BPost Cetak

Gempat Cianjur, BMKG Catat Ada 378 Gempa Susulan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan di Cianjur, Jawa Barat terjadi 378 kali

Editor: Hari Widodo
Dok BPost
Banjarmasinpost Edisi Minggu (4/12/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) mencatat gempa susulan di Cianjur, Jawa Barat terjadi 378 kali.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam agenda diskusi Menyoal Mitigasi dan Penanganan Bencana di Jakarta, Sabtu (3/12).

“Update gempa susulan hampir dua pekan sampai pagi ini pukul 10.00 WIB itu sudah 378 gempa,” kata Daryono.

Menurutnya, gempa susulan yang paling besar tercatat berkekuatan Magnitude (M) 4,1 dan yang paling kecil berkekuatan M 1,0. Daryono menjelaskan gempa susulan mayoritas bermagnitudo 2,0 di wilayah Cianjur.

“Gempa kerak dangkal sekitar 5 kilo tapi ini dirasakan padahal dangkal sekali,” katanya.

Dia menambahkan kekuatan gempa di Cianjur semakin melemah, kemudian frekuensi gempa sudah jarang terjadi. “Kekuatan gempa melemah dan frekuensi tidak banyak seperti di awal,” imbuh Daryono.

Daryono menyampaikan gempa Cianjur merupakan peringatan penting  bahwa di Indonesia ternyata masih banyak sesar aktif yang mampu memicu gempa kuat dan merusak dan belum terpetakan sumbernya.

“Untuk itu kegiatan identifikasi sumber gempa sesar aktif dan pemetaannya harus terus digalakkan,” katanya.

Dalam catatan teranyar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia akibat bencana gempa Cianjur lebih dari 300 orang. BNPB beserta sejumlah elemen pun masih melakukan pencarian korban hilang.

BNPB juga mencatat korban luka berat sebanyak 593 orang, dan yang masih dirawat di rumah sakit sebanyak 59 orang. 

Kemudian, jumlah pengungsi 114.683 orang, dan kerugian materil rumah rusak yang tervalidasi sebanyak 29.985 unit rumah.

Penyaluran Bantuan Terkendala Founder Sekolah Relawan Bayu Gautama dalam diskusi yang sama mengungkapkan kendala para relawan menyalurkan bantuan untuk para pengungsi.

Menurut Bayu, antusiasme dari masyarakat yang ingin membantu para korban justru menimbulkan kemacetan di jalur menuju titik terparah gempa.

“Masyarakat-masyarakat yang menyampaikan langsung bantuan sehingga itu menyebabkan kemacetan,” katanya.

Dia menilai pentingnya aturan yang kuat agar penyaluran logistik bantuan dikumpulkan dalam satu naungan.

Hal ini agar tidak menimbulkan hambatan-hambatan akses menuju pengungsian korban gempa.

“Ke depan semoga pihak-pihak terkait, stakeholder seperti BNPB atau pemerintah bisa melakukan regulasi yang itu menyetop seluruh yang tidak berkepentingan agar tidak menyulitkan tim di lapangan,” tuturnya. (Tribun Network/Rey)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved