Jendela

Fenomena Bukber

Makan di restoran bersama keluarga atau kolega mulai menjadi gaya hidup, seiring dengan tumbuhnya kelas menengah di masyarakat kita

Editor: Hari Widodo
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SORE Sabtu lalu, saya mengisi siaran di TVRI Kalsel. Setelah kegiatan selesai, saya bergegas pulang, ingin berbuka puasa di rumah. Ketika keluar dari halaman kantor TVRI, saya terkejut melihat deretan mobil dan sepeda motor yang padat. Padahal, waktu berbuka sudah dekat, sekitar 20 menit lagi.

Biasanya pada waktu seperti itu, jalanan sudah sepi. Orang-orang sudah berkumpul di tempat masing-masing. Saya mencoba mengamati, apa gerangan yang terjadi? Ternyata, banyak orang ke luar untuk berbuka di restoran. Hampir semua restoran yang saya lewati penuh pengunjung!

Berbuka di luar rumah bisa dilihat sebagai wujud kebersamaan dan solidaritas. Dulu ketika saya masih kanak-kanak tahun 1980-an di kampung, berbuka bersama umumnya hanya dilaksanakan di langgar atau masjid. Biasanya, panitia mengumumkan biaya minimum untuk sekali berbuka.

Orang-orang yang berminat, silakan memberi sumbangan. Hanya sesekali kami diundang berbuka di rumah tetangga, yang kebetulan mengadakan haul keluarganya yang telah meninggal. Saya masih ingat betapa senangnya kami menikmati daging angsa yang dimasak untuk acara haul tersebut.

Bagaimana dengan berbuka di restoran? Waktu itu, nyaris tak pernah saya mendengarnya. Apalagi berbuka di restoran bersama keluarga, meninggalkan rumah. Fenomena ini muncul belakangan, khususnya di masyarakat perkotaan, tidak hanya di ibukota provinsi, melainkan juga di ibu kota kabupaten.

Makan di restoran bersama keluarga atau kolega mulai menjadi gaya hidup, seiring dengan tumbuhnya kelas menengah di masyarakat kita. Mungkin mereka sudah bosan dengan masakan sendiri, atau sudah malas memasak. Mungkin pula sekadar ingin bersenang-senang.

Dengan demikian, fenomena berbuka bersama di luar rumah menunjukkan perbedaan kelas sosial sekaligus solidaritas antar kelas. Perhatikanlah orang-orang yang datang ke masjid dan musala, yang menerima sajian berbuka gratis. Mereka umumnya berasal dari kelas menengah ke bawah, atau para pelajar dan mahasiswa di perantauan.

Bantuan dari kalangan yang mampu untuk biaya berbuka tersebut adalah wujud dari solidaritas sosial. Bantuan itu mungkin didorong oleh ajaran agama tentang kewajiban membantu yang lemah dengan janji pahala yang besar di bulan Ramadan.

Di sisi lain, orang-orang yang mampu, atau yang kurang mampu tetapi memaksa diri untuk mengikuti gaya hidup kelas menengah, tetap tak bisa ditahan untuk menyalurkan hasrat konsumtif mereka. Dari segi ekonomi, hal ini tentu positif.

Ketika kaum berduit rajin berbelanja, termasuk makan-makan di restoran, maka roda ekonomi akan berputar kencang. Konon, bagi kaum kapitalis, tingkat konsumsi menunjukkan tingkat kesejahteraan. Meskipun agama mengatakan inti puasa adalah pengendalian hawa nafsu, pada saat yang tepat, nafsu konsumtif atas nama agama tetap bisa disalurkan.

Secara ideal, kita mencita-citakan sebuah masyarakat yang adil dan makmur. Salah satu makna adil adalah seimbang, tidak jomplang. Jadi, kemakmuran atau kesejahteraan yang kita cita-citakan adalah yang adil, seimbang dan merata.

Kita tidak ingin masyarakat kita mengalami kesenjangan yang tajam. Kita berangan-angan, berbuka di restoran atau masjid tidak lagi menjadi pilihan karena perbedaan isi kantong, melainkan karena pilihan bebas. Kita berharap, mayoritas masyarakat kita hidup sejahtera, sementara yang lemah dan berkekurangan hanya sedikit, sehingga lebih mudah dibantu.

Inti soalnya mungkin adalah ketepatan meletakkan persaingan di satu sisi, dan kebersamaan di sisi lain. Dalam bekerja dan berusaha, persaingan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih banyak dapat menjadi bahan bakar yang menggerakkan manusia.

Inilah segi positif dari persaingan. Namun, dalam kenyataan, tidak semua orang siap dan mampu untuk bersaing dan bertanding. Jika mereka yang lemah dibiarkan tanpa perlindungan, maka mereka sudah pasti akan kalah. Di sinilah diperlukan solidaritas dan kebersamaan. Yang kuat membantu dan melindungi yang lemah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved