Book Lover
Terkesan Buku Berani Tidak Disukai
Buku spesial dan berkesan bagi Jumratul Akabah adalah berjudul Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi, Fumitake Koga.
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Buku spesial dan berkesan bagi Jumratul Akabah adalah berjudul Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi, Fumitake Koga. Buku ini bicara tentang dialog antar filsuf dan seorang pemuda.
Dialog yang dilakukan selama lima malam ini, berisi percakapan dari seorang pemuda yang tidak puas dengan kehidupannya dan seorang filsuf yang mengajarkannya tentang bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan di dunia.
"Juga mengutarakan tentang di mana letak kebahagiaan sesungguhnya," jelas perempuan kelahiran Banjarmasin 19 Desember 2003 ini.
Ada banyak hal baru yang akan membuat pembaca sadar bahwa beberapa hal seharusnya tidak dilakukan saat ini karena hal tersebut bisa saja menghambat kebahagiaan pada masa depan.
"Salah satu contohnya adalah mengenang trauma masa lalu dan menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar kebahagiaan," kata mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin ini.
Setelah membaca buku ini, lanjutnya, pikiran pembaca menjadi semakin terbuka pada langkah baru untuk mengubah hidup menjadi lebih baik lewat tindakan berani untuk tidak disukai oleh orang lain.
Jumratul yang hobi nonton dan menulis punya moto; Jangan menjadikan orang lain sebagai patokan hidup, setiap orang punya garis finishnya sendiri.
Peraih prestasi Ujian Komputer Predikat Terbaik dan Wakil 1 Puteri Dakwah 2024 ini, suka membaca karena terbiasa.
"Saya terbiasa untuk mulai membaca atas keperluan mencari suatu hal yang saya tidak tahu, mempelajari, mengamati, sampai kebiasaan itu menjadi suatu hal yang perlu dan kesukaan," jelasnya.
Apalagi saat ini pekerjaan atau kebiasaannya sehari-hari menulis berita kampus, fakultas, dan jurusan yang mengharuskannya bermodalkan dari membaca.
"Dari awal saya suka membaca buku berjenis novel dan komik, karena menurut saya itu adalah suatu hiburan pribadi untuk saya di waktu senggang. Begitu juga cerita pendek, kata dan kalimat harmonis yang disampaikan membuat saya terkagum," paparnya.
Dengan menyajikan cerita fiksi tersebut mengajaknya berpetualang dalam dunia penuh imajinasi yang penuh dengan pelajaran hidup.
"Saya juga suka membaca berita-berita untuk memenuhi kosa kata dan mengetahui komposisi penulisan sebuah berita," tukasnya.
Jumratul biasanya membaca buku di waktu senggang, saat sore atau malam setelah semua pekerjaan selesai termasuk tugas perkuliahan.
"Itu adalah waktu efektif untuk membaca, karena tidak ada lagi hal yang perlu dipikirkan, membuat kita bisa lebih bersantai untuk lebih menikmati bacaan buku tersebut," alasannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Jumratul-Akabah.jpg)