Ujian di Rumah Guru
HINGGA Rabu (4/4), proses belajar mengajar di SDN Basirih 10 masih belum berlangsung. Lagi-lagi, mereka tidak bisa menuju sekolah karena
Tayang:
Editor:
Dheny Irwan Saputra
HINGGA Rabu (4/4), proses belajar mengajar di SDN Basirih 10 masih belum berlangsung. Lagi-lagi, mereka tidak bisa menuju sekolah karena sungai surut.
“Air baru naik sekitar pukul 11.30 Wita. Jika dipaksakan, kami baru sampai sekolah, setelah pukul 12.00 Wita. Sudah tidak efektif untuk mengajar. Kami ingin sekali bisa rutin mengajar tetapi kondisi alam tidak bisa dilawan. Semoga saja ada jalan keluar,” kata salah seorang guru, Raflim.
Guru lain, Siti Fauziah mengaku saat mengurus tunjangan mengajar sekolah pinggiran, di Disdik Banjarmasin, sempat bertemu Kadisdik Hesly Junianto. Namun, Hesly meminta Fauziah menemui Sekretaris Disdik M Sarwani. “Pak Sarwani menyarankan kami membikin proposal pengadaan kelotok agar tidak menyewa lagi,” kata dia.
Kerisauan yang kini dihadapi Fauziah, Raflim dan guru-guru lain adalah pelaksanaan ujian akhir sekolah (UAS) mulai Senin (9/4) mendatang. “Kalau air masih surut, kami tidak bisa mengajar secara maksimal. Kasihan anak-anak. Saya biasanya memberi les tambahan di rumah Ainun (guru agama) yang kebetulan tempat tinggalnya di Kompleks Wengga, Basirih. Biasanya anak-anak jalan kaki, tetapi saat ini sering hujan jadi jalannya sulit dilewati,” katanya.
Terkait UAS, kemungkinan juga dilakukan di rumah Ainun. Sedangkan ujian nasional (UN) bisa ‘menumpang’ di sekolah lain yang mudah dijangkau.
Menyikapi itu, Ketua Komite SDN Basirih 10, Supiani mengaku bisa hanya pasrah. “Kami orangtua murid cukup memahami kalau guru tak bisa ke sekolah sehingga anak-anak libur,” ujarnya.
Supiani sangat berharap Pemko Banjarmasin bisa mencarikan jalan keluar agar proses belajar mengajar bisa berjalan normal. Caranya membikin jalan permanen agar bisa dikendarai para guru.
“Jalan yang ada hanya jalan setapak dan kalau hujan sangat licin dan sulit dilewati. Selain itu tidak ada jembatan penyeberangan yang menuju ke sekolah, sehingga perlu dibangunkan jembatan pula,” katanya.
Mengenai pemindahan sekolah, Supiani mengaku rencana itu masih menjadi polemik. “Mereka yang tinggal dekat sekolah tak mau dipindah, sedang sebagian lagi setuju dipindah,” tegas Supiani. (ful)