Opini
Tren Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham
Dalam beberapa kasus keduanya memiliki pergerakan yang searah. Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh otoritas moneter dan fiskal untuk membalikkan
Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf
Dosen FEB Unhas dan Chairman ASEAN Competition Institute – ACI
BANJARMASINPOST.CO.ID - TREN pelemahan nilai tukar rupiah perdolar dan fenomena all-time high (ATH) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menarik untuk dianalisis.
Penyebanya, IHSG beberapa kali mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak 15 Agustus 2025 menjadi 8.017.
Kemudian, pada saat yang sama, nilai tukar rupiah per dolar AS juga terdepresiasi hingga awal tahun 2026.
Nilai tukar rupiah per dolar AS pada 14 Agustus 2025 tercatat sangat kuat, yaitu sebesar Rp 16.170 per dolar AS lalu melemah menjadi Rp 16.770,7 pada 25 September 2025 (Trading Economics, 2026).
Tren pelemahan rupiah per dolar AS dan penguatan IHSG berlanjut hingga Selasa, 13 Januari 2026. Di mana, kurs rupiah per dolar AS menyentuh titik terendah sejak 8 April 2025, yaitu sekitar Rp 16.875 per dolar AS. Sebaliknya, IHSG mengalami tren penguatan, yaitu dari level terendah sebesar 5.675 pada 8 April 2025 dan tertinggi sebesar 8.954 pada 8 Januari 2026.
Fenomena ini melahirkan pertanyaan, mengapa nilai tukar rupiah per dolar AS melemah pada saat IHSG menguat? Dalam beberapa kasus keduanya memiliki pergerakan yang searah. Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh otoritas moneter dan fiskal untuk membalikkan arah pelemahan rupiah?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya merujuk pada ekonom senior Jeffrey A. Frankel dari Kennedy School of Government, Harvard University yang memperkenalkan komsep “portofolio balance approach models”.
Pendekatan Frankel menyebutkan bahwa pada saat terjadi tekanan, investor global akan melakukan rebalancing atau rekalkulasi kepemilikan asset keuangannya dan cenderung lebih memilih asset keuangan yang menawarkan tingkat pengembalian tertinggi. Setiap asset dinyatakan dalam mata uang lokal.
Di mana, investor global dianggap memiliki perilaku home country bias (mendahulukan asset keuangan negaranya sendiri). Lebih jauh, asset keuangan domestik dan luar negeri tidak bersubtitusi secara sempurna (imperfect substitute).
Dalam regim nilai tukar mengambang bebas, kenaikan harga asset di suatu negara, misalnya IHSG akan mendorong investor global membeli saham di negara bersangkutan. Hal di atas mendorong aliran modal masuk ke suatu negara (capital inflow) yang menyebabkan mata uang negara bersangkutan terapresiasi (menguat).
Sebaliknya, pada saat harga asset keuangan turun membuat investor global mengalihkan investasinya ke negara lain. Terjadi aliran modal keluar (capital outflow) yang menyebabkan mata uang negara bersangkutan terdepresiasi (melemah).
Secara faktual, perkembangan harga saham tidak harus selalu searah dengan perkembangan nilai tukar rupiah per dolar AS. Hal ini berkaitan dengan peran investor asing di pasar modal Indonesia yang cenderung mengalami penurunan.
Saat ini, investor asing hanya menguasai sekitar 40 – 43,6 persen dari total kepemilikan saham pada tahun 2025, turun dari 46,5 persen pada tahun 2024. Di mana, perilaku investor asing pada umumnya cenderung hanya membeli saham blue-chip yang berkapitalisasi besar, seperti Bank BRI, BNI, Bank BCA, Bank Mandiri dan lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Muhammad-Syarkawi-Rauf-4.jpg)