Berita HST

Merantau Sejak Remaja, Korban Longsor Tambang Emas Kotabaru Janji Pulang Jika Punya Uang Untuk Modal

Duka duka cita menyelimuti keluarga Abdul Wahid (35). Salah satu korban tewas yang tertimbun tanah longsor tambang emas di Kotabaru

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/istimewa
Foto semasa hidup Abdul Wahid (35) Salah satu korban tewas yang tertimbun tanah longsor tambang emas di desa Buluh Kuning Kecamatan Sungai Durian Kabupaten Kotabaru Kalsel. (Kanan) Rabu (28/9/2022) jenazah Abdul Wahid tiba di kampung Karuwing Desa Perumahan Kecamatan Labuan Amas Utara HST, pukul 11.00 wita. 

Selanjutnya langsung dibawa ambulans ke Barabai Selasa malam, tanpa dibersihkan terlebih dahulu jasadnya yang penuh tanah.

"Kami bersihkan sendiri jenazahnya. Sempat tertahan di Polsek, katanya mau divisum. Karena tak kunjung dilakukan, akhirnya dibawa pulang,"katanya.

Bagaimana almarhum  bisa bekerja menjadi buruh tambang di desa terpencil tersebut? Rusminah ibu korban menyatakan sejak remaja anaknya tersebut memang suka merantau.

Sebelum ikut bekerja sebagai buruh tambang di Sungai Durian tersebut pernah juga ikut mendulang di Martapura Kabupaten Banjar.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan di kampung halaman membuat anaknya tersebut berupaya memenuhi kebutuhan keluarga.

Ayahnya, Jirmi juga bekerja sebagai petani. Sampai berkeluarga pun Wahid tetap merantau dan tak mau berhenti bekerja mendulang emas secara manual yang resikonya tinggi tersebut.

"Dia janji akan pulang dan menetap di kampung kalau sudah punya uang yang cukup untuk modal usaha dan menghidupi keluarga,"ungkap Rusminah.

Diceritakan, anaknya tersebut sudah tiga kali gagal berumah tangga dan terakhir menikah dengan Nurislamiyah, istrinya sekarang.

Korban sendiri menurut ibunya anak yang baik dan berbakti. Tiap pulang kampung selalu memberikan uang kepada ibu dan bapaknya serta saudara-saudaranya. Bahkan terakhir pulang, sekitar 2 bulan yang lalu dia terlihat royal mentraktir orang-orang di kampung, meski penghasilan yang dibawa pulang terbilag tak begitu besar.

"Terakhir pulang dia pamit balik ke lokasi tambang sambil minta doakan dan minta Ridho dari saya. Dia membawa salah satu kerudung saya. Hanya untuk diikatkan ke pinggang ketika kangen dengan saya,"tutur Rusminah.

Almarhum sendiri memiliki satu anak dari pernikahan sebelumnya. Namun tersebut tinggal di mantan istrinya. Sedangkan istrinya sekarang baru hamil muda.

Rumah duka orang tua almarhum Abdul Wahid, salah satu korban tanah longsor asal HST di Sungai Durian Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Rumah duka orang tua almarhum Abdul Wahid, salah satu korban tanah longsor asal HST di Sungai Durian Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. ((Banjarmasinpost.co.id/hanani))

Kampung Karuwing Desa Perumahan Kecamatan Labuan Amas Utara adalah dengan akses jalan yang sempit.

Akses ke desa tersebut harus melewati jembatan yang juga sempit di Desa Pamangkeh seberang.

Rumah almarhum dan ibunya itu berada di ujung jalan buntu.

Baca juga: Korban Sebenarnya 17 Orang, 5 Orang Masih Dicari di Longsor Tambang Emas Sungai Durian Kotabaru

Menurut warga setempat sulitnya mencari nafkah di desa membuat para pemuda di sana banyak yang mencari pekerjaan ke daerah lain.

Apalagi potensi lahan pertanian berupa lahan rawa di desa tersebut tak bisa digarap maksimal karena sering diterjang banjir.

Pihak keluarga pun mengakui almarhum bekerja di pertambangan ilegal. Demikian menurut istri korban para pekerja di sana hanya sebagai buruh yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka untuk keluarga. (Banjarmasin post.co.id/hanani)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved