Tajuk

Mencampakkan Campak

Sayangnya, tak sedikit orangtua yang khawatir membawa anaknya imunisasi campak. Padahal, imunisasi diklaim sebagai cara paling efektif

Tayang:
Editor: Ratino Taufik
Banjarmasin Post/Rizali Rahman
CAMPAK - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan adanya risiko kenaikan penyebaran kasus campak menjelang musim libur Lebaran 2026 karena meningkatnya mobilitas maupun aktivitas berkumpul masyarakat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI tengah meningkatnya mobilitas warga selama Ramadan dan jelang lebaran, muncul ancaman penularan penyakit campak. Mobilitas masyarakat yang meningkat berpotensi memperbesar risiko penyebarannya, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Bahkan, sampai pekan ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan 6 kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Sebenarnya untuk mencampakkan campak di negeri ini, satu caranya adalah imunisasi. Sayangnya, tak sedikit orangtua yang khawatir membawa anaknya imunisasi campak. Padahal, imunisasi diklaim sebagai cara paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit tersebut.

Kementerian Kesehatan juga mengingatkan, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Anak yang terinfeksi sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah agar tidak menularkan virus ke orang lain.

Sebagai langkah pengendalian, pemerintah mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign imunisasi campak-rubella (MR) di wilayah terdampak maupun berisiko. Program ini dilaksanakan di 102 kabupaten/kota dengan sasaran utama anak usia 9-59 bulan selama Maret 2026.

Pelayanan imunisasi akan dilakukan melalui berbagai titik layanan seperti puskesmas, posyandu, PAUD dan TK, tempat ibadah, hingga pos pelayanan kesehatan saat mudik. Cakupan imunisasi minimal 95 persen diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok dan mencegah penyebaran campak di masyarakat.

Sebenarnya, ketakutan atau keraguan orangtua terhadap imunisasi campak umumnya bersumber dari berbagai faktor, mulai dari informasi yang salah, kekhawatiran akan efek samping, hingga isu kehalalan.

Sebagian orangtua merasa campak hanyalah penyakit kulit ringan yang bisa sembuh sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang otak (ensefalitis), pneumonia, kebutaan, hingga kematian.

Hal seperti ini mesti jadi perhatian pihak kementerian atau dinas kesehatan. Kesadaran akan pentingnya vaksin itu harus ditumbuhkan. Caranya, transparan atas apapun yang terjadi pada anak mengalami masalah usai divaksinasi. Selain itu, beri penjelasan detil terkait vaksin ini kepada masyarakat. Kalau perlu dilakukan door to door ke rumah warga yang punya balita. Terkadang, orang baru paham ketika ada pembicaraan dari hati ke hati. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved