Book Lover
Buku Bikin Makin Haus Cerita Baru
Bagi Abdul Khaliq, buku favoritnya The Hobbit mengajarkan bahwa kehidupan, seperti cerita yang baik, selalu penuh kejutan.
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
Buku yang paling spesial bagi Abdul Khaliq adalah The Hobbit. Menurutnya ini adalah buku yang tak tergantikan.
Bagi Abdul Khaliq, buku itu mengajarkan bahwa kehidupan, seperti cerita yang baik, selalu penuh kejutan. Petualangan Bilbo Baggins bukan hanya tentang keberanian, tapi juga tentang menemukan rumah dalam dirimu sendiri, di manapun kau berada.
"Aku belajar bahwa dalam setiap perjalanan, ada makna yang lebih besar dari sekadar tujuan, yaitu bagaimana kau tumbuh sepanjang jalan," ujar pria kelahiran Gadung, 27 Mei 2005 ini.
Buku-buku fantasi dan petualangan selalu berhasil mencuri hatinya. Dunia magis seperti yang diciptakan Tolkien dalam The Hobbit memikat imajinasinya, seolah ia menjadi bagian dari setiap petualangan.
Di sisi lain, buku-buku psikologi yaitu Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman mengajak menggali pikiran dan memahami cara kerja hati manusia.
"Bacaan-bacaan ini memberiku keseimbangan, satu untuk bermimpi, yang lain untuk memahami kenyataan," ujar mahasiswa Ekonomi Syariah, Fakultas Studi Islam, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari ini.
Khaliq yang juga menjadi fasilitator Forum Anak Kabupaten Tapin punya koleksi buku yang menjadi cerminan dirinya, sebuah perpaduan antara dunia imajinasi dan pencarian diri.
Buku-buku berjudul Harry Potter dan The Chronicles of Narnia memuaskan hasratnya atas dunia magis.
Kemudian buku berjudul Kala, Kita adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa, mengajarkannya tentang rasa kehilangan dan proses menyembuhkan diri.
Khaliq yang bekerja sebagai staf administrasi di SMA Negeri 1 Binuang, pertama kali jatuh cinta pada membaca adalah saat di sekolah dasar.
Buku cerita rakyat dan komik sederhana menjadi teman setia di waktu luang. Tapi bukan sekadar hiburan, buku adalah pintu menuju dunia lain, tempat ia bisa melarikan diri dari kenyataan dan menemukan versi diriku yang lebih bebas.
"Setiap halaman yang kubaca seperti sebuah perjalanan. Semakin banyak kubuka, semakin aku haus cerita baru. Di sanalah aku belajar bahwa membaca bukan hanya aktivitas, tapi sebuah cara untuk menemukan makna," katanya.
Waktu favorit untuk membaca adalah saat sore menjelang senja. Ketika matahari mulai tenggelam dan suasana menjadi tenang, Khaliq merasa dunia memberi ruang untuk tenggelam dalam buku. Saat itulah ia merasa dekat dengan dirinya sendiri, ditemani oleh halaman-halaman yang berbicara dengan caranya yang tak terduga.
"Mungkin sekitar satu jam sehari, tapi siapa yang benar-benar menghitung waktu saat sedang jatuh cinta? Jika buku yang kubaca menarik, waktu terasa berhenti. Aku bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk satu bab, kehilangan diriku di antara kata-kata yang terasa seperti rumah," tukas Khaliq.
Bagi banyak orang, membaca adalah cara untuk belajar. Baginya, membaca adalah cara untuk hidup. Setiap cerita yang dibaca memperluas cakrawala, membuka hati untuk memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Membaca mengajarkan untuk berpikir, bermimpi, bahkan memahami diri dan orang lain dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Abdul-Khaliq.jpg)