Komunitas

Kembali Bernostalgia dengan Barang Jadul

Borneo Vintage, demikian komunitas jadul asal Banjarmasin, yang beranggotakan aktif 15 orang ini.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Borneo Vintage dalam salah satu pameran. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Barang-barang jadul memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang, seperti halnya komunitas ini yang rajin mengoleksi barang jadul berbagai jenis.

Borneo Vintage, demikian komunitas jadul asal Banjarmasin, yang beranggotakan aktif 15 orang ini.

M Arifin, salah seorang anggota sekaligus koordinator, mengatakan, komunitas ini terbentuk setahun lalu yang dilandasi satu minat mengoleksi barang nostalgia.

"Koleksi kami sangat beragam, ada mainan anak era tahun 1970 sampai awal 2000-an,  kaset pita, kaset video, piringan hitam, uang, radio, tape, televisi, kamera, perabotan rumahtangga, pokoknya macam-macamlah," paparnya.

Barang jadul yang dikoleksi itu ada yang memang dari dulu barang koleksi sendiri dan ada juga yang beli dari kolektor atau pihak lain.  

"Aktivitas mengoleksi barang jadul  tentunya dapat memberikan rasa santai dan menjadi refreshing dari kesibukan sehari-hari," kata Arifin.

Selain itu menemukan dan memiliki barang antik yang unik memberikan rasa pencapaian dan kepuasan emosional yang mendalam.

Lanjut Arifin, barang jadul atau antik seringkali memiliki cerita dan sejarah yang kuat, sehingga dapat membangun koneksi emosional antara pemiliknya dengan barang tersebut. 

"Apalagi ada barang-barang yang dulu tidak bisa kita beli, contohnya mainan yang dijual di toko, sekarang barang itu menjadi mainan antik, setelah dewasa barulah bisa beli sendiri. Seolah balas dendam atas ketidakmampuan dulu," seloroh Arifin.

Selain saling silaturahmi sesama anggota, komunitas Borneo Vintage juga kerap diundang berpameran seperti halnya akhir pekan ini di Hapeworld, Banjarmasin.

Sebenarnya, menurut Arifin, banyak orang yang punya barang jadul di rumahnya, namun tidak semua mau unjuk diri memamerkan koleksinya.

Barang antik yang langka juga memiliki potensi nilai jual tinggi yang terus meningkat seiring
waktu, menjadikannya peluang investasi yang menguntungkan.

Arifin mengungkapkan, barang jadul ini memang bisa pula dibisniskan, namun untuk mendapatkan harga yang lumayan mesti dijual ke kolektor di pulau Jawa.

"Saya sendiri menjual lagi barang-barang jadul, terutama jenis mainan. Namun tidak semua, sebagian saja yang dijual, kalau yang langka apalagi cuma punya satu item dan nilai historis tinggi maka tidak dijual," jelas Arifin yang sejak 2017 berbisnis barang jadul.

Uniknya, penggemar barang jadul tersebut tak hanya orang dewasa usia 30 tahunan ke atas, tapi banyak pula anak muda 20 tahunan.

"Anak muda zaman sekarang banyak juga yang ingin tahu dengan barang jadul. Mereka juga ada yang mengoleksi barang antik," tandasnya. 

Fahriani pemilik Toko Alexaudio, yang juga anggota Borneo Vintage, punya banyak koleksi jadul yang di antaranya berupa produk audio visual.

Tokonya yang berlokasi di Sentra Antasari, Banjarmasin, tersebut, kerap didatangi orang untuk beli barang-barang jadul.

Ada radio, tape, kaset pita, compact disc, kaset video, televisi, pemutar piringan hitam,  piringan hitam, dan lainnya. "Dulu beli kaset pita seharga Rp3.000-4.500. Sekarang harganya bisa dua-tiga kali lipat," katanya.

Salah satu contoh untuk kaset Iwan Fals harganya Rp15.000-25.000. Sedangkan album Queen yang termasuk langka ada yang terjual Rp 450.000.

"Zaman saya muda bersama suami memang penggemar musik, jadi suka beli kaset. Sebagian besar masih disimpan dan menjadi koleksi," tandasnya. (Salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved