Ekonomi dan Bisnis

REI Kalsel Minta Harga Rumah Subsidi Dinaikkan, Ini Alasannya

Kenaikan harga BBM non subsidi berkorelasi dengan kenaikan harga bahan bangunan dan transportasi atau distribusinya

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
banjarmasinpost.co.id/HO-Ahyah Sarbini
NAIK HARGA- Perumahan bersubaidi yang dibangun oleh pengembang di Kalimantan Selatan. REI Kalsel berharap ada evaluasi harga perumahan Bersubsidi menyusul kenaikan BBM Nonsubsidi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kenaikan harga BBM non subsidi berkorelasi dengan kenaikan harga bahan bangunan dan transportasi atau distribusinya. Hal ini tentunya menambah biaya modal para pengusaha pengembang perumahan.

Sebagaimana diutarakan Ketua DPD REI Kalsel, H Ahyat Sarbini mengakui, imbas kenaikan harga BBM non subsidi memberatkan permodalan mereka dalam membangun perumahan.

"Menyikapi kondisi ekonomi dengan adanya kenaikan BBM non subsidi, memberatkan kami. Dalam bisnis properti ada 185 bisnis ikutan akibatnya semua bahan bangunan naik," katanya, Selasa (5/5/2026) malam.

Harga batu gunung, pasir, keramik, besi, semen, cat, dan lainnya, berikut pula biaya angkut atau distribusi saat ini naik.

Kebutuhannya rumah di Kalsel khususnya rumah bersubsidi potensinya luar biasa, apalagi 90 persen anggota REI Kalsel membangun rumah bersubsidi

"Sementara harga rumah FLPP dalam dua tahun tidak ada kenaikan. Harapan kami ada evaluasi kenaikan harga rumah subsidi tersebut," kata Ahyat.

Dengan adanya penyesuaian harga rumah subsidi maka akan mempercepat program pemerintah yaitu penyediaan 3 juta rumah, seperti ditargetkan Presiden Prabowo.

"Kami para pengembang selalu sinergis dengan pemerintah dan stakeholder. Semoga kondisi ekonomi saat ini dapat disikapi dengan kenaikan harga rumah subsidi tersebut," katanya.

Sebagaimana disadari bahwa rumah adalah kebutuhan mendasar bagi masyarakat, sebab itulah di mana saja perumahan dibangun hampir dipastikan laris dibeli terutama melalui sistem KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Keberadaan program KPR bersubsidi, seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau Tapera, dengan uang muka (DP) ringan (mulai 1 persen hingga 5 persen) dan cicilan tetap yang terjangkau, menjadi daya tarik utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.    (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved