Opini

Pulang dan Kerinduan Akan Tanah Suci

Prosesi kepulangan jemaah haji asal Indonesia telah dimulai. Jemaah Haji berangsur-angsur mulai meninggalkan Mekkah.

Editor: Edi Nugroho
(ANTARA FOTO/HANNI SOFIA)
Ilustrasi: Seluruh dunia mulai berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. 

Oleh : Supriansyah
Peneliti di Kindai Institute dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

BANJARMASINPOST.CO.ID-Prosesi kepulangan jemaah haji asal Indonesia telah dimulai. Jemaah Haji berangsur-angsur mulai meninggalkan Mekkah.

Sebagian menuju Madinah untuk melanjutkan ziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW. Sebagian lain menuju tanah air dan akan tiba di kampung halaman.

Sebelum meninggalkan kota Mekkah, setiap jemaah haji diwajibkan menunaikan ritual tawaf wada’ yakni tawaf perpisahan.

Menurut cerita sebagian besar jemaah yang saya jumpai, tawaf wada’ adalah prosesi paling dramatis, spiritual, dan ritmis. Sebab, ritual tersebut dijalankan dengan perasaan campur aduk antara sedih meninggalkan kota Mekkah dan senang karena akan kembali berkumpul dengan keluarga.

Baca juga: Jadi Gerbang IKN, Pembangunan Sistem Kelistrikan di Kalsel Terus Diakselerasi

Baca juga: Efisien dan Ramah Lingkungan, Medco Energi Bangkanai Beralih Gunakan Listrik PLN

Setiap jemaah haji tiba di tanah air selalu disambut dengan meriah dan riang gembira. Namun, bak perpisahan lain, siapapun meninggalkan tanah suci tentu menyisakan kerinduan untuk kembali lagi ke sana. Oleh sebab itu, keinginan untuk berangkat lagi ke tanah suci seakan terus terngiang di jiwa masyarakat Muslim.

Di masyarakat Banjar, kerinduan akan tanah suci diekspresikan dalam bentuk keinginan datang (lagi) ke Mekkah – Madinah. Biasanya keinginan tersebut dihadirkan dalam tradisi hingga kepercayaan di masyarakat Banjar yang diharapkan bisa mempermudah mereka ke tanah suci. Bahkan, hari ini teknologi juga turut berperan dalam artikulasi kerinduan tersebut.

Tradisi batitip salam yakni kebiasaan masyarakat Banjar menitipkan salam untuk Nabi Muhammad SAW kepada jemaah haji yang berangkat di tahun itu. Biasanya tradisi ini dilakukan secara personal ke jemaah yang ingin berangkat haji. Namun, beberapa waktu lalu, seorang ulama bersama para jemaahnya melakukan tradisi tersebut secara massal, di mana setiap jemaah saling berpegangan satu sama lain hingga ke ulama tersebut.

Tradisi batitip salam ini merupakan bagian dari ekspresi kerinduan mereka akan tanah suci, untuk bisa berziarah di makam Nabi Muhammad SAW. Selain itu, mereka juga berharap bisa mendapatkan syafaat dan dapat “dipanggil” Rasulullah untuk datang ke kota Madinah.

Kebiasaan lain terkait tanah suci di masyarakat Banjar adalah minta dikiaukan. Tradisi ini mungkin masih bisa dijumpai hingga hari ini di berbagai kelompok masyarakat muslim lain. Namun di masyarakat Banjar, kebiasaan ini dilakukan dengan menuliskan nama di sebuah kertas atau batu hingga meninggalkan foto yang dikuburkan dalam tanah di padang Arafah. Kebiasaan ini biasanya disertai dengan doa atau harapan seseorang yang nama atau fotonya dikuburkan tadi bisa berangkat ke tanah suci.

Hari ini, kebiasaan ini berubah seiring masuknya teknologi di dalamnya. Masyarakat Muslim, termasuk Banjar, tidak lagi menguburkan nama atau foto di padang Arafah namun telah digantikan dengan postingan foto atau video yang merekam secarik kertas bertuliskan nama dan doa dengan latar Ka’bah atau kubah Masjid Nabawi.

Baca juga: Mobil City Car Ini Seruduk Pikap di Lampu Merah Jalan A Yani Km1 Banjarmasin, Tak Ada Korban Luka

Selain tradisi batitip salam dan minta kiauakan, masyarakat Banjar juga mengenal kepercayaan “Sajian dari Tuhan,” atas seluruh menu makanan dan kudapan yang disajikan selama prosesi Arafah – Mina. Dalam buku Urang Banjar Naik Haji: Teks, Tradisi, dan Pendidikan Nilai disebutkan bahwa sebagian masyarakat Banjar biasanya menyimpan sebagian apa yang disajikan selama di tempat prosesi Wukuf, Mabit (bermalam), hingga melontar Jamarat tersebut.

Bahkan, para jemaah asal tanah Banjar tidak segan menggunakan kearifan lokal mereka dalam mengawetkan makanan, untuk sekadar membawa sebagian makanan tersebut kepada keluarga, handai taulan, tetangga, hingga kolega-kolega mereka. Sehingga, mereka biasa menjemur sebagian daging unta atau sisa nasi hingga kering, yang nanti akan dijadikan oleh-oleh dari tanah suci.

Kepercayaan lain di masyarakat Banjar terkait soal kerinduan akan tanah suci adalah terkait berkah dari tanah suci. Bagi masyarakat Banjar, siapa saja yang baru tiba dari perjalanan haji masih menyimpan berkah tanah suci, maka biasanya mereka dipeluk agar juga bisa mendapatkan berkah tersebut sehingga dapat berangkat ke tanah suci secepatnya.

Tak hanya terkait tradisi dan kepercayaan, teknologi juga turut mengambil peran dalam membangun kerinduan akan tanah suci. Sebuah stasiun televisi kabel di Kalimantan Selatan harus mengusahakan siaran televisi yang merekam keadaan Masjidil Haram, masuk dalam daftar televisi mereka jika ingin laku di Kalimantan Selatan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

Bahaya Cemburu

 
© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved