Fikrah
Ayat-ayat Allah
Dengan alam itu Allah ingin menampakkan tanda-tanda kekuasaannya, kebesarannya kehebatannya dan wujud keberadaannya.
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - KETIKA kita berada di alam arwah, ketika kita sudah diciptakan Tuhan, Allah lalu bertanya, “Alastubirabbikum.” Artinya bukan kah aku ini Tuhan kamu? Lalu kita menjawab, “Balasyahibna.” Artinya ia kami menyaksikan bahwa engkau adalah Tuhan kami. Pada waktu itu Tuhan tidak bertanya siapa aku karena kalau dia bertanya begitu kita tidak tahu siapa dia. Maka dia langsung bertanya siapakah aku ini dan kita bertanya engkau adalah Tuhan kami, kami menyaksikannya. Setelah alam semesta tercipta, tiada lain adalah dengan alam itu Allah ingin menampakkan tanda-tanda kekuasaannya, kebesarannya kehebatannya dan wujud keberadaannya.
Dalam kesempatan ini kita akan salinkan Surah Al Baqarah ayat 162 yang berbunyi, “Innafi khalkissamawatiwal ard walfulkiyati tazri filbahri bima yanfauna sa laayati likaumin yukinun.” Artinya sesungguhnya penciptaan langit dan bumi adalah tanda-tanda bagi orang yang mau beriman, keberadaan Tuhan bagi orang yang percaya, demikian pula kapal yang berlayar di lautan membawa apa yang berguna bagi manusia. “Wabasafiha minkulli dabbah.” Artinya dan berkeliarannya hewan hewan. “Watasrif.” Artinya dan bertiupnya angin, “Wasahabil musakhari baina sama watiwan ardi.” Artinya dan bertiupnya angin antara langit dan bumi. “Laayatin likaumi yukinun.”
Selanjutnya di ujung surah Ali Imran Allah menerangkan lagi betapa tanda-tanda kebesarannya, di mana ayat-ayat ini disunnahkan untuk dibaca sebelum sholat tahajjud sampai melihat ke atas langit. Ayat itu berbunyi, “Innafi khalkissama watiwal ardi.” Artinya sesungguhnya kejadian langit dan bumi. “Waktila filaili wannahari.” Artinya dan bergulirnya malam dan siang. “Laayati liulli albab.” Artinya dan merupakan tanda-tanda bagi orang-orang yang mau membuka akal dan pikirannya. Mereka itu adalah “Alladzina yazkurunaullaha kiyaman wakuudan waala zunubihim wayatafakkaruna fi khalkissamawatiwal ard laayatil liulil albab.” Artinya yaitu mereka yang mau menyebut nama Allah jika ia berdiri, dikala ia duduk dan dikala ia berbaring. Lalu mereka berkata “Rabbana makalakhta haja batila.” Artinya wahai Tuhan segala sesuatu ini tidak ada yang engkau ciptakan sia-sia.
“Subhanaka fakina azabannar.” Artinya wahai Tuhan kami Maha Suci engkau hindarkan kami dari siksa neraka. “Rabbana waatina ala rusulika walatukhzina yaumal kiyamati inna kala tukhliful miad.” Artinya wahai Tuhan kami engkau memasukkan orang-orang ke dalam neraka sehingga engkau hinakan adapun kami mohon jangan engkau hinakan kami. “Innaka latukhliful miad.” Artinya engkau tidaklah menyalahi janji. “Rabbana innana samina munadiyan liliman faamanna.” Artinya ya Allah kami mendengar panggilan untuk beriman kepadamu maka kami pun beriman. “Wama lijalimina min ansar.” Artinya bagi orang-orang yang zalim tidak ada penolongan. “Fastajabnalahu wanajaynahu innakala tukhliful miad.” Artinya panggilan untuk beriman kamipun beriman, sesungguhnya engkau tidaklah menyalahi janji.
“Badukum min bad.” Artinya sebagian kami adalah keturunan yang lain. “Walladzi nahajaru waukhribu mindiyarihim fakatalu wakutilu walaukappiran lahum syaiatihim waadkilanahum jannatin tajri mintahtihal anhar.” Artinya adapun orang-orang yang beriman dan berhijrah, kami ampunkan dosa-dosa mereka dan kami masukkan ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalam nya. “Radiyaullahu anhum waruda an.” Artinya mereka meridhoi Tuhan mereka dan Tuhan pun meridhoi mereka.
“Jalika liman khasiya rabbah” Artinya demikian lah orang-orang yang meridhai Tuhan mereka. “Waradu anhu” Artinya dan Tuhan pun ridha kepada mereka. “Innalladzi nakafaru minahlil kitabi walmusrikina ula ika ashabunnari humfiha khalidun ulaika hum syarlul bariyah.” Artinya mereka itulah ahli neraka yang kekal di dalamnya merekalah sejahat-jahat manusia. “Innalladzi naamu waamilussalihati ulaika khairul bariyah.” Artinya dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh merekalah manusia yang paling baik.
“Jajauhu inda rabbihim jannatun tajri mintahtihal anhar radiyaulahu anhum waradu an jalika liman khasiya rabbah.” Artinya dan mereka meridhoi Tuhan mereka dan demikian lah orang-orang yang meridhoi Tuhan mereka dan Tuhan pun ridho kepada mereka. “Jazauhum inda rabbihim jannatun tajri min tahtihal anharu khalidina fiha radiyaulahu anhum waradu anh jalika man khasiya rabbah” Artinya balasan mereka adalah surga yang mengalih di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya demikain lah orang-orang yang meridhoi Tuhan mereka sebagai Tuhan dan Tuhan pun meridhoi mereka.
Demikianlah ayat-ayat ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dibaca sambil melihat langit dan alam semesta, barulah setelah itu mereka melaksanakan tahajjud sesukanya. Allah SWT berfirman “Waminallaili watahajjatbihi nafilatallah asa ayyab’an yabasaka rabbuka makanan mahmuda.” Artinya dan di waktu malam bertahajjudlah engkau sesukanya sebagai ibadah tambahan niscaya Allah mengangkat kamu kepada derajat yang mulia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)