Fikrah
Hakikat Dunia
Asal kata dunia (bah. Arab) berarti dekat; maksudnya yang dekat hitungannya, tidak banyak, sebentar saja. Bisa juga berarti apa yang dekat dengan kita
Oleh: KH Husin Naparin, Lc, MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dunia adalah hidup dan kehidupan yang kita geluti sekarang ini. Lawannya adalah hidup dan kehidupan akhirat.
Asal kata dunia (bah. Arab) berarti dekat; maksudnya yang dekat hitungannya, tidak banyak dan sebentar saja, tetapi bisa juga berarti apa-apa yang dekat dengan kita, di dalam Al-Qur’an disebutkan As-Sama Ad-Dun-ya artinya “langit yang dekat”.
Apa yang dekat dengan kita? Yang dekat-dekat dengan kita adalah makanan, pakaian, tempat tinggal dan barang-barang lainnya. Semua ini diistilahkan dengan “al-Maal”.
Kemudian yang termasuk dekat dengan kita adalah anak-anak dan keturunan, diistilahkan dengan “al Banuun”.
Lalu Allah SWT menerangkan di dalam Al-Qur’an S. Al Kahfi ayat 46 yang artinya : “Harta (al-Maal) dan anak-anak (al-Banuun) adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
Abu Hurairah bercerita : “Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW menarik tanganku dan berkata : “Hai Abu Hurairah, maukah aku tunjukkan kepadamu dunia dan semua isinya ? Ya wahai Rasulullah, jawabku.
Lalu Rasulullah SAW mengajak aku pergi. Aku dibawa beliau ke tepi sebuah jurang di pinggiran kota Madinah.
Jurang itu ternyata adalah tempat pembuangan sampah, di dalamnya terdapat tengkorak dan kotoran manusia; terdapat pula kain-kain lusuh dan tulang belulang,
Rasulpun berkata : “Hai Abu Hurairah, lihat olehmu tengkorak-tengkorak itu dahulunya ia punya keinginan sepertimu, punya angan-angan seperti angan-anganmu, namun sekarang telah menjadi tulang-tulang rapuh tanpa kulit, dan terakhir akan menjadi abu. Lihat olehmu kotoran-kotoran itu, dahulunya adalah berbagai ragam makanan yang ditaruh di dalam pinggan, entah dari mana mereka dapatkan, lalu mereka lemparkan ke dalam perut mereka. Lihat sekarang, kalau sudah menjadi kotoran, adakah orang yang mau mendekatinya? Lihat kain-kain lusuh itu, dahulunya adalah perhiasan dan pakaian mereka, sekarang dipermainkan oleh angin. Lihat tulang-tulang hewan itu, dahulunya adalah hewan kendaraan yang mereka banggakan untuk berkeliling mengetari negeri. Siapa yang mampu menangisi dunia ? Selamat buat mereka.”
Abu Hurairah meneruskan ceritanya, katanya : “Kamipun menangis berurai air mata.”
Riwayat ini sebenarnya menjadi pelajaran bagi kita agar tidak tertipu dengan dunia.
Ada tiga tipe manusia menghadapi dunia :
Pertama, mereka yang “rakus” atau “tamak” dimana dunia ia raup sebanyak-banyaknya dan ia tumpuk setinggi-tingginya, padahal ia juga tidak tahu untuk apa ?
Kedua, mereka yang “zuhud”, tapi zuhud yang negatif; yaitu meninggalkan dan menanggalkan dunia. “Dunia adalah bangkai dan pemburunya adalah anjing” inilah motto mereka.
Ketiga, mereka yang cerdas, yaitu orang yang tahu bagaimana seharusnya menempatkan dunia. Dunia ia taruh bukan di dalam hatinya, tetapi di tangannya untuk merajut amal saleh, yaitu karya dan aktivitas yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Nabi Muhammad saw bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfatnya bagi manusia lainnya.” (Al Hadits). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ketua-MUI-Kalimantan-Selatan-KH-Husin-Naparin-jumat-28072023.jpg)