Jendela
Antara Citra dan Kenyataan
Citra dan kenyataan memang tidak selalu sejalan, citra yang ditampilkan biasanya baik, sementara kenyataan tidak selalu demikian
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - “Aku berkaca. Bukan buat ke pesta. Ini muka penuh luka. Siapa punya?” kata Chairil Anwar dalam puisi berjudul “Selamat Tinggal”. Berkaca atau bercermin adalah ungkapan yang sering dipakai untuk introspeksi, melihat dan menilai diri sendiri apa adanya. Namun kala berkaca mau ke pesta, orang akan mencoba menutupi kekurangan yang terlihat di cermin. Lebih-lebih di zaman ponsel ini, ketika kamera dijadikan cermin untuk berswafoto alias ber-selfie. Dengan bantuan teknologi, kerutan, bintik dan jerawat dapat hilang seketika sehingga menghasilkan foto yang mulus jelita.
Manusia memang memiliki dua sisi: pribadi dan sosial. Sisi pribadi adalah diri sebagaimana adanya, diri yang objektif, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sisi sosial adalah diri yang terhubung dengan pribadi yang lain. Dalam hubungan sosial ini, pribadi ingin diterima dan dihargai oleh pribadi-pribadi lain. Karena itu, sang pribadi berusaha menampakkan kebaikan dan kelebihan yang dimilikinya. Kedua sisi kehidupan ini terus menyertai manusia, dari lahir hingga wafat. Kadang kala, orang mengutamakan diri pribadinya dan tak peduli dengan orang lain. Kadang kala sebaliknya, orang rela mengorbankan kecenderungan pribadinya demi mendapatkan penghargaan orang lain.
Jika direnungkan lebih jauh, sesungguhnya cara seseorang menyikapi dan menghubungkan yang pribadi dan sosial itu akan menentukan siapa dirinya dan kualitas hidupnya. Orang yang mampu menemukan dan menghargai kelebihan dirinya sekaligus menerima kekurangannya akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial di sekitarnya. Orang seperti ini akan terhindar dari rasa minder dan gengsi. Ia akan bisa menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang takut kekurangan dirinya diketahui orang lain, akan selalu sibuk menciptakan citra-citra positif, termasuk yang palsu. Ia mau melakukan apa pun demi tepuk tangan dan pujian orang lain.
Dengan demikian, ada diri yang dilihat, dan ada diri yang diperlihatkan. Di era media sosial ini, yang diperlihatkan itu tidak saja dalam tampilan fisik langsung, melainkan juga dalam citra-citra berupa tulisan, foto, dan video sehingga muncullah istilah “pencitraan”. Istilah “pencitraan” selama ini cenderung dimaknai negatif, yakni kepalsuan, kepura-puraan dan kemunafikan. Sebenarnya, pencitraan tidak selalu negatif, tergantung kesesuaiannya dengan kenyataan dan dampaknya pada orang lain. Semakin jauh jarak antara citra dan kenyataan, semakin berpeluang terjadi penipuan. Sebaliknya, jika citra dan kenyataan itu dekat, maka citra itu tidak akan menipu.
Karena itu, tantangan berat dalam hidup manusia adalah berusaha agar citra diri yang baik di depan publik sesuai dengan kenyataan pribadinya. Mungkin ini sebabnya, orang-orang bijak mengatakan, kita perlu mengenali diri sendiri. Bahkan, kaum Sufi mengatakan, siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Ada ulama yang mengajarkan, setiap malam sebelum tidur, orang harus menghitung dan menilai hidupnya. Apa saja yang baik dan buruk yang telah dilakukannya. Orang sekarang menyebutnya introspeksi atau muhasabah. Inilah cara terbaik untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri, serta kesesuaian antara citra dan kenyataan.
Sayangnya, kita mungkin mudah lupa melakukan introspeksi karena kita terus-menerus hidup dalam lingkungan yang penuh pencitraan. Kita tidak hanya sering melihat foto-foto di baliho yang besar-besar, tetapi juga menampilkan diri kita sendiri di media sosial sebaik mungkin. Lama-lama, kita menganggap semua citra adalah kenyataan. Keduanya seolah identik. Ketika pujian datang bertubi-tubi terhadap citra yang kita tampilkan, kita merasa memang benar-benar layak untuk dipuji. Karena kita selalu terhubung dengan dunia citra-citra, terutama melalui ponsel, kita tak punya waktu lagi untuk merenung dan bertafakkur tentang diri, bahkan sebelum tidur sekali pun.
Lebih parah lagi, kita tidak hanya sibuk dan tenggelam dalam citra-citra, melainkan juga sibuk mengurusi citra-citra orang lain. Karena kita sudah tidak lagi bisa menilai diri sendiri secara objektif, maka akan lebih sulit lagi ketika kita menilai orang lain secara objektif. Kita tidak lagi menilai orang lain atas dasar kenyataan, melainkan atas dasar suka atau benci semata. Jika orang itu kita sukai, maka segalanya tampak baik, gula jawa rasa cokelat. Jika orang itu kita benci, maka segalanya tampak buruk. Keburukan sekecil apapun bisa kita lihat, sementara kebaikan sebesar apapun tak mampu kita lihat. Semut di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.
Karena kita tidak mengenali diri sendiri, apalagi orang lain, kita sesungguhnya hidup dalam khayalan belaka, bukan dalam kenyataan. Sayangnya, kenyataan adalah kenyataan. Kita tak bisa menghindari atau lari meninggalkannya. Dalam bahasa Arab, kenyataan juga disebut haqiqah (hakikat), yakni kebenaran. Menyangkal kenyataan berarti menyangkal kebenaran. Akibatnya, semakin jauh jarak antara citra dan kenyataan, semakin besar kekecewaan dan kebencian kita pada hidup. Hidup menjadi penuh keluh kesah dan ketidakpuasan. Alih-alih berusaha menerima atau memperbaiki kenyataan, kita malah menyalahkan kenyataan. Kita juga tak bisa bersyukur atas kenyataan.
Alhasil, citra dan kenyataan memang tidak selalu sejalan. Citra yang ditampilkan biasanya baik atau sangat baik, sementara kenyataan tidak selalu demikian. Tugas kita adalah bagaimana mengubah kenyataan menjadi lebih baik, atau menerima dengan lapang dada kenyataan yang tak dapat diubah. Inilah kiranya dialektika yang sehat antara citra dan kenyataan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)