Tribun Smart
Tak Hanya Mendidik Tapi Berbagi Skill
Izzatul Maula yang berkuliah di Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Antasari Banjarmasin angkatan 2024.
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sangat berminat pada bidang pendidikan, juga menyukai editing dan desain kreatif. Itulah Izzatul Maula yang berkuliah di Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Antasari Banjarmasin angkatan 2024.
Izzatul yang kelahiran 10 April 2006, memang bercita-cita menjadi guru. Namun menjadi pendidik yang tidak hanya mendidik, namun juga guru yang bisa berbagi skill serta kemampuan.
"Guru perlu mengajarkan dan memotivasi murid untuk berani berbicara. Selain itu saya suka seni estetika, keindahan yang kreatif, hal ini bisa diajarkan kepada murid.
Jadi, tak hanya terpaku pada materi pendidikan, ia ingin menegaskan, setiap orang punya potensi dan kemampuan masing-masing yang harus mereka kembangkan dan mereka mampu mencari jalan agar potensi mereka tidak buntu.
"Saya ingin membuat motivasi yang didengar, ditelaah dan dipahami. Apa motivasinya, bukan hanya dibaca, yaitu menjadi guru yang cerdas, percaya diri dengan segala potensinya dan tetap berpegang teguh dengan keimanan," kata Izzatul.
Puteri Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Puteri Utama dan Bidang media Editing & Design 2025 ini memang gemar bahasa Inggris.
"Saya suka dan tertarik dengan bahasa Inggris, saya suka mendengar lagu berbahasa Inggris dan lain sebagainya. Makanya antara hobi dan cita-cita sejalan, menjadi guru bahasa Inggris," katanya.
Sebagai orang kreatif, keinginan Izzatul adalah menggunakan metode belajar yang bervariatif dan kreatif sehingga menciptakan suasana kelas yang nyaman.
"Khususnya anak murid, mereka merupakan anak-anak yang mudah mencerna hal unik dan menarik, seperti berkarya bersama atau mengajar bahasa Inggris menggunakan media yang kreatif," kata Izzatul.
Saat ini, Izzatul terus berupaya menjadi pribadi yang terdidik, berakhlak religius, terus mengembangkan ide-ide kreatif dan membangun personal branding dengan keahlian dalam dunia pendidikan.
"Saya ingin dikenal sebagai guru yang kreatif dan digemari anak anak," ucap peraih Juara 2 Educational Short Video International Event ini.
Kreativitas Izzatul sering muncul saat ia harus mengerjakan tugas makalah, kemudian juga harus mempresentasikan paparan power point. Di situlah menciptakan hal-hal yang menurutnya unik dan nyaman dilihat.
“Saya dapat tugas membuat tugas video, dengan semangat saya mengerjakan. Mengisi video dari klip-klip dan mengkreasikan transisi yang menarik,” katanya.
Di organisasi, Izzatul bertanggungjawab di bidang desain yaitu membuat pamflet ulang tahun, ucapan hari-hari besar dan lain sebagainya.
"Dari semua itu secara inti saya menerapkan ide kreativitas saya di setiap langkah saya," ujarnya.
Izzatul berani mencoba desain rumit dan memang menghasilkan karya yang semakin bagus setiap harinya.
"Dengan beberapa job yang diberikan ke saya di bidang itu, saya berani menerima dan mencoba membuat lebih bagus dari sebelumnya," katanya.
Selama berkuliah, Izzatul terus berupaya mengembangkan diri, satu di antaranya adalah berani dan percaya diri saat berbicara serta selalu mencoba.
Ia juga mengembangkan diri melalui organisasi yang memberinya pemahaman tentang kerja sama dan kebersamaan.
Izzatul pun menyadari, kita tidak bisa memimpin hanya dengan satu mulut, makanya perlu anggota yang mampu menyukseskan arahan.
Meski melakoni beberapa aktivitas, Izzatul bisa memanajemen waktu. Tak heran secara akademis ia masih bisa berprestasi yaitu karya ilmiahnya tidak disangka terpilih sebagai terbaik.
"Terbaik, karena saya menyusunnya dengan seksama. Menyusun secara hati-hati dan sering saya membaca ulang untuk memastikn bahwa karya ilmiah saya itu benar benar bagus dan nyambung," kata Izzatul.
Komitmennya adalah melakukan yang terbaik dan berani mencoba tanpa melihat orang lain, tanpa memikirkan bahwa kita sedang bersaing. Saya fokus pada ketepatan dan kepuasan diri.
"Seringkali saya berpikir bahwa saya pantas! Dan benar semuanya terjadi setelah saya menilai diri saya terlebih dahulu sebelum dinilai orang. Tapi dengan syarat kita boleh menilai diri kita tapi tidak boleh membandingkannya dengan orang lain yang menyebabkan kesombongan," kata Izzatul. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Mencari Kesenangan di Atas Kesabaran
IZZATUL yang menjadi peserta International Event By ESA Antasari, Anggota Publication, Design & Creative 2025 ESA Community Service 2025, mendapat pengalaman bagus dan berguna.
"Tapi, ada satu yang saya tonjolkan yaitu ESA Community Service, karena disana kami mengabdi pada masyarakat," kata Izzatul.
Mereka belajar untuk kebersamaan, belajar melihat bagaimana kehidupan orang di sana, tentunya diajarkan untuk bertahan hidup dengan berbagai akses yang terbatas.
"Kami diajarkan untuk mencari kesenangan di atas kesabaran, seperti tidak ada sinyal, kami mengusahakan untuk tetap bersama mengubah kebiasaan memegang ponsel menjadi berkumpul dan bercerita," katanya.
Selain itu, akses air yang lumayan sulit, mengajarkan sabar saat mengantre, melihat antusias anak-anak desa yang ingin belajar dan masih banyak lagi. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Izzatul-Maula-mahasiswi-Program-Studi-Tadris-Bahasa-Inggris-UIN-Antasari-Banjarmasin-angkatan-2024.jpg)