Intel Asmara di Kalsel
Ada Jasa Intel Asmara di Kalsel, Ini Kata Psikolog ULM dan Ahli Komunikasi Kalsel
Adanya jasa intel asmara di Kalimantan Selatan menjadi perhatian, ini kata psikolog ULM dan ahli komunikasi
Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Irfani Rahman
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Fenomena penggunaan jasa “intel asmara” di Kalimantan Selatan, yang dapat ditemukan di media sosial, rupanya diawali dengan rasa cemas. Bukan cemas biasa, tapi rasa tidak aman dalam hubungan, yang perlahan menumpuk dan tak pernah benar-benar dibicarakan.
Psikolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Firdha Yuserina, menilai keputusan seseorang menyewa jasa “intel” untuk memantau pasangan biasanya berangkat dari kondisi emosional yang rapuh. Perasaan itu bisa muncul karena pengalaman masa lalu, komunikasi yang tidak sehat, atau perubahan sikap pasangan yang tak pernah dijelaskan secara terbuka.
“Biasanya karena orang itu lagi merasa cemas dan nggak merasa aman dalam hubungannya. Bisa karena pernah diselingkuhi, pernah dikhianati, komunikasi sama pasangan yang nggak sehat, atau sedang berada dalam hubungan yang toxic. Kadang juga karena ada perubahan sikap pasangan yang bikin kepikiran,” ujar Firdha, Selasa (16/12).
Baca juga: Intel Asmara di Kalsel Tawarkan Jasa Mata-mata, Cek Pacar Tak Balas Chat hingga Dugaan Selingkuh
Baca juga: Viral Video Pemilik Sapi Tangkap Pencuri Sapi Berkat Kalung GPS, Peternak Tanahlaut Buka Suara
Dalam kondisi seperti itu, rasa curiga tumbuh lebih cepat daripada rasa percaya. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber kecemasan. Menurut Firdha, penggunaan jasa intel asmara sering kali menjadi tanda bahwa rasa kepercayaan dalam hubungan sedang bermasalah.
“Sering kali, iya. Ini tanda kalau rasa percaya di hubungan itu lagi terganggu. Hubungannya sudah nggak aman secara emosional, karena rasa curiga lebih besar dari rasa percaya. Akhirnya orang lebih memilih mengintai dan mengontrol, daripada mengobrol dan menyampaikan apa yang dia rasakan,” jelasnya.
Masalahnya, kelegaan yang didapat dari hasil pemantauan itu jarang bertahan lama. Mengetahui keberadaan pasangan, siapa yang ditemui, atau aktivitas apa yang dilakukan memang bisa menjawab rasa penasaran sesaat. Namun di balik itu, ada efek jangka panjang yang justru lebih berbahaya bagi hubungan. “Lama-lama justru makin memicu overthinking dan makin sulit percaya,” kata Firdha.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak yang memantau. Bagi pasangan yang menjadi objek pengintaian, praktik ini bisa melukai secara emosional. Rasa dikhianati, tidak dipercaya, dan tidak dihargai bisa muncul, bahkan tanpa mereka pernah tahu bahwa dirinya sedang diawasi.
Jalan paling sehat, menurutnya, tetap kembali pada komunikasi yang jujur dan dewasa.
Jika komunikasi sudah buntu dan hubungan mulai diwarnai saling curiga dan saling mengawasi, Firdha menyarankan pasangan mempertimbangkan bantuan profesional, terutama bila hubungan tersebut ingin dibawa ke jenjang yang lebih serius.
Rizki Apriliyanti, M.Med.Kom, Ahli Komunikasi Digital Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (Uniska MAB), menjelaskan fenomena “intel asmara” sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, praktik saling mengawasi dalam hubungan sudah ada. Bedanya, sekarang praktik itu hadir dalam bentuk digital. Lewat media sosial, aktivitas seseorang bisa dipantau dari jarak jauh, mulai dari unggahan, komentar, hingga interaksi dengan orang lain.
Sebelum ada media sosial, pengawasan dilakukan secara langsung, misalnya dengan meminta orang lain mengikuti atau memantau aktivitas pasangan. Sekarang, hampir semua orang memiliki jejak digital. Dari unggahan media sosial saja, seseorang bisa diamati tanpa harus bertemu atau bertatap muka.
Biasanya seseorang mengalihkan pemantauan ke pihak ketiga karena ada perasaan tidak berani menerima kenyataan dari realita yang nantinya didapat tentang pasangan. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya dibangun dari komunikasi yang terbuka dan rasa saling percaya, bukan dari memantau dan mengawasi secara diam-diam di ruang digital. (sul)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Seorang-intel-asmara-mengamati-pasangan-diduga-selingkuh.jpg)