Jendela

Fenomena Bukber

Makan di restoran bersama keluarga atau kolega mulai menjadi gaya hidup, seiring dengan tumbuhnya kelas menengah di masyarakat kita

Editor: Hari Widodo
istimewa
Mujiburrahman 

Siapa yang bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan itu? Negara dan masyarakat. Negara melalui pengelolaan pajak, harus dapat menyalurkan bantuan dan perlindungan bagi warganegara yang lemah dan miskin. Karena itulah, di negara-negara makmur, kaum miskin dan pengangguran menerima ‘gaji’ dari pemerintah sebesar untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Selain itu, masyarakat melalui lembaga-lembaga filantropi, juga membantu orang-orang yang lemah itu. Mereka menyediakan tempat tinggal, makanan, pakaian hingga memberi pelatihan dan pekerjaan.

Di negara kita, pajak tentu ditarik dari rakyat, dan dengan pajak itu pemerintah membangun dan membantu masyarakat. Namun, kasus-kasus besar yang terkuak hingga yang baru-baru ini terjadi tampaknya menunjukkan bahwa pengelolaan pajak kita masih perlu banyak pembenahan.

Di sisi lain, masyarakat juga mengelola bantuan-bantuan sosial, yang dalam Islam disebut zakat, infaq, sedekah hingga wakaf. Kini, negara pun turut serta dalam pengelolaan berbagai bantuan itu melalui lembaga BAZNAS dan BWI. Semua ini adalah saluran untuk mewujudkan solidaritas dan kebersamaan.

Agama, kata Emile Durkheim, adalah penghadiran kebersamaan (collective representation), melalui simbol dan ritual. Pakaian muslim-muslimah misalnya, adalah simbol. Ibadah puasa, berbuka hingga tarawih, adalah ritual.

Melalui simbol dan ritual itu, agama berfungsi sebagai perekat sosial yang kuat. Ada rasa kebersamaan, menyatukan individu-individu yang berbeda, dalam kesadaran yang sakral. Karena itulah, agama pada dasarnya bersifat komunal, berkelompok, berjemaah. Pengalaman keagamaan mungkin bersifat personal, tetapi ikatan keberagamaan tetaplah bersifat komunal.

Fenomena berbuka bersama kiranya menunjukkan kebersamaan yang kuat itu. Namun, di situ pula kita saksikan kesenjangan yang masih nyata.

Selama Ramadan, berbagai sumbangan dan bantuan untuk mereka yang membutuhkan relatif mengalir lancar, yang mungkin dapat menjadi penyembuh atas luka-luka kesenjangan yang ada. Namun, seberapa sembuhkah luka-luka itu? Di luar Ramadan, boleh jadi kita kurang peduli. ‘Kita’ di sini adalah negara dan masyarakat.

“Kita tidak ingin masyarakat kita mengalami kesenjangan yang tajam. Kita berangan-angan, berbuka di restoran atau masjid tidak lagi menjadi pilihan karena perbedaan isi kantong, melainkan karena pilihan bebas. Kita berharap, mayoritas masyarakat kita hidup sejahtera, sementara yang lemah dan berkekurangan hanya sedikit, sehingga lebih mudah dibantu.” (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved