Fikrah

Takdir Ilahi

Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua Umum MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Takdir Ilahi adalah salah satu dari enam rukun iman Islam Suni, (bersama dengan keyakinan akan Keesaan Allah, Kitab-Kitab yang diturunkan, para Nabi Islam, Hari Kebangkitan dan para malaikat).

Konsep ini juga telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai “Ketetapan” Allah. Karena banyak hal yang terjadi sebagai bagian dari ketetapan Allah adalah buruk/jahat, “kehendak Allah” dapat dibagi menjadi dua macam—kehendak universal (segala sesuatu yang terjadi dan “kehendak legislatif”, apa yang Allah perintahkan kepada manusia untuk dilakukan yang terkadang tidak (mematuhi syariah).

Beberapa sekolah Islam awal (Qadariyah dan Mu'tazilah) tidak menerima doktrin takdir. Mu'tazilah berpendapat bahwa “tidak terpikirkan” bahwa Tuhan “akan menghukum manusia atas apa yang Dia sendiri telah perintahkan”.

Ini juga tidak termasuk dalam Lima Rukun Iman Islam Syiah. Setidaknya Muslim Syiah sebagai menyangkal takdir, dan setidaknya seorang ulama Syiah (Naser MakaremShirazi) berpendapat “kepercayaan pada takdir adalah pengingkaran keadilan”.

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya.

Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk mengubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu. Kalau berhasil seperti yang diinginkannya, maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri.

Bahkan sekiranya usahanya itu dinilainya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga.

Qadar (bahasa Arab secara harfiah berarti “kekuatan”) adalah konsep takdir ilahi dalam Islam. Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Kuasa, segala sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi di alam semesta termasuk perilaku manusia yang berdoa diperintahkan oleh-Nya.

Pada saat yang sama, kita sebagai manusia bertanggung jawab atas tindakan kita, dan akan diberi penghargaan atau hukuman yang sesuai pada Hari Penghakiman. Diturunkan, para Nabi Islam, Hari Kebangkitan dan para malaikat).

Qadha adalah ketetapan Allah SWT sejak sebelum penciptaan alam semesta (zaman azali). Penetapan qadha sesuai kehendak Allah SWT, tentang berbagai hal yang berhubungan dengan makhlukNya. Sedangkan qadar adalah per-wujudan ketetapan Allah SWT (qadha) yang sering disebut takdir. Qadha adalah rencana dan qadar adalah perwujudan atau kenyataan, yang hubungan keduanya tak mungkin dipisahkan. ”Jadi apa arti iman kepada qadha dan qadar? Artinya percaya sepenuh hati pada ketetapan Allah SWT, namun bukan berarti tidak berusaha (ikhtiar). Karena keberhasilan tidak akan tercapai tanpa usaha.”

Adanya qadha dan qadar dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 38 Artinya: “Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”

Takdir Allah Swt hanya untuk menyelaraskan takdir dengan keinginan manusia, karena manusia diberkahi kelebihan akal untuk mampu membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk. Allah Swt hanya membimbing kita menuju amal kebaikan yang menyebabkan kita mempunyai keinginan dan kemudian melakukannya. Amal kebaikan kita didapat melalui keimanan, ketaatan yang tulus dan berdoa agar selalu mendapatkan ridha Allah Swt. Wallahualam”. (*)
--

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved