Tajuk

Prihatin Fenomena Ngelem

Saat ini sebagian orang tua di Banjarmasin prohatin mengenai adanya anak dan remaja yang ngelem di sekitar Taman Kelayan

Editor: Irfani Rahman
Banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah
TAMAN KELAYAN - Kondisi Taman Kelayan di Kelayan Baru, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin,beberapa waktu lalu. Adanya remaja dan anak diduga ngelem di lokasi bikin prihatin 

BANJARMASINPOST.CO.ID - AKSI sejumlah anak-anak dan remaja ngelem di kawasan Teluk Kelayan, Banjarmasin, Minggu (13/7) bikin terhenyak. Fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi itu, mau tak mau kembali jadi sorotan.

Warga resah. Sebab aktivitas itu marak dilakukan anak-anak dan remaja usia sekolah. Bahkan, beberapa di antaranya masih mengenakan seragam sekolah saat terlihat berada di lokasi, tepatnya di Taman Kelayan.

Menurut warga, anak-anak dan remaja itu sering berkumpul di gazebo taman. Bukan hanya malam akhir pekan, tapi juga siang hari. Kadang yang datang juga ada anak perempuan. Tak hanya ngelem, sebagian juga ada yang terlihat bermesraan. Meski sudah berulang kali ditegur, namun mereka cuek. Bahkan warga mengaku sempat ditantang berkelahi.

Laporan kepada petugas Satpol PP pun dinilai tidak berhasil mengatasi kenakalan anak-anak itu. Sebab saat petugas patroli, anak-anak itu sudah kabur duluan. Mereka lalu kembali saat sudah kondusif.

Fenomena ngelem  atau glue sniffing adalah kebiasaan seseorang menghirup atau mencium bahan yang mengandung pelarut mudah menguap (inhalan). Biasanya yang sering dihirup adalah lem, tip-ex, bensin, dan sebagainya.

Aktivitas ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Selain berdampak pada gangguan pernapasan, aktivitas ngelem dalam jangka panjang juga bisa merusak otak dan memicu gagal ginjal.

Menurut sebuah penelitian, lem yang terhirup tersebut mengandung lysergic acid diethylamide (LSD). Ini termasuk dalam salah satu jenis narkotika yang dapat menimbulkan efek halusinasi.

Apa jadinya jika aktivitas ngelem ini terus dibiarkan. Pelakunya tentu berpotensi masa depan suram. Sebab kesehatan terganggu, dan otak tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam pelajaran di sekolah.

Jika dicermati, penyebab perilaku ngelem pada anak-anak dan remaja cukup kompleks. Mulai dari faktor dalam diri sendiri yang mungkin awalnya mencoba-coba; terbawa ajakan negatif teman sebaya; dan faktor keluarga. Bisa jadi, perhatian dan pengawasan orangtua kurang maksimal. 

Mengingat usia mereka yang masih belia, perlu kolaborasi, komunikasi dan sinergi semua pihak dalam menyelesaikan masalah ini. Selain peningkatan pengawasan dari orangtua dan sekolah, perlu juga dipikirkan upaya pembinaan agar mereka sadar dan tidak melakukan lagi. Selain itu mengusut pangkal persoalan, apakah terkait ekonomi keluarga atau bentuk kenakalan saja.

Dalam kondisi darurat dan jika diperlukan, bisa saja Pemko Banjarmasin mencontoh yang dilakukan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, dengan melaksanakan program barak militer bagi  remaja bermasalah. Bukan menghukum, tapi untuk membentuk karakter disiplin dan kemandirian remaja, serta mengembalikan jati diri mereka. (*)
 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved