Tajuk

Hikmah Air

MUSIM kemarau yang saat ini berlangsung, telah dirasakan dampaknya oleh masyarakat Kalimantan Selatan.

Editor: Edi Nugroho
SUPARLAN UNTUK BPOST
Ilustrasi: Kondisi lahan pertanian padi di lahan Suparlan di Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (2/9/2023). 

MUSIM kemarau yang saat ini berlangsung, telah dirasakan dampaknya oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Tidak hanya menyebabkan sumur-sumur dan mata air lainnya mengering, tapi juga memicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan yang semakin meluas.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi saat ini sebagai dampak El Nino. Kemarau terjadi di 63 persen wilayah Indonesia, termasuk Kalsel.

Menurut Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Syamsudin Noor Banjarmasin, Karmana, kemarau ini masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Hujan diprediksi baru turun pada Oktober mendatang. Walaupun dalam beberapa hari terakhir, hujan sudah mengguyur sebagian wilayah seperti Banjarbaru, HST, Tala dan Kotabaru, namun hanya sebentar dan intensitasnya rendah.

Nyatanya, kekeringan masih akan berlangsung dan patut diwaspadai. Di sejumlah daerah, akibat kekeringan sawa-sawah terancam gagal panen. Sebagian daerah pun meminta bantuan air bersih kepada pemerintah.

Baca juga: Perhatian Ganjar kepada Kesehatan Mental Jadi Perhatian Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa

Baca juga: Usulan Duet Ganjar-Ridwan Kamil di Pilpres 2024 Ditolak Ketum Golkar Airlangga

Sementara di kawasan perkotaan tak jauh berbeda. Warga yang bermukim di pusat kota dan sekitarnya, juga hampir kesulitan mendapatkan air bersih. Jika pun ada, terbatas hanya untuk mandi, cuci, kakus (MCK). Sedangkan warga di bantaran Sungai Barito, misalnya, sudah mengeluhkan kondisi air yang payau karena intrusi air laut.

Perusahaan air leding di beberapa kabupaten kota di Kalsel juga sudah memberikan warning bagi pelanggannya agar berhemat dan tidak melakukan pemborosan dalam kondisi kemarau saat ini. Di tengah kondisi demikian, hikmah air begitu sangat penting saat ini. Dari peristiwa kemarau inilah kita banyak belajar dan memahami betapa pentingnya air. Tentu, agar bisa bertahan dalam kondisi kemarau ini, hemat air adalah solusi bagi warga Kalsel.

Dalam ajaran Islam, sudah sewajarnya manusia berserah diri kepada Sang Khaliq, sang pencipta Alam Semesta. Saat ini mungkin juga jadi momen tepat untuk melakukan instrospeksi diri dan memohon ampunan kepada Tuhan.

Satu upaya yang bisa dilakukan, bagi muslim, di antaranya dengan menggelar Salat Istisqa. Salat yang digelar dengan tujuan meminta kepada Allah untuk keselamatan Banua dari kemarau, kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang terjadi.

Baca juga: KPI Nyatakan Munculnya Ganjar di Tayangan Azan Tak Langgar Aturan

Baca juga: Sikap Ten Hag Tak Berubah, Jadon Sancho Masih Diasingkan Jelang Laga Man United vs Brighton

Semoga segala usaha dan ikhtiar umat islam di bumi Lambung Mangkurat bisa mendapat ampunan dan curahan hujan dari Allah Subhannhu Wata’ala hingga tidak ada lagi daerah yang mengalami kekeringan, kebakaran hutan dan lahan. Semoga (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved