Jendela

Doa Nisfu dan Takdir Kita

Salah satu tradisi keislaman yang kuat berakar di masyarakat Banjar adalah melaksanakan ibadah di malam Nisfu Syakban

Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mujiburrahman. 

Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Salah satu tradisi keislaman yang kuat berakar di masyarakat Banjar adalah melaksanakan ibadah di malam Nisfu Syakban, yang tahun ini jatuh pada Sabtu malam, 24 Februari 2024.

Orang-orang berbondong-bondong ke masjid dan musala untuk melaksanakan ibadah berjemaah. Apa sebenarnya kepercayaan di balik tradisi ini sehingga banyak orang terdorong untuk ikut serta, bahkan sebagian jemaah yang berada di luar atap masjid rela bertahan meskipun diguyur hujan?

Saya kira kepercayaan itu adalah tentang takdir, yakni ketentuan-ketentuan Allah atas seluruh alam semesta.  Ada kepercayaan bahwa di malam Nisfu Syakban, ‘buku catatan’ amal manusia selama setahun akan ditutup dan diganti dengan buku baru. Karena itulah, orang dianjurkan untuk bertobat agar catatan-catatan buruknya dihapus, lalu berdoa memohon diberikan tiga hal penting dalam hidupnya yang akan datang, yaitu (1) umur yang panjang dalam keadaan sehat dan taat kepada Allah; (2) mendapatkan rezeki yang halal; (3) beramal saleh dan mati dalam iman (husnul khatimah).

Jika kita dalami lebih jauh, masalah takdir sebenarnya tergolong pelik, tidak mudah dipahami dan dijelaskan. Alam semesta, termasuk manusia di dalamnya, hadir, tumbuh, bergerak dan berubah dalam kerangka hukum alam yang diciptakan Tuhan. Namun, dalam medan hidup yang diatur oleh hukum alam itu, manusia ternyata memiliki kebebasan memilih.

Lantas, di manakah letak kuasa mutlak Tuhan dan kebebasan manusia? Apakah manusia sepenuhnya dikendalikan Tuhan (Jabariyah) atau sepenuhnya bebas dalam memilih (Qadariyah), atau berada di antara keduanya (Ahlussunnah)?

Mari kita renungkan tiga permintaan Nisfu Syakban di atas. Pertama, umur yang panjang dalam keadaan sehat dan taat kepada Tuhan.

Umur panjang dan sehat itu biasanya tidak diperoleh tanpa usaha. Agar sehat dan panjang umur, orang harus cukup gizi.

Makan-minumnya tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Agar tubuhnya bugar, dia harus bergerak dan beristirahat secara seimbang. Secara psikologis, dia juga harus pandai mengendalikan stres.

Semua ini menyangkut hukum alam yang telah ditentukan Tuhan di satu sisi, dan pilihan-pilihan manusia di sisi lain. Adapun taat atau tidak maksiat, jelas merupakan pilihan moral manusia.

Bagaimana dengan mendapatkan rezeki yang halal? Rezeki biasanya didapat melalui usaha. Tuhan telah menciptakan tanah, air, udara, tumbuh-tumbuhan dan hewan, agar manusia mengelola semuanya bagi kelangsungan hidupnya.

Padi tumbuh di tanah. Untuk bisa menanam, memelihara hingga menuai padi itu, orang harus belajar. Tidak bisa sekonyong-konyong menjadi petani. Apalagi pekerjaan di zaman modern yang menuntut keahlian dan keterampilan tertentu.

Singkat kalimat, untuk mendapatkan rezeki, orang perlu usaha, dan usaha perlu ilmu dan keterampilan. Adapun ‘halal’, jelas merupakan pilihan moral.

Demikian pula dengan beramal saleh dan mati dalam iman. Beramal saleh artinya berbuat baik. Untuk bisa berbuat, orang harus mempunyai ilmu, keterampilan, keinginan dan kemampuan. Ilmu dan keterampilan harus dipelajari dan dilatih.

Buku bisa dibeli, tapi ilmu harus dipelajari. Mobil bisa dibeli, tapi menyetir harus dilatih. Selain harta dan kekuasaan, ilmu dan keterampilan adalah unsur penting dalam kemampuan. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk berbuat. Adapun keinginan, meskipun penting, ia perantara saja. Kata sifat ‘saleh’, yakni baik, adalah pilihan moral. Mati dalam iman adalah akibat akhirnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved