Tajuk

Mitigasi ala Nabi Yusuf

Diketahui, kemarau panjang bahkan ekstrem mengancam Kalimantan Selatan (Kalsel) pada tahun 2026 Ini.

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto ACT News
MUSIM KEMARAU (FOTO ILUSTRASI) - Pemerintah memprediksi musim kemarau tahun bakal terjadi di Kalsel 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Kemarau panjang bahkan ekstrem mengancam Kalimantan Selatan (Kalsel) pada tahun 2026 Ini. Hal ini seiring prediksi BMKG akan datangnya kemarau ekstrem akibat El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. 

Berbagai risiko bencana efek kemarau ekstrem itu patut diwaspadai.Nah, terkait kemarau ekstrem, ada banyak hal yang bisa diambil pelajaran, termasuk kisah inspiratif dari Nabi Yusuf.

Perjalanan hidup Nabi Yusuf bukan suatu kisah yang hanya menunjukkan mukjizat berupa kemampuan menakwilkan mimpi secara tepat, tetapi juga memberi pelajaran mitigasi dan kesiap-tangguhan sebelum terjadinya bencana.

Dalam satu penggalan kisahnya, raja bermimpi melihat tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir gandum yang kosong, serta tujuh sapi yang gemuk dimakan tujuh sapi yang kurus.

Ini ditakwilkan oleh Nabi Yusuf sebagai tanda akan datangnya tujuh tahun musim panen yang melimpah dan berlanjut tujuh tahun musim gagal panen.

Nabi Yusuf lantas menyampaikan sebuah pemecahan masalah. Dia memberikan usulan agar semua hasil panen jangan habis dimakan pada tahun itu, tetapi hendaknya ada sebagian yang disimpan untuk menghadapi musim gagal panen (paceklik).

Dari sekelumit kisah itu, ada sebuah pembelajaran tentang kesiap-tangguhan menghadapi bencana, atau dalam bahasa sekarang adalah mitigasi.

Nah, saat ini, BMKG dan lainnya telah memprediksi datangnya kemarau ekstrem itu. Tentunya, pihak yang bertanggungjawab harus bisa memitigasi risiko apa saja yang bakal terjadi.

Seperti di Kalsel, satu hal yang kerap jadi perhatian di tiap musim kemarau adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Karhutla juga memunculkan beragam dampak, terutama kabut asap yang menganggu kehidupan di Banua.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel dan lembaga terkait harus bersiap lebih awal menghadapi potensi karhutla. Kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan serta karhutla perlu ditingkatkan melalui pemantauan kondisi wilayah, penilaian awal, penguatan koordinasi lintas sektor, serta kesiapan personel dan peralatan.

Tak hanya kebakaran hutan dan lahan, kekeringan juga jadi ancaman serius. Sejumlah wilayah bisa saja mengalami defisit air. Hal ini mesti dipersiapkan semua pihak, mulai PDAM atau PTAM, sistem irigasi buat pertanian dan perkebunan, dan lainnya.

Sumber pengolahan air minum bakal terdampak. Seperti Banjarmasin, kemungkinan sumber air terintrusi air laut bisa memberi dampat pada produksi leding.

Beberapa waktu lalu, sampai PTAM Bandarmasih sulit memproduksi air bersih karena sumbernya terintrusi air laut. Distribusi air bersih pun terganggu, bahkan harus bergiliran.

Dari sisi pertanian dan perkebunan juga bakal terdampak. Kekeringan bakal mengganggu sistem irigasi. Apalagi, jika lahan pertanian atau perkebunan itu mengandalkan sistem tadah hujan, pastinya juga bakal terdampak.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved