Curhat Seorang Teman

- blogspot
Oleh: Ibe Pademawoe
ibe-pademawoe.blogspot.com
AKU miskin mungkin benarlah begitu adanya dan kenyataannya aku yang lahir tanpa akte ini memiliki orang tua yang miskin juga dalam arti yang sebenarnya dan punya mbah yang hidupnya melarat pula.
Secanggih apapun aku membayangkan diriku kaya dalam mimpi-mimpi itu masih terlalu sukar untuk menciptakan pagi musim semi untukku karena akhirnya hanya ruang sempit, kumuh dan tragislah yang menyambut pandangan mataku saat membuka mata pada pagi hari.
Pagi-pagi ceria anak TK aku habiskan dijalanan, menari-nari bersama gemericik pipih tutup botol juga sengatan matahari yang terik diatas kepalaku dan terkadang umpatan para pengemudi mobil mewah memberikan warna yang berbeda dalam siangku ini.
Tak banyak yang kuterima untuk itu semua, upah bersih yang diberikan Tuhan untukku pun terkadang hanya mampu untuk membayar gethuk yang mengganjal perutku siang ini, namun syukurlah nyawa ini masih lekat pada jasadku walaupun bayaran untuk keringatku hari ini sering tamat dipalak preman yang tadinya mengancam untuk menggorok leher kurusku ini.
Belum lagi sesampainya dirumah, mungkin juga tak marah diriku jika ada orang kaya yang menyebutnya kandang karena memang begitu adanya, banyaknya persoalan hidup yang ibu bapakku terima mereka jadi terlampau sering membasmi rasa nyamanku dengan sumpah serapah berbonus tamparan jika aku pulang hanya membawa badan saja dan bapak tak begitu bagus dalam mengais sampah yang sudah menjadi pekerjaan pokoknya dalam 15 tahun ini belum lagi saudara-saudaraku yang lainnya juga yang membuat hidup mereka semakin tragis saja.
Aku anak keempat dari enam bersaudara, yang tertua merantau entah kemana, yang kedua perempuan, terakhir aku bertemu dengannya kurasa hidupnya telah jauh lebih baik itu terlihat dari pakaian mini mahal make up berkilau sama seperti BB yang tak pernah lepas dari genggamanya namun entah ia kerja dimana karena akupun tak terlalu lihai membaca jeritan-jeritan tangis ibu yang mengantarkan langkah gemulai kakak perempuanku itu pergi lagi dan hingga sekarang tak pernah lagi kembali.
Kakak ketigaku ini yang lucu suka sekali keluar masuk penjara dan menggambar permukaan kulitnya dengan gambar wanita tanpa busana ah aku suka sekali dengan gambar itu dan sering kupelototi saat ia terkapar karena mabuk, hanya saat itu karena untuk saat-saat lainnya aku takut digampar.
Aku juga punya adik yang baru lahir tahun lalu wajahnya sangat mirip denganku, dengan bapak atau dengan ibu, yah adikku sepertinya mewarisi wajah kemiskinan yang kami miliki.
Aku tidak takut pada kegelapan atau cerita seram tentang komplek makam tempat tante banci mangkal aku hanya takut pada orang-orang berpakaian coklat muda yang selalu mengejarku dan penghuni jalanan lainnya sambil membawa pentungan dan tak segan menyeret kami jika kami tertangkap, aku kasihan pada wanita-wanita jadi-jadian yang biasa mangkal dikuburan karena ia tak dapat lari secepat kaki-kaki kecilku merajai barisan nisan.
Aku jadi gemetaran sendiri ketika sayup-sayup terdengar banci-banci itu menjerit dalam rontanya aku masih belum tahu oleh orang-orang itu mereka diangkut kemana. Terakhir ini mengenai temannku yang mati tenggelam ketika mencoba kabur dari kejaran orang-orang itu padahal ketika sorenya aku dan dia masih ngamen bersama dilampu merah dan melahap bersama nasi bungkus berlauk sambal yang kami beli.
Penasaran tentang kisah selanjutnya? Klik saja blog-nya. (*)

