Berita Banjamasin

Rizka Kaget tak Ada Sosialisasi, Pakai QRIS Kena Biaya 0,3 Persen

Mulai 1 Juli 2023, Bank Indonesia (BI) menaikkan merchant discount rate (MDR) atau tarif QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard)

Penulis: Mia Maulidya | Editor: Edi Nugroho
BSI untuk BPost
ilustrasi: Pengunjung sedang bertransaksi QRIS melalui BSI Mobile. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mulai 1 Juli 2023, Bank Indonesia (BI) menaikkan merchant discount rate (MDR) atau tarif QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) bagi pedagang usaha mikro menjadi 0,3 persen. Sebelumnya, MDR QRIS usaha mikro ditetapkan 0 persen.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono biaya MDR QRIS yang dikenakan bagi pelaku usaha mikro tersebut guna meningkatkan kualitas layanan kepada pedagang dan pengguna. Biaya ini dimaksudkan untuk mengganti investasi dan biaya operasional yang telah dikeluarkan oleh pihak-pihak yang terlibat penyelenggaraan transaksi QRIS, yaitu penyedia jasa pembayaran (PJP), lembaga switching, lembaga servis dan lembaga standar.

Tarif 0,3 persen bagi pelaku usaha mikro yang ditetapkan BI dinilai tak berpengaruh pada usaha mikro.

Sebagaimana diungkapkan Rizka dari kedai Dif_Friend BBQ Banjarmasin, belum merasa keberatan asalkan biayanya tidak naik. “Dikenakan biaya tapi selagi itu demi peningkatan kualitas layanan untuk lebih baik tidak apa-apa,” ungkapanya, Jumat (7/7).

Baca juga: Pulang dan Kerinduan Akan Tanah Suci

Baca juga: Waspada Jeratan Si Pinjol

Meski demikian ia mengaku terkejut dengan adanya potongan biaya ini, karena tidak ada sosialisasi ke para pengguna. “Tak ada diberitahu sebelumnya. Harapannya tidak ada kenaikan biaya layanan. Kalau kenaikan layanan QRIS membesar, sepertinya akan berhenti menggunakan,” tandasnya.

Senada dengan Rizka, Imi pemilik kedai Essa Kopi di Banjarmasin merasa tidak keberatan asalkan pemotongannya tetap di angka 0,3 persen. “Kalau untuk saat ini memang masih belum keberataan karena masih terhitung baru selama 4 hari percobaan, dan anggap saja potongan ini untuk biaya layanan,” jelasnya.

Pemotongan biaya layanan QRIS tersebut diakui sudah dirasakan Imi sejak 3 Juli, dikarenakan tanggal sebelumnya libur Iduladha.

Imi mengatakan setiap pemotongan biaya QRIS tersebut dipotong per satuan transaksi. “Jadi anggap saja harga minum Rp 18.000 dengan potongan QRIS berkurang pendapatan kisaran Rp 54,” paparnya.

Dia pun berjanji tak ada kenaikan biaya pembayaran layanan QRIS ini. Dari minuman yang tersedia di kedainya pun masih dijual dengan harga yang sama. “Karena ini memudahkan pelanggan apabila mereka kelupaan membawa uang tunai. Bahkan dalam satu hari ada yang transaksinya hanya melalui QRIS,” ujarnya.

Menurutnya yang menjadi kendala dalam pemotongan QRIS itu terkait pembukuan keuangannya, karena di mana saat ini masih manual.

Untuk penggunaan di Kalsel, beberapa waktu lalu Deputi Kepala Perwakilan BI Kalsel Bimo Epyanto melalui keterangan tertulis menyebutkan BI Kalsel menggencarkan akselerasi pembayaran digital.

Baca juga: Jadi Gerbang IKN, Pembangunan Sistem Kelistrikan di Kalsel Terus Diakselerasi

Karena secara nasional BI mempunyai target 45 juta pengguna QRIS hingga akhir 2023.

Adapun di Kalsel target penambahan pengguna QRIS baru sebanyak 290.572 pengguna dan volume transaksi sebanyak 6.948.586 transaksi hingga akhir tahun 2023.

Dan tercatat hingga April 2023, realisasi penambahan pengguna QRIS baru di Kalsel telah mencapai 35,21 persen dari target. (tribunnews/mim)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved