Kampusiana

Tim FK ULM Kalsel Upaya Turunkan Stunting dan Wasting pada Anak

Tim Departemen Gizi Kesehatan FK ULM Kalsel menggelar pengabdian kepada masyarakat untuk bantu cegah dan turunkan stunting.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
MUHAMMAD IRWAN SETIAWAN UNTUK BPOST
Seorang anak ditimbang pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diadakan Tim Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Masalah kurang gizi, yaitu stunting, dan penurunan berat badan atau wasting harus jadi perhatian orangtua dan masyarakat. Sebab, bisa berakibat pada penurunan kualitas generasi bangsa.

Stunting merupakan tinggi badan yang rendah menurut usia anak atau gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi yang parah (kronis) dan infeksi yang persisten sehingga anak menjadi pendek atau sangat pendek. 

Stunting harus diwaspadai dengan memastikan asupan gizi anak terpenuhi, terutama kebutuhan terhadap zat gizi protein pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Wasting adalah kondisi anak yang berat badannya menurun seiring waktu, hingga jauh di bawah standar kurva pertumbuhan atau berat badan berdasarkan tinggi badannya rendah (kurus) dan menunjukkan penurunan berat badan (akut) dan parah. 

Mengurangi kejadian kurang gizi, sekaligus meningkatkan status gizi balita, Tim Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (FK ULM) menggelar pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga: Kebakaran di HSS, Satu Unit Rumah Terbakar di Desa Lungau

Baca juga: Ditinggal ke Pasar, Satu Rumah di Desa Karya Maju Batola Ludes Dilalap Api

Baca juga: Kebakaran di HSS, Satu Unit Rumah Terbakar di Desa Lungau

Disampaikan Muhammad Irwan Setiawan, pelaksana program, mengenai hasil penilaian status gizi balita di Kota Banjarbaru pada 2018,.

Diketahui bahwa wilayah kerja Puskesmas Guntung Payung Kecamatan Landasan Ulin memiliki prevalensi wasting balita sebesar 72 persen. Melebihi prevalensi nasional dan masuk dalam kategori serius. 

"Walaupun terjadi penurunan, stunting dan wasting masih dianggap masalah serius, melihat dampaknya yang dapat mengganggu perkembangan fisik dan kognitifnya, risiko penyakit infeksi dan non-infeksi seperti obesitas, jantung koroner dan diabetes melitus juga terjadi pada anak stunting," papar Irwan, Rabu (14/12/2022).

Kedua masalah gizi tersebut jika tidak ditangani akan menimbulkan masalah yang lebih besar, bangsa Indonesia dapat mengalami lost generation (hilangnya generasi). 

Kondisi ini  akan berpengaruh terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Padahal, status gizi balita merupakan salah satu indeks pembangunan manusia (IPM).

Baca juga: Hasil Peneliti Arkeologi BRIN Kalsel atas Benda Diduga Antik di Sungai Rangas Kabupaten Banjar

Baca juga: Jaksa KPK Akan Hadirkan Isteri Mantan Bupati Tanbu Mardani Maming sebagai Saksi di Persidangan

Baca juga: Massa Demo Tolak KUHP di Banjarmasin Bubar, Mahasiswa Janji Kembali Gelar Aksi Lanjutan Pekan Depan

Periode emas balita akan susah dicapai jika asupan gizinya kurang dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan seperti pada Permkenkes No.28 Tahun 2019.

"Selain ASI Ekslusif, balita usia diatas 6 bulan sangatlah perlu diberikan MP-ASI dengan prinsip makanan lengkap yang terdiri dari: sumber karbohidrat, protein hewani, nabati, dan sayuran/buah-buahan," bebernya.

Program pengabdian ini dilatarbelakangi hasil penelitian status gizi balita pada 2018 di Kota Banjarbaru. Prevalensi wasting pada balita sebanyak 9 persen dan stunting sebesar 19 persen.

Pada pengabdian masyarakat itu, para Ibu balita di Posyandu Ciptasari, Kelurahan Guntung Payung, antusias mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved