Tribun Smart
Inovasi Eceng Gondok jadi Bahan Bakar
Khairunisa, perempuan asal Kandangan, Hulu Sungai Selatan ini tertarik kuliah di teknik kimia karena kecintaannya terhadap bidang tersebut.
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
Perempuan asal Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS) ini tertarik kuliah di teknik kimia karena kecintaannya terhadap bidang kimia, apalagi sejak SMA sudah menjadi mata pelajaran favoritnya.
"Saya ingin bercita-cita sebagai insinyur di bidang teknik kimia, sehingga pada masa kuliah saya mempelajari bagaimana ilmu teknik kimia yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan perannya," selorohnya.
Aprilia menyatakan, ia orangnya selalu fokus dan oriented terhadap apa yang ada di depan, jadi segala target ia atur, jadi tidak langsung memandang dalam lingkup luas.
"Sekarang, saya lagi fokus studi S2 yang harus tercapai dalam kurun waktu dua tahun ini, pekerjaan pendukung lain mungkin sekarang fokus belajar buat cari pekerjaan dan lainnya," tukasnya.
Terkait studi, pada 2022 lalu Aprilia pernah melakukan penelitian tentang produksi bio oil dan bio char dari gulma tanaman eceng gondok. Jadi fokus penelitiannya itu terhadap penggunaan limbah fly ash (batu bara) dengan pemanfaatan limbah eceng gondok untuk menjadi sumber energi alternatif.
Hasil penelitiannya membuktikan bahwa eceng gondok itu layak dijadikan sebagai bahan bakar atau bio oil maupun bahan bakar padat yang bisa dijadikan briket. "Buktinya dari mana? Saya lakukan uji fisik dan kimia, yaitu kadar abu, kadar air, kadar volatile, lalu untuk bio oil itu diuji GCMS, hasilnya banyak menganduk senyawa karbon yang berpotensi sebagai bahan bakar alternatif," beber Aprilia.
Eceng gondok diambil dari sungai di Nagara Daha HSS, karena eceng gondok sangat melimpah, ada pengaruh negatif terhadap lingkungan terutama perairannya. "Nah untuk ke depannya, karena di studi S2 itu kita memang ditekankan fokusnya ke mana, jadi insyaAllah akan lanjut di bidang yang sama tapi masih di-research tentunya, tapi yang pasti untuk bahan baku akan diambil dari limbah daerah HSS juga," papar Aprilia.
Aprilia mengatakan bahwa ia suka mengajar, sehingga ingin jadi dosen. Ia bersyukur karena alhamdulillah mendapat support penuh dari orangtua untuk lanjut studi. "Saya pernah jadi asisten dosen bidang kelarutan zat padat selama 6 bulan dengan membimbing 65 praktikan saat itu," tukasnya.
Capaian prestasi, Aprilia pernah juara Kompetisi Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di bidang Kimia tingkat Fakultas. Di luar akademis, saat ia ia juga diamanahi sebagai Juara 1 Duta Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih (Pepelingasih) Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2024.
"Sebagai Duta Pepelingasih, karena kita sebagai duta dan seorang pemuda, artinya kita sebagai penggerak dan agent of change. yang saya bawa sebagai duta Pepelingasih fokus terhadap upaya-upaya perbaikan iklim dan pengurangan sampah plastik, di mana ini dikemas dalam beberapa bentuk program kerja juga di garap oleh bersama teman-teman Pepelingasih di kabupaten HSS," ujarnya.
Ia juga melakukan program kerja mengenai pemanfaatan penggunaan eceng gondok yang bisa dijadikan briket sebagai upaya peningkatan sosial ekonomi masyarakat, dimulai dari edukasi, kemudian praktek, hingga distribusi. Ini berjalan selama masa bakti saya, sehingga mohon dukungan juga.
Output ini juga terhadap program SDG’s dengan fokus tujuan di nomor 3 dan 5, pertama terhadap perbaikan iklim dan produksi energi bersih.
Penerima dana prestasi Mahasiswa Berprestasi Tingkat HSS, Desember Tahun 2023 ini adalah sosok yang selalu terbuka untuk belajar dan berorientasi pada komitmen dan rasa ingin tahu yang tinggi serta kemampuan interpersonal yang baik.(dea)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Khairunnisa-A.jpg)