Tajuk

Mewujudkan Haji Ramah Lansia

Para calon jemaah haji (calhaj) pikun mendominasi puluhan warga Kalimantan Selatan (Kalsel) yang gagal ke Tanah Suci tahun ini

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin
IBADAH HAJI - Suasana di Baitullah, di Tanah Suci Mekkah. Tahun ini, CALON jemaah haji (calhaj) pikun mendominasi puluhan warga Kalimantan Selatan (Kalsel) yang gagal ke Tanah Suci tahun ini 

BANJARMASINPOST.CO.ID- CALON jemaah haji (calhaj) pikun mendominasi puluhan warga Kalimantan Selatan (Kalsel) yang gagal ke Tanah Suci tahun ini.

Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) per Kamis (22/1/2026) ada sebanyak 34 calhaj reguler di Kalsel tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan.

Mereka tidak bisa melanjutkan proses pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih), sehingga dipastikan gagal berangkat tahun ini.

Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kalsel, Eddy Khairani, demensia atau pikun ini termasuk yang berisiko tinggi mengganggu keselamatan jemaah dalam pelaksanaan ibadah haji.

Sebab berdampak pada penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, berbicara, mengambil keputusan, hingga aktivitas sehari-hari.

Namun, meski gagal berangkat tahun ini, Kemenhaj tetap menjamin hak jemaah terlindungi. Mereka akan diprioritaskan pada musim haji berikutnya, sesuai ketentuan.

Sementara itu secara nasional Menhaj, Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Rabu (21/1/2026) di Jakarta, mengatakan dari total 220.283 jemaah haji reguler dan 14.644 jemaah haji khusus yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan, ada 1.135 jemaah haji reguler yang terpaksa gagal berangkat karena tidak istithaah. Sementara untuk haji khusus jumlahnya sebanyak 34 jemaah.

Selain itu, Kemenhaj juga mencatat ada 704 jemaah haji reguler yang masih perlu dievaluasi kembali kondisi kesehatannya, dan pada haji khusus jumlahnya mencapai 134 jemaah.

Istithaah atau mampu, memang menjadi syarat yang wajib dipenuhi calhaj. Tidak hanya secara finansial, tapi juga secara fisik dan mental.

Hal ini penting untuk memastikan jemaah bisa mencapai haji mabrur tanpa mengancam jiwa. Kesehatan sangat penting untuk memastikan calhaj kuat menghadapi cuaca ekstrem dan aktivitas padat di Arab Saudi, sehingga menekan angka kematian.

Namun yang tak kalah penting diperhatikan juga adalah jemaah lansia. Hal ini tentu menjadi ‘PR’ karena data jemaah haji Indonesia 2026 dari Kemenhaj menunjukkan, sekitar 25 persen masuk kategori lansia.

Bisa berangkat haji tentu menjadi dambaan banyak orang, terlebih bagi mereka yang telah mendaftar dan sudah menunggu bertahun-tahun.

Sayang, karena daftar tunggu yang panjang, sebagian besar sudah berusia lanjut, saat akhirnya bisa berangkat. Bahkan sebagian akhirnya gagal karena menderita demensia atau pikun.

Penyelenggaraan Haji 2026 ini diharapkan menjadi momentum emas sekaligus tonggak sejarah bagi Kemenhaj RI untuk memperbaiki pelayanan bagi para calhaj Indonesia, khususnya lansia. Tagline “Haji Ramah Lansia, Perempuan, dan Disabilitas” pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini seharusnya bukan slogan semata. Melayani para tamu Allah semaksimal mungkin, tidak cukup sekadar menjalankan tugas.

Kemenhaj RI harus memberikan jaminan jemaah bisa beribadah dengan tenang, tanpa rasa khawatir akan birokrasi, biaya, maupun keamanan selama di Tanah Suci nanti. Jangan lagi ada kisah jemaah hilang, telantar atau bahkan tidak mendapat makanan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved