Jendela

Jalan Pagi

Kata orang, jauh berjalan, banyak yang dilihat. Kami berjalan tidaklah jauh, tetapi yang dilihat lumayan beragam.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEJAK sepuluh tahun lalu (2012), saya dan isteri cukup rutin berolahraga pagi dengan jalan kaki di akhir pekan, dari rumah hingga ke kawasan Pasar Lama atau Siring Pierre Tendean, Banjarmasin. Sekitar dua tahun terakhir, kami berjalan hanya sampai di Kampung Melayu. Saya memang kurang menyukai olahraga bertanding, kalah-mengalahkan dalam permainan. Selain cukup berat, model bertanding itu bagi saya menegangkan. Dalam olahraga, yang penting tubuh bergerak dan berkeringat agar sehat.

Kata orang, jauh berjalan, banyak yang dilihat. Kami berjalan tidaklah jauh, tetapi yang dilihat lumayan beragam. Kami menyaksikan bagaimana perbaikan saluran air di sekitar Pasar Kuripan hingga Jalan Veteran. Banjir yang melanda Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin pada Januari 2021 telah memberi pelajaran bahwa drainase harus diurus dengan baik. Ini suatu perkembangan positif. Namun, sebagian masyarakat masih membuang sampah sembarangan, baik di saluran air atau sungai. Padahal, perubahan iklim dunia membuat permukaan air makin naik. Banjir rob mulai sering terjadi di kota ini. Jika saluran air tak berfungsi, air akan lambat turun.

Yang sangat membuat kami tersentuh adalah orang-orang yang mulai aktif bekerja mencari nafkah di pagi yang dingin dan berembun itu. Ada yang lalu lalang membawa barang dagangan dengan naik sepeda, sepeda motor atau mobil pengangkut. Ada pula yang menggelar meja atau gerobak di tepi jalan, menyiapkan nasi bungkus dengan harga murah. Ada lagi yang menjual makanan seperti nasi kuning, bubur, ketupat dan kue di warung khusus. Ada yang menjual gorengan, seorang diri di pojok jalan, hanya bermodalkan meja kardus. Ada lagi yang menggelar lapak, menjual buah. Kebanyakan penjual itu adalah ibu-ibu, bukan bapak-bapak. Kebanyakan juga sudah tua, bukan anak muda.

Menyaksikan orang-orang yang rajin bekerja, mencari rezeki yang halal, meskipun hasilnya tidak seberapa, membuat kami terkesan dan kagum. Berkat mereka, masyarakat dapat membeli makanan yang relatif enak dan bergizi dengan harga terjangkau. Andai semua makanan hanya bisa didapatkan di mal atau restoran, tentu banyak orang yang tak sanggup membelinya. Kami tidak tahu, berapa keuntungan yang didapat dari sebungkus nasi seharga Rp 10.000. Yang pasti tidak banyak. Bagi mereka, yang penting laku, meski keuntungannya sedikit. Lebih penting lagi, keuntungan itu halal, sehingga mendatangkan berkah, yakni kebaikan yang berlimpah ruah.

Kadangkala, kami juga mampir di Pasar Kuripan. Sambil berbelanja, saya suka mengamati perilaku pedagang dan pembeli. Di pasar rakyat ini, suasana memang khas. Di sudut tertentu, tercium bau apek dan anyir yang menyengat. Jalan yang becek dan sempit. Toko-toko berhimpitan dengan kabel-kabel listrik yang semrawut. Namun, semua itu tak mengurangi keindahan interaksi antar manusia. Kalau didengarkan serentak, berbagai suara di pasar itu seperti gaduh. Padahal, kalau dicermati, mereka sesungguhnya saling bertanya, tawar-menawar dan bercanda. Suasana terasa sangat egaliter. Lelaki-perempuan, Muslim atau bukan, berjilbab atau tidak, semua sama saja.

Apakah perilaku ekonomi mereka berhubungan dengan etika keagamaan, sebagaimana yang pernah diteorikan oleh Max Weber? Mungkin saja. Agama mengajarkan bahwa mencari nafkah adalah kewajiban, sehingga orang terdorong bekerja sebagai tanggung jawab hidup. Jika pendapatan lebih dari kebutuhan sehari-hari, maka akan ditabung. Kalau sudah banyak, bisa digunakan untuk pergi umrah atau haji. Mereka tidak berpikir soal investasi dan memperbesar kapital. Hidup ini untuk bekerja dan beribadah, beribadah dan bekerja. Keduanya sama sekaligus berbeda. Mereka tampaknya tidak melahirkan kapitalisme sebagaimana tesis Weber.

Di sisi lain, boleh jadi motivasinya sederhana, bukan nilai-nilai agama, melainkan desakan kebutuhan ekonomi belaka. Entah agama menyuruh atau tidak, kalau tidak bekerja dan mencari nafkah, nanti mau makan apa? Jika pun ada nilai yang menjadi landasan perilaku ini, maka nilai itu tak lain adalah materialisme dalam arti kita memang membutuhkan materi untuk hidup. Nilai-nilai ruhani seperti agama, bahkan sains, teknologi dan seni, sangat tergantung pada kondisi material kita. Inilah kurang lebih teori Karl Marx. Sangat membumi dan mendarah daging. Namun justru karena itu, Marx mengingatkan bahwa penindasan yang kuat terhadap yang lemah adalah karena materi.

Di pasar, tempat segala macam manusia datang dan pergi, tentu membuka banyak kemungkinan motivasi di balik perilaku manusia. Kejujuran dan kecurangan, keduanya ada di pasar. Keserakahan dan kesyukuran, juga ada di pasar. Yang penting barangkali adalah, perilaku manusia merupakan cermin bagi manusia lainnya. Bagi yang berpenghasilan tetap dan lumayan seperti Aparatur Sipil Negara, sudah selayaknya bersyukur dibanding para pedagang kecil itu. Mereka pun harus malu, lebih-lebih para pejabat, jika melakukan korupsi. Orang yang mengais rezeki rupiah demi rupiah melalui jalan yang halal tentu jauh lebih mulia dari orang kaya yang culas dan korup.

Di sisi lain, kita berharap, suatu hari pasar rakyat dapat dibuat semakin nyaman. Lingkungannya bersih, tertata dan aman. Ini dapat terwujud jika pemerintah dan para pedagang dapat bersinergi, bekerjasama. Kadangkala pemerintah ingin membangun, pedagang ribut dengan berbagai alasan. Sebaliknya, kadangkala pemerintah kurang memerhatikan hak-hak pedagang. Begitu pula soal selokan dan sungai. Kadangkala pemerintah sudah membangun saluran air, tetapi masyarakat justru membuang sampah ke situ. Sebaliknya, kadangkala proyek selokan tidak dikerjakan dengan baik sehingga mudah rusak dan tidak berfungsi.

Alhasil, daripada saling menyalahkan, lebih baik mengaca diri, melakukan introspeksi. Seperti olahraga jalan kaki, untuk sehat, kita tak perlu bertanding dan saling mengalahkan, bukan? (*)

  • Berita Terkait :#Jendela
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved