Fikrah
Keutamaan Bulan Zulhijjah
Dalam bulan Zulhijjah terdapat waktu-waktu tertentu untuk menjalankan amalan istimewa.
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - Zulhijjah adalah bulan kedua belas dan terakhir dalam penanggalan hijriyah. Umat Islam berbeda pendapat dalam menentukan awal Zulhijah.
Ada yang menggunakan hisab, rukyah, maupun mengikuti penetapan awal Zulhijah di Arab Saudi.
Keutamaan bulan Zulhijjah sering kali terlewat oleh kita. Padahal, ada banyak amalan istimewa yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Apalagi, kita tidak tahu sampai kapan diberi kesempatan hidup. Oleh sebab itu, mari sambut keutamaan bulan Zulhijjah dengan beberapa amalan istimewa.
Waktu Keutamaan
Dalam bulan Zulhijjah terdapat waktu-waktu tertentu untuk menjalankan amalan istimewa. Waktu yang dimaksud tertera dalam Surah Al Fajr ayat 2 yang berbunyi, “Dan demi malam-malam yang sepuluh”.
Menurut Imam Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir mengutarakan bahwa ayat kedua Surah Al Fajr tentang malam-malam yang sepuluh, memiliki arti sebagai sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijjah. Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan salaf maupun khalaf.
Hadits riwayat Imam Bukhari juga menegaskan dari Sayyidina Abdullah Ibn Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih Allah cintai dari hari-hari ini.” (maksudnya sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah).
Para sahabat bertanya, “Termasuk jihad fi sabilillah?” Rasulullah menjawab, “Termasuk jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yang kembali sama sekali”. Hari yang dimaksud dalam hadits di atas adalah, sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, yakni pada tanggal 1-10 Zulhijjah.
Amalan Istimewa
Pertama, puasa sunnah Zulhijjah. Amalan istimewa yang pertama adalah puasa Zulhijjah. Puasa yang dijalankan dari waktu sahur hingga berbuka, pada tanggal 1-7 Zulhijjah. Untuk menjalani puasa Zulhijjah, umat muslim dapat menjalankan puasanya secara berturu-turut, atau selang seling sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Zulhijjah).”
Kedua, keutamaan bulan Zulhijjah adalah amalan puasa Tarwiyah. Puasa Tarwiyah merupakan puasa yang dilaksanakan pada hari ke-8 Bulan Zulhijjah.
Secara bahasa, kata Tarwiyah berasal dari kata ‘Rawa-yarwi’ yang artinya menceritakan, meriwayatkan, mengisahkan, mengeluarkan, memancarkan, mengairi, mengantarkan, dan memberi minum.
Secara sejarah, pada malam Tarwiyah menjadi malam di mana Nabi Ibrahim pertama kali mendapatkan mimpi menyembelih putranya, Nabi Ismail.
Seharian beliau bertanya-tanya, apakah mimpi tersebut merupakan perintah yang datang dari Allah atau dari syaitan.
Momen mempertanyakan diistilahkan dalam bahasa sebagai ‘Yurawwi’ atau dapat dinamakan Tarwiyah.
Puasa Tarwiyah dapat membuat kita mengenang bagaimana perintah kurban turun kepada Nabi Ibrahim.Ketiga, Puasa Arafah menghapus dosa, Keutamaan Bulan Zulhijjah selanjutnya adalah amalan Puasa Arafah.
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW “Puasa Arafah (9 Zulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” Menurut para ulama, dosa yang dimaksud adalah dosa ringan.
Puasa Arafah juga dapat menjauhkan api neraka, seperti yang diriwayatkan dalam hadits, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api Neraka selama tujuh puluh tahun.”
Keempat, sambut keutamaan bulan Zulhijjah dengan Takbir dan Zikir. Takbir atau mengumandangkan kalimat Allah khususnya kata ‘Allahu Akbar’.
Menegaskan kepada diri sendiri atau siapapun yang mendengarnya, bahwa sesungguhnya Allah ialah Tuhan Yang Maha Besar.
Sebagai bentuk memuliakanNya. Dikisahkan Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar rumah menuju pasar, pada sepuluh hari pertama Zulhijjah.
Kemudian mereka bertakbir, kemudian orang-orang di sekitarnya pun ikut bertakbir. Terdapat dua jenis takbir, yaitu takbir muthlaq dan takbir muqayyad.
Takbir muthlaq dilakukan pada setiap saat, siang ataupun malam hingga waktu shalat ied tiba. Takbir muqayyad dilakukan setiap selesai shalat fardhu lima waktu yang dilaksanakan secara berjamaah, dimulai dari matahari terbit di Hari Arafah hinggal Shalat Ashar pada Hari Tasyrik.
Selain takbir, bentuk memuliakan Allah juga dapat dijalankan dengan berzikir. Yaitu pujian untuk mengingat Allah SWT.
Bacaan zikir yang paling utama adalah ‘Laa Ilaaha Illallaah’ yang artinya ‘tiada Tuhan selain Allah’. Sedangkan doa yang paling utama adalah ‘Alhamdulillah’, yang artinya ‘Segala Puji Bagi Allah’.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq”. Wallahualam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)