Dokter, Kepahlawanan dan Kemuliaan

Dokter adalah pemeran utama dalam perjuangan meningkatkan kesehatan rakyat, itu sudah pasti. Tapi istilah “pejuang” membuat kita terbayang akan ketulusan dan pengorbanan, bukan kepentingan diri tentunya.

Editor: M Fadli Setia Rahman

Oleh: Pribakti B,
Penulis, Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Dokter adalah pemeran utama dalam perjuangan meningkatkan kesehatan rakyat, itu sudah pasti. Tapi istilah “pejuang” membuat kita terbayang akan ketulusan dan pengorbanan, bukan kepentingan diri tentunya.

Masalahnya pantaskah kita menyebut istilah “pejuang” kesehatan untuk para dokter Indonesia masa kini?  Selain  itu, yang namanya pejuang selalu dekat dengan perbuatan kepahlawanan, kemuliaan dan  kesediaan menjadi “tumbal dan batu pijakan” untuk cita-cita bangsanya.

Artinya, mereka adalah segolongan orang yang paling bersedia berkorban dalam perjalanan membangun bangsanya. Bukan sebaliknya, golongan yang paling diuntungkan dalam kesakitan bangsanya. Kenyataannya angka Human Development Index bangsa kita tidak pernah membaik. Itu artinya, bangsa ini sedang sakit.

Pertanyaannya, benarkah dokter adalah golongan yang paling banyak berkorban dalam perjalanan membangun kesehatan bangsanya?  

Sesungguhnya tanpa memandang profesi, semua orang memiliki kesempatan untuk berbuat mulia. Profesi dokter, meskipun tugas utamanya menolong orang menderita, tidak selalu berarti pengabdian. Mengapa? Ada imbalan jasa di sana. Makanya mungkin (maaf) hari gini sudah saatnya kita tidak lagi memandang dokter sebagai profesi mulia. Bahkan, akhir-akhir ini urusan imbalan jasa dokter sungguh merepotkan banyak negara, termasuk negeri ini.

Contoh  pada program BPJS dalam Jaminan Kesehatan Semesta yang akan diberlakukan 1 Januari 2014  banyak diributkan besaran iuran masyarakat  oleh IDI.  Pada kenyataannya kini, alih-alih menjadi pejuang kemanusiaan, dokter sering justru menjadi sumber masalah. Setiap keputusan mediknya  pasti membawa konsekuensi biaya yang langsung menjadi beban negara dan masyarakat. Jelas di sini, dapat disimpulkan perilaku dokterlah penentu utama tinggi-rendahnya biaya kesehatan.

Namun bila dokter  tidak disebut pahlawan, lalu tidak lantas jadi pengkhianat. Juga, bila bukan disebut sebagai profesi mulia, bukan berarti profesi jahat. Dunia tidak hitam-putih. Ada rentang ruang lebar di antara dua kutub, kutub pahlawan dan kutub pengkhianat.

Di situlah akan diisi nilai kemuliaan, kepahlawanan, atau kejahatan,  dan semua itu berpulang pada nurani sang dokter. Repotnya, zaman telah amat berubah. Lompatan teknologi, perubahan lingkungan, dan cara transaksi ekonomi membutuhkan kehadiran sistem kerja baru.

Dibutuhkan manusia baru yang mampu mengikuti semua perubahan untuk selalu menjadi yang terkini. Semua sisi kehidupan, tak terkecuali bidang kedokteran tidak dapat menghindar lagi dari teknologi. Penanganan penyakit menjadi kian rumit, perlu pengetahuan baru, tata cara berbeda, dan akan terus berubah.

Di sini, teknologilah yang menjadi komando. Celakanya,teknologi baru terus hadir dengan kecepatan tak terkira. Diperlukan sarana training yang senantiasa mampu mengikuti zaman. Sebab pada hakikatnya, teknologi adalah investasi. Dan kembalinya investasinya harus dihitung benar.

Untuk mampu tampil terkini, dokter harus didukung oleh sistem (baca: rumah sakit) yang tangguh. Tidak mungkin lagi kini dokter akan sepenuhnya mandiri. Rumah sakit  harus selalu kompetitif, otomatis dokter pun menjadi bagian dari investasi rumah sakit.

Hal lain, rumah sakit hadir tentu membawa visi, misi, dan strategi sendiri. Tidak bisa mengelak, dokter harus mengikuti lagu yang ditentukan rumah sakit tadi. Di saat situasi - yang serba perhitungan - ini, timbul pertanyaan masih adakah ruang untuk berbicara tentang nurani, kemuliaan, dan kepahlawanan? Entahlah.

Saya tidak tahu persis. Tapi yang jelas semua itu tentang moral, sesuatu yang  tak dapat diraba. Pasien hanya dapat merasakan refleksinya: berupa perbuatan (baca: performa) dan keputusan dokter saat melayani pasien. Ini karena pasien tidak tahu apa yang harus dibeli dan sialnya, coba lihat di apotik  tidak ada istilah tawar menawar, terima saja dan bayar.

Padahal perdefinisi, seorang  disebut konsumen bila pembeli memiliki kebebasan memilih. Jelas di sini, pasien tidak bisa disebut konsumen! Ketidakseimbangan pengetahuan antardokter-pasien membuat kebebasan memilih itu hilang. Pasien sebenarnya adalah pihak yang sepenuhnya harus dilindungi. Lantas, siapakah yang harus melindungi? Di sinilah nyata benar bahwa pelayanan medis  tidak sama dengan usaha lain

Maka di era modern ini, dibutuhkan terjemahan baru untuk mengatakan “dokter  itu baik” atau sebaliknya. Kita membutuhkan dokter yang berhati mulia, meski ukurannya kian tidak jelas. Di era baru juga, lebih membutuhkan ukuran yang jelas pada setiap performa. Dokter dikatakan bekerja akurat bila angka kesalahannya mendekati nol. Dokter dikatakan bekerja efisien bila jelas memunculkan angka turunnya biaya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved