Opini Publik
Moderasi Beragama bagi Generasi Milenial
Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Dialog Lintas Agama untuk Pemeliharaan dan Penguatan Kerukunan
Oleh: AHMAD BARJIE B, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Dialog Lintas Agama untuk Pemeliharaan dan Penguatan Kerukunan Umat Beragama Regional II 2019.
Seratusan perwakilan pemuka agama-agama dari belasan provinsi di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, termasuk dari Kalimantan Selatan berkumpul bersama Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI. Membicarakan dan merumuskan langkah-langkah nyata untuk peningkatan kerukunan umat beragama yang dirasakan semakin penting guna menjaga empat pilar negara dan menyongsong masa depan bangsa yang penuh tantangan.
NTB diberi kehormatan menjadi tempat dialog karena provinsi ini meskipun mayoritas penduduknya muslim, bahkan Lombok dijuluki pulau seribu masjid, namun toleransi masyarakatnya sangat tinggi.
Pemerintah provinsi bersama pemerintah 10 kabupaten/kota di NTB, para ulama (di sini disebut tuan guru) dan pemuka adat juga berusaha untuk membangun kekompakan, sehingga persatuan dan kesatuan masyarakat semakin kuat dan hubungan lintas agama semakin kondusif.
Berbeda Generasi
Banyak hal ditekankan melalui dialog lintas agama kali ini. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof Dr Phil Nurcholis Setiawan MA, ketika membuka dialog menekankan, di tengah kita terdapat beberapa generasi yang tidak sama pengalaman hidup dan memahami agama dalam konteks negara.
Generasi “kolonial” yang pernah hidup di masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, telah merasakan betapa pahitnya hidup dalam kekuasaan negara lain, sehingga mereka rela berjuang dengan segala pengorbanannya dan begitu mensyukuri kemerdekaan yang diraih.
Mereka juga merasakan perpecahan bangsa, meletusnya separatisme dan seretnya pembangunan selama puluhan tahun pertama pascakemerdekaan, sehingga mereka sangat mendambakan persatuan, karena dari persatuan itulah dapat membangun bangsa dalam berbagai aspeknya.
Generasi terdahulu tidak pernah mempersoalkan perbedaan SARA di masyarakat. Mereka bisa hidup bersama dan berjalan bergandengan tangan dengan mesra, tanpa kehilangan jatidirinya sebagai penganut agama tertentu.
Bahkan sejumlah tokoh pendiri bangsa terdiri dari kalangan ulama dan tokoh agama. Keberagamaannya berangkat dari kecerdasan literasi karena kerajinan membaca kitab/buku, sekolah dan mengaji, sehingga wawasan beragama menjadi luas, dan karena luasnya mereka menjadi moderat dan tidak gampang menyalahkan orang atau pihak lain. Ada ungkapan, man qalla ilmuhu katsura i’tiraduhu (siapa yang sedikit ilmunya banyak menyalahkan orang lain).
Mereka memiliki komitmen tinggi untuk meyakini apa yang diyakini dan memberi ruang kepada keyakinan yang berbeda.
Berbeda dengan generasi milenial sekarang, mereka lebih enak. Tidak saja dari segi sosial ekonomi dan kehidupan yang sudah bebas karena sudah lama terlepas dari era penjajahan, tetapi mereka juga serba mudah dalam mengakses pengetahuan dan informasi.
Melalui media sosial yang merambah dan digandrungi hampir sebagian besar generasi muda, mereka begitu mudah mendapatkan pengetahuan dan informasi tersebut. Tetapi karena tidak adanya filter dan konfirmasi (tabayyun), kemudahan itu justru kadangkala menjebak dan mendorong perilaku beragama menjadi sempit, eksklusif dan tidak jarang justru mudah menyalahkan golongan lain.
Tidak jarang informasi keagamaan yang diperoleh lebih bernuansa hoaks, sepihak dan lemah dari sisi literasi dan historisnya. Pemahaman beragama demikian jika tidak diberikan pencerahan, bisa mengarah kepada saling menyalahkan dan perpecahan sesama komponen bangsa. Tidak saja dengan agama dan keyakinan berbeda, bahkan dalam rumpun dan aliran agama yang sama pun gampang saling menyalahkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ahmad-barjie_20160106_230549.jpg)