Jendela
Tiga Permintaan
Sukses dalam arti kaya, berkuasa dan terkenal, adalah alat belaka, untuk mencapai tujuan hidup yang lebih mulia.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - SAYA masih usia sekolah dasar. Sore itu, saya ikut orang-orang di kampung kami, tua-muda, pria-wanita, beramai-ramai ke masjid. Mereka ingin melaksanakan ibadah malam Nisfu Syakban. Kami salat Maghrib dan membaca wirid seperti biasa. Kemudian, ada salat sunah berjemaah dan membaca Surah Yasin tiga kali berturut-turut. Esok harinya, kami berpuasa sunah. Karena mengalaminya sejak kanak-kanak, tradisi ini begitu lekat di hati saya, meskipun saya tidak begitu paham maknanya. Setelah dewasa, saya baru mencoba menafsirkannya.
Bagi kaum Muslim tradisionalis, malam Nisfu Syakban dipercaya sebagai waktu yang sakral karena di malam itu catatan amal manusia akan ditutup dan catatan baru akan dibuka. Karena itu, sebelum memulai membaca Surah Yasin, jemaah memohon kepada Tuhan secara berurutan: pada kali pertama, minta diberi umur panjang dalam iman dan taat; pada kali kedua, minta diberi rezeki yang halal, dan pada kali ketiga, minta diberi husnul khatimah. Tiga permintaan ini mencerminkan nilai-nilai utama dalam hidup seorang Muslim. Jika ketiganya didapat, maka sempurnalah hidupnya.
Menurut pakar psikologi dan penggagas logoterapi, Viktor Frankl, manusia akan mampu bertahan menghadapi penderitaan jika dia menemukan tujuan mengapa dia harus bersabar menyandang penderitaan itu. Tujuan itulah yang memberi makna bagi hidupnya. Frankl pernah ditahan oleh NAZI dalam kamp konsentrasi dan menemukan bahwa para tahanan yang sudah kehilangan harapan dan tujuan hidup untuk diperjuangkan, cenderung mati karena sakit atau dieksekusi. Sebaliknya, tahanan yang memiliki harapan dan cita-cita, cenderung kuat dan selamat.
Sejak ribuan tahun, orang-orang bijak menekankan betapa penting bagi manusia untuk memahami siapa dirinya, dari mana ia berasal, apa yang harus dilakukannya di dunia ini, dan ke mana kelak dia setelah mati. Salah seorang ulama perempuan dan pakar psikologi, Zakiyah Daradjat, mengatakan bahwa orang yang normal dan bahagia adalah orang yang menyadari apa tujuan hidupnya dan menghayati tujuan hidup tersebut. Hidup tanpa tujuan adalah laksana kapal tanpa kompas, tak tentu arah, dan dipermainkan ombak dan angin. Cepat atau lambat, kapal itu akan tenggelam.
Apakah tujuan hidup itu? Mengutip Huston Smith dalam TheReligons of Man, pada titik terendah, manusia mengejar kenikmatan. Dia ingin memakan makanan dan minuman yang enak. Dia ingin pakaian yang lembut dan melindungi dari dingin dan panas. Dia ingin tempat tinggal yang nyaman untuk beristirahat. Dia juga ingin kenikmatan seksual. Namun, kenikmatan itu sangat terbatas sehingga jika dijadikan tujuan hidup, dia akan kecewa. Berapa banyak manusia sanggup menelan makanan, memakai pakaian atau menempati ruang? Berapa lama hubungan seks berlangsung?
Karena itu, setelah mendapatkan kenikmatan, kata Smith, manusia ingin mencari sesuatu yang lebih langgeng. Pada taraf inilah dia menginginkan ketenaran, kekayaan dan kekuasaan. Orang modern menyebutnya ‘sukses’. Manusia mulai menumpuk harta melebihi keperluannya sendiri. Dia juga merebut kekuasaan yang digunakannya untuk menambah kekayaan. Ketika sudah kaya dan berkuasa, dia pun masih belum puas. Dia ingin pula menguasai hati manusia. Dia ingin dipuja, dijadikan idola, menjadi tokoh yang tenar, terkenal. Dalam ungkapan sekarang, dia ingin viral.
Sampai di situ, manusia kadangkala terhenti. Dia merasa sudah mencapai tujuan hidupnya. Bagi kebanyakan orang, itulah hidup yang bahagia. Padahal, nafsu manusia tak pernah puas. Semakin banyak pendapatan, semakin banyak pula daftar keinginan. Sudah tinggi jabatan, masih ingin lebih tinggi lagi. Sudah terkenal, ingin lebih terkenal lagi. Ini sebabnya, setiap sukses akan mengundang persaingan. Sukses selalu berada dalam ancaman untuk jatuh, dikalahkan oleh yang lain dalam merebut kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Sukses memicu dengki, dendam dan permusuhan.
Karena itu, menjadikan sukses sebagai tujuan hidup adalah kesalahan. Sukses dalam arti kaya, berkuasa dan terkenal, adalah alat belaka, untuk mencapai tujuan hidup yang lebih mulia. Tujuan itu adalah, mendatangkan manfaat bagi kehidupan. Manfaat artinya mendatangkan kebaikan. Kebaikan itu untuk diri sendiri, orang lain, alam lingkungan hingga kepada Tuhan. Inilah hidup yang dalam bahasa agama disebut beramal saleh, berbuat baik, atau dalam doa Nisfu Syakban disebut “umur panjang dalam iman dan taat” kepada Tuhan. Rezki yang halal, adalah penopang hidup tersebut.
Namun, dalam perjuangan untuk hidup bermanfaat itu, manusia akan terbentur kenyataan. Betapa pun besar keinginannya untuk membantu yang lemah, mendidik yang bodoh, mengembangkan ilmu dan teknologi, manusia tetap memiliki pengetahuan dan kemampuan yang terbatas. Hidupnya juga dibatasi oleh ruang dan waktu. Sudah pasti, tidak semua yang diinginkan manusia dapat terwujud, termasuk berbagai keinginannya untuk berbuat baik, memberi manfaat bagi kehidupan. Kesadaran inilah yang akhirnya membawa manusia kepada Tuhan Yang Maha Tak Terbatas.
Jika kesadaran manusia sudah sampai di tingkat ini, maka dia telah menemukan tujuan hidupnya yang hakiki. Dari Tuhan dia berasal, dan kepada-Nya dia kembali. Inilah yang disebut ‘husnul khatimah’ atau akhir yang baik dalam doa Nisfu Syakban. Akhir yang baik itu adalah ketika manusia kembali kepada-Nya dengan hati yang lapang, ridha dan diridhai-Nya. Inilah penutup yang manis dan indah bagi hidup yang dilandasi iman, diisi perbuatan baik dan ditopang rezeki yang halal, bukan? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)