dengan sukarela mengunggah foto, video dan tulisan kita, kegiatan kita, keluarga dan teman-teman kita. Begitu pula, sistem Android dan Chrome telah dijadikan Google untuk menghimpun data pribadi para pengguna. Google seringkali menjadi pintu masuk ke berbagai aplikasi sehingga orang harus membuat akun Google.

Selain itu, demi efisiensi dan efektivitas tata kelola data, data pribadi kita banyak disimpan secara elektronik di lembaga-lembaga pemerintah dan swasta. Berkat teknologi digital, kita beruntung tidak lagi repot dengan data berupa berkas-berkas kertas. Kita cukup menyimpannya secara elektronik. Namun, karena berbentuk elektronik, orang lebih mudah mengambil dan menyebarkannya. Kompas mencatat bahwa data 17 juta pelanggan PLN, 26 juta pelanggan Indihome, 105 juta penduduk dari data KPU, diduga telah bocor. Bahkan, peretas Bjorka baru-baru ini mengklaim memiliki 1,3 miliar data pendaftaran kartu SIM, data pribadi para menteri hingga surat-surat rahasia negara.

Data yang bocor bisa merugikan pemilik data dan menguntungkan pencuri yang menjualnya kepada pihak tertentu. Data pribadi berupa nomor ponsel dan alamat, bisa dijual kepada perusahaan yang menarget pasar tertentu untuk iklan barang dan jasa yang dijualnya. Data pribadi orang seperti hobi, kebiasaan, ideologi, pendidikan dan kelas sosial, yang diketahui oleh media sosial, dapat dijual kepada para politisi untuk dijadikan target propaganda dalam pemilu. Begitu pula, data pribadi seorang tokoh, yang semula diunggah secara sukarela ke media sosial, dapat dimanipulasi oleh orang lain yang ingin menjatuhkan, memfitnah dan menghinakannya di depan publik.

Di sisi lain, informasi yang kini melimpah laksana tsunami menyerbu hidup kita tidak selalu akurat dan tepat. Tak sedikit berita palsu atau berita yang sengaja dibuat untuk menggiring orang kepada sikap tertentu. Pembedaan antara fakta dan opini semakin kabur. Penulis berita, baik orang biasa melalui status dan komentar di media sosial ataupun wartawan di media daring dan cetak, kadangkala sengaja mereduksi fakta dan menggiring opini untuk melayani kepentingan tertentu. Lebih buruk lagi, ada orang-orang yang memang dibayar untuk pembentukan opini di media sosial. Kebenaran diputarbalikkan dan ujaran kebencian disebarluaskan. Benar dan palsu menjadi kabur.

Lantas, apakah sudah tidak ada lagi rahasia di dunia ini? Menurut KBBI, rahasia adalah “sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain”, atau “sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang”, atau “sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang agar tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berwenang mengetahuinya.” Berdasarkan semua definisi ini, rahasia jelas masih banyak di dunia ini. Namun jika dibandingkan dengan masa lalu, banyak hal yang dulu sulit kita ketahui, kini mudah kita ketahui. Mesin pencari Google misalnya, yang dulu tak pernah ada, kini dapat memberikan informasi yang berlimpah dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam dunia yang penuh kontradiksi ini, mungkin ada baiknya kita bercermin kepada kaum Sufi. Bagi kaum Sufi, rahasia adalah kebenaran yang belum dipahami. Ada kebenaran yang bisa dipahami oleh kebanyakan orang, dan ada pula yang hanya bisa dipahami dan diakses oleh segelintir orang. Yang terakhir itulah yang disebut rahasia, bahkan rahasia segala rahasia (sirrul asrâr). Isu kebocoran data di satu sisi, dan melimpahnya hoax di sisi lain, bagi kaum Sufi adalah karena kita semakin menjauh dari kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang nyata sebagaimana adanya. Jika kita yakin berada dalam kebenaran, maka ketika diminta, kita akan berani terbuka apa adanya.

Seorang Sufi mengatakan, jika Anda berani membuka isi hati Anda kepada publik laksana makanan di atas nampan, maka Anda adalah kekasih Allah karena kelak di akhirat, mulut kita terkunci, sedangkan tangan dan kaki kita bersaksi. Tak ada yang bisa kita rahasiakan lagi. Kita memang belum di akhirat. Dunia tanpa rahasia adalah dunia impian belaka. Di dunia era digital ini, yang rahasia dan yang dibuka belum tentu kebenaran, karena kebenaran seringkali dimanupulasi dan diperjualbelikan! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved