Erna Lisa Halaby

Visi Kota Banjarbaru Smart City 2035

Visi jangka menengah pembangunan Kota Banjarbaru adalah menjadi salah satu Smart City terbaik di Indonesia pada tahun 2035

Editor: Hari Widodo
Istimewa
Hj Erna Lisa Halaby mengusung visi Banjarbaru menjadi salah satu Smart City terbaik di Indonesia pada tahun 2035. 

Oleh: Hj Erna Lisa Halaby (Ketua Yayasan Abdul Aziz Halaby)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Visi jangka menengah pembangunan Kota Banjarbaru adalah menjadi salah satu Smart City terbaik di Indonesia pada tahun 2035.

Visi Smart City diperlukan sebagai strategi baru pengembangan kota dengan mengadopsi information and communication technology (ICT) dalam rangka menyediakan informasi penting dalam mendukung efektifitas pengelolaan sumber daya dan asset kota. 

Visi Smart City mencakup teknis pengumpulan data dari warga masyarakat dan ketersediaan perangkat mekanis (mechanical devices) yang memproses dan menganalisa data.

Hal ini bertujuan untuk memantau dan mengelola lalu lintas serta sistem transportasi, tenaga listrik, jaringan air bersih, hingga pengelolaan sampah.

Visi Smart City dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di kota Banjarbaru, sekaligus mengurangi biaya penyediaannya.

Tujuan dari smart city adalah untuk menyesuaikan antara perkembangan teknologi, khususnya teknoloogi digital dengan pembangunan ekonomi, sosial, dan ekologi. Prinsip dasarnya adalah “how to live better together while respecting our environment”.  

Pengembangan kota dengan visi Smart City menjadi semakin mendesak mengingat lebih dari separuh populasi akan tinggal di kota pada tahun 2050.  World Bank memperkirakan bahwa 70 persen dari penduduk dunia pada tahun 2050 akan tinggal di perkotaan. 

Hal yang sama akan terjadi di Kota Banjarbaru dimana mayoritas wilayahnya adalah kawasan perkotaan. 

Langkah awal yang akan dilakukan di Kota Banjarbaru adalah digitalisasi ekonomi yang dimulai dari kelompok UMKM, lebih spesifik usaha mikro atau bahkan usaha rumahan yang jumlahnya sangat banyak dan digerakkan oleh kaum perempuan

Istilah ekonomi digital pertama kali diperkenalkan oleh Tapscott (1996), yaitu era ekonomi baru yang menekankan pada keterkaitan antar teknologi dan antar orang per orang melalui teknologi digital. 

Secara singkat, ekonomi digital dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu industri berbasis digital (digital industrialization) dan digitalisasi industri (industrial digitization). Industri digital meliputi industri telekomunikasi, elektronik, software (perangkat lunak), jasa teknologi informasi dan internet. 

Sementara digitalisasi industri adalah proses integrasi teknologi digital dengan industri konvensional yang berkaitan dengan Aritificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data dan robotic atau automation.

Hal ini sejalan dengan proses transformasi digital yang dilakukan oleh berbagai negara, seperti Singapura yang selama ini dikelola secara konvensional. 

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menyatakan bahwa istilah ekonomi digital mengacu pada proses transformasi digital yang mengintegrasikan teknologi digital dalam kegiatan ekonomi, sosial, industri dan jaringan (networking). 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved