Kesehatan
dr Zaidul Akbar Bahaya Kecanduan Gula Pasir, Rasa Manis Bisa Diganti Bahan Alami Lainnya
Penggagas kesehatan ala Rasulullah SAW, dr Zaidul Akbar membagikan solusi menghilangkan kecanduan konsumsi gula
Penulis: Mariana | Editor: Edi Nugroho
BANJARMASINPOST.CO.ID - Penggagas kesehatan ala Rasulullah SAW, dr Zaidul Akbar mengungkap lebanyakan mengkonsumsi gula pasir bisa menjadi pemicu penyakit di antaranya diabetes.
Apabila sudah terlanjur menderita penyakit tersebut, dr Zaidul Akbar mengungkapkan yang harus dilakukan untuk menurunkan gula darah yaitu mulai memperbaiki mikrobiom pada tubuh.
Penggagas kesehatan ala Rasulullah SAW, dr Zaidul Akbar membagikan solusi menghilangkan kecanduan konsumsi gula.
Salah satu cara untuk membiasakan diri tak bergantung pada pangan-pangan dengan gula berlebihan, diterangkan dr Zaidul Akbar yakni memperbanyak asupan protein.
Baca juga: Cegah Beban Tubuh Ketika Makan Daging Kurban, dr Zaidul Akbar Sarankan Konsumsi Cuka Kurma
Baca juga: Rekrutmen CPNS 2023, Cek Syarat dan Cara Mendaftarnya, Diperkirakan Dibuka September Ini
dr Zaidul Akbar mengimbau untuk membangun kebiasaan minum air tanpa menambahkan pemanis atau tetap dengan rasa aslinya.
Produk makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi tubuh bisa dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Jenis makanan yang baik dan sehat maka akan meningkatkan kesehatan, berlaku sebaliknya jika makanan yang dimakan tidak sehat maka akan menjadi sumber penyakit.
dr Zaidul Akbar menjelaskan solusi agar tak ketagihan produk-produk gula atau mengatasi kecanduan gula, maka ketika mengkonsumsi pangan-pangan alami usahakan tetap rasa aslinya tanpa campuran.
"Contoh Anda minum jahe, kunyit, serai, tidak usah pakai madu, rasakan rasa aslinya dulu, berlaku bahan alami lainnya, misal kayumanis, pokoknya rasa asli itu Anda kembalikan nanti lama-lama candunya gula itu akan hilang dengan sendirinya," ujar dr Zaidul Akbar dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube dr. Zaidul Akbar Official.
Rasa manis bisa didapatkan dari pangan alami pula, contohnya kurma. Jadi misalnya Anda minum kopi tak perlu ditambahkan gula, rasa manisnya Anda dapatkan dari kurma.
Baca juga: Update Terbaru Gempa M 6,4 Melanda Bantul Yogyakarta, Berikut Lokasi yang Alami Kerusakan
Kemudian ketika membuat jus, sebisa mungkin hindari penambahan gula pasir. Kalau mau mencoba tantangan, bisa berusaha untuk tak menyimpang gula pasir di rumah.
"Memasak atau membuat makan tertentu misalnya sambal, bisa mendapatkan rasa manisnya, mengganti gula pasir dengan kurma," jelas dr Zaidul Akbar.
Kebanyakan mengkonsumsi gula bisa menjadi pemicu penyakit di antaranya diabetes.
Apabila sudah terlanjur menderita penyakit tersebut, dr Zaidul Akbar mengungkapkan yang harus dilakukan untuk menurunkan gula darah yaitu mulai memperbaiki mikrobiom pada tubuh.
"Salah satunya dengan minum yang pahit-pahit, misalnya pare, brotowali yang diminum dalam bentuk jus," urai dr Zaidul Akbar.
Selain dua jenis bahan alami tersebut, bisa pula mengkonsumsi kayu manis, yang mana kayumanis diseduh atau direbus, air rebusannya diminum.
Cara kerja bahan-bahan herbal itu tak hanya menurunkan gula darah, dokter Zaidul Akbar menuturkan, dapat menyeimbangkan sistem pencernaan tubuh karena bahan-bahan itu mengandung probiotik dan prebiotik.
"Jangan tidak makan karbo, biasanya kalau orang sudah terkena diabetes memilih tidak makan karbo. Kalau ingin makan karbo pilihlah yang sehat dan dibatasi karbonya," imbau dr Zaidul Akbar.
Jenis karbohidrat yang kompleks dan sehat, aman dikonsumsi penderita diabetes di antaranya beras merah, beras coklat, dan beras non pestisida.
Selain itu, untuk mengembalikan keseimbangan gula darah bisa merutinkan puasa dan berbekam.
dr Zaidul Akbar turut menjabarkan bahaya mengonsumsi makanan yang tidak alami, di antaranya dapat memicu naiknya gula darah.
Saat ini dikenal istilah real food dan fake food. Real Food adalah makanan alami dengan sedikit pemrosesan atau bahkan tidak diproses sama sekali.
Real food dapat langsung dimakan, direbus, dikukus, atau dipanggang tanpa proses lebih dan tidak mengurangi nutrisi di dalamnya.
dr Zaidul Akbar menjelaskan istilah real food dan fake food baru dikenal beberapa waktu belakangan ini karena industrialisasi makanan.
"Dulu sekitar 30-40 tahun silam tidak banyak makanan olahan seperti sekarang yang dalam makanan tersebut banyak tambahan pangan sintetik. Kita harus ngerti real food dan fake food, real food adalah makanan berasal dari alam, entah dari daratan lautan, masih mengandung unsur asli, dan tidak banyak pengolahan," ucap dr Zaidul Akbar.
Ia menambahkan, ada beberapa jenis makanan real food yang harus diolah tau melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
Misalnya daging ayam mentah, bisa dipanggang, digoreng, dibikin sup dan dikasih bumbu sejatinya itu masih real food.
Sementara fake food adalah kelompok makanan yang sudah melalui tahapan panjang pemrosesan dengan campuran beragam bahan, termasuk pengawet, pewarna sintetis, dan bahan kimia lainnya.
Fake food diproduksi dengan mengubah rasa dan bentuk asli makanan agar lebih praktis dan awet.
Bahan makanan olahan jenis ini akan berdampak bahaya bagi tubuh jika dikonsumsi terus-menerus.
"Fake food ini asalnya saja sudah tidak sehat ditambah lagi dengan bahan pangan sintetis yang membuat makanan bertahan, contoh donat yang dibikin dari tepung terigu, ditambahkan bahan-bahan lain, seperti mentega, gula pasir, telur, dan beberapa donat ditambahkan dengan berbagai macam pengawet yang membuat awet," papar dr Zaidul Akbar.
Bahaya kesehatan yang mengancam ketika mengonsumsi terlalu sering dan fake food adalah mengakibatkan naiknya gula darah karena miskin serat. Tidak memiliki mineral penting antara lain vitamin, enzim, dan nutrisi lainnya.
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post
(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)
Benarkah Durian Bisa Cegah Osteoporosis? Begini Penjelasan beserta Kandungan dan Manfaatnya |
![]() |
---|
Sering Terlupakan, Inilah Instrumen Investasi yang Paling Penting |
![]() |
---|
Bahaya Begadang Sambil Ngemil dalam Thibbun Nabawi, Ustadz Abdurrahman Dani Ungkap Dampaknya |
![]() |
---|
Kenali Gejala Pneumonia pada Anak dan Cara Pencegahannya dari Dokter Spesialis Anak |
![]() |
---|
Pengertian Penyakit Pneumonia, Kementerian Kesehatan Jelaskan Kejadian di China dan Imbau Tak Panik |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.