Serambi Ummah
Profil H Muhammad Helmi, Jadi Kades Sambil Isi Majelis Taklim
Sosok seorang H Muhammad Helmi SHI dalam menyiarkan agama Islam di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) tidak kenal lelah.
Penulis: Adiyat Ikhsan | Editor: Mariana
BANJARMASINPOST.CO.ID - Sosok seorang H Muhammad Helmi SHI dalam menyiarkan agama Islam di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) tidak kenal lelah.
Ustadz berusia 45 tahun ini tidak hanya mengisi Majelis Taklim dan menjadi Dai, penyuluh agama non-PNS di daerah pegunungan Meratus, tetapi dirinya sambil mengajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Tumpahan Kecamatan Padang Batung, serta mengisi di Hulu Banyu, Kecamatan Loksado.
Bahkan, sosok Ustadz Helmi merupakan Kepala Desa Mawangi di Kecamatan Padang Batung, HSS.
Dirinya menjadi Kepala Desa (Kades) Mawangi, karena dipercaya warga, sehingga didaftar saat proses Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) setempat.
Kiprahnya sebagai Ustadz dan Dai dalam menyebarkan agama Islam, sampai ke pelosok di Pegunungan Meratus dan kini memiliki dua Majelis Taklim di Desa Mawangi.
Majelis Taklim tersebut, Al Wafa yang aktif setiap Senin malam bagi kalangan umum dan Anwarus Syifa yang letaknya di pegunungan, bahkan banyak remaja atau pemuda yang menjadi jemaahnya.
Baca juga: 25 Contoh Ucapan Isra Miraj 2025, Berisi Harapan bagi Umat Islam Cocok Dibagikan di Media Sosial
Baca juga: Layanan Pilanduk Langkar di Tala Diperluas, Hari Ini Sidang Perdana Pengesahan Perkawinan Digelar
Majelis ini, rutin berjalan Selasa sore di daerah pegunungan yang banyak disi pemuda. Berkat itu pula, satu persatu pribadi jemaahnya yang dulu suka mabuk, tidak bisa salat dan kifayah, sekarang mulai membaik dan bisa melaksanakan ibadah salat.
Keinginan kuatnya, adalah menjadikan masyarakat yang beriman, bertaqwa dan berakhlak, bahkan sampai membentuk Majelis Taklim dan Maulid Al-Habsyi.
Berikut kiprahnya selama ini dari wawancara dengan Serambi Ummah.
Apa yang menginspirasi anda sebagai Ustadz untuk berperan di masyarakat, terutama di wilayah pelosok?
Dari diri pribadi sebagai ustadz ke masyarakat, karena sebagai hamba Allah SWT ingin selalu mengajak berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Pribadi sebagai penyuluh agama non PNS, dimulai 2004 sampai 2024 lulus dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam 2001 dan menjadi Dai Illah. Sekarang memiliki majelis, supaya mengajak masyarakat memberikan Da’watul Hasanah agar menjadi masyarakat yang beriman, bertakwa kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala dan mencegah perbuatan kemaksiatan dan kemungkaran. Mengajak para umat dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Teladan apa yang diajarkan sebagai pendakwah terhadap masyarakat?
Menanamkan kepada masyarakat terhadap ketaqwaan, kecintaan kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Menanamkan berbudi luhur, Akhlakul karimah, sopan santun terhadap hamba Allah Subhannahu Wa Ta’ala, baik ke sesama muslim maupun non-muslim, karena negara kita, negara Pancasila. Jadi saling menghormati dan menyayangi.
Motivasi tetap berdakwah?
Menjalankan perintah Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Supaya mengajak berbuat baik dan mencegah perbuatan munkar. Itu syarat menjadi orang yang beruntung dunia akhirat.
Adakah hadist atau ayat yang menjadi inspirasi?
Pada Surah Ali Imran ayat 104 yang artinya,”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar mereka lah orang orang yang beruntung.
Kemudian, Surah Al-A’raf ayat 199. Dalam surat tersebut, laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah penolong, sebagian yang lain. Kerjakan yang Ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dakwah itu, baik laki-laki, maupun perempuan untuk selalu menolong teman-teman mengerjakan hal yang baik dan mencegah yang munkar.
Hadits yang menjadi inspirasi, terutama Hadits Arbain yang artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.
Jadi kita sampaikan, apa yang perlu disampaikan, meski satu ayat dari hadits.
Bagaimana menyikapi perkembangan teknologi?
Seharusnya bisa mengimbangi dan tidak terlena.
| Ulama Idealnya Tidak Meminta, Ustadz H Abdul Hafiz Ungkap Rahasia Jaga Keikhlasan |
|
|---|
| Membantu Tak Harapkan Imbalan, Ustadz Hadi Purwanto Pegang Prinsip Pandai Bersyukur |
|
|---|
| Hukum Jasa Makelar dalam Islam, Ustadz Abdul Karim Ingatkan Syariat Jual Beli |
|
|---|
| LGBT Bukan Fitrah Manusia, Jelas Haram, Ustadz Zulkifli : Penyimpangan dan Dosa Besar |
|
|---|
| Hukum Biaya Tukar Uang, Ustadz Musthofal Fitri : Bedakan Nilai Tukar dan Upah Jasa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/H-Muhammad-Helmi-SHI-1.jpg)