Kosmologi yang Terbelah?

Senin, 21 Mei 2012 | 01:05 Wita A- A A+ Dibaca: 537 kali
jendelamujiburrahman.jpg
Mujiburrahman()

Oleh: Mujiburrahman

PEKAN kemarin, kita libur empat hari. Bagaimanakah cara orang Banjar mengisi liburan? Jawabnya tentu beragam. Namun di balik keragaman itu, ada suatu kecenderungan yang patut direnungkan.

Orang Banjar tampaknya banyak yang masih menghayati hidup dalam dua dimensi, yaitu kehidupan dunia yang sementara, dan kehidupan akhirat yang abadi. 

Liburan adalah suatu bentuk rekreasi, tetapi tidak boleh hanya untuk kesenangan duniawi. Bersenang-senang boleh, namun sebaiknya sambil beribadah. Dua sisi kehidupan ini harus seimbang, agar tergapai bahagia dunia dan akhirat.  

Maka tak heran jika di hari libur, makam-makam keramat, dari makam Syekh Arsyad al-Banjari di Kelampayan, Tuan Guru H. Zaini Ghani di Sakumpul, hingga Datu Sanggul di Tapin, penuh  pengunjung.

Mereka umumnya berziarah untuk mendapatkan berkah. Adapula yang berziarah karena telah membuat janji (nadzar), misalnya, jika lulus ujian, dia akan ziarah ke kubur itu. 

Tetapi biasanya, mereka yang berziarah itu, lebih-lebih yang berangkat satu rombongan dari Hulu Sungai, selanjutnya akan meneruskan perjalanan ke tempat-tempat lain, yang sifatnya duniawi. Ada yang pergi ke pantai, ke kawasan pegunungan yang ada air terjunnya, atau sungai bebatuan yang masih jernih, atau ke tempat rekreasi buatan seperti yang tersedia di Kota Citra dan Waterboom.

Mal dan pasar swalayan juga termasuk tempat rekreasi duniawi yang paling digemari. Di era 1990-an, Mitra Plaza, merupakan tempat yang banyak dikunjungi. Sekarang, tampaknya pengunjung makin banyak datang ke Duta Mall. 

Biasanya, di hari libur, pengunjung Duta Mal amat banyak. Tidak jarang, tempat parkir benar-benar penuh, sehingga jalur masuk akhirnya terpaksa ditutup.

Demikianlah, ziarah ke kubur wali dan ‘ziarah’ ke mal, dilakukan dalam satu rangkaian perjalanan. Hal serupa juga kita lihat pada kegemaran orang Banjar pergi umrah. Umrah bukan hanya ibadah, tetapi juga rekreasi dan belanja ke luar negeri. Begitu pula, ziarah walisanga yang banyak diminati orang Banjar, sebenarnya mencakup ibadah ziarah sekaligus jalan-jalan dan belanja di Pulau Jawa.

Namun saya menduga, gabungan pandangan duniawi-ukhrawi itu tidaklah dihayati secara padu dan menyatu, melainkan terpisah-pisah. Seolah dunia berada di satu sudut, dan akhirat berada di sudut lain. Keduanya berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. 

Karena dua alam itu masing-masing berdiri sendiri, maka kegiatan duniawi sepertinya terlepas dari kegiatan ukhrawi, atau sebaliknya.

Tiadanya keterkaitan organis antara dua alam itu, kadangkala melahirkan sikap yang bertentangan atau ketidakpedulian. Sudah haji, umrah dan ziarah ke mana-mana, tapi korupsi atau maksiat jalan terus. Sebaliknya, karena geram melihat ibadah yang seolah tak memengaruhi perilaku sehari-hari, orang lantas meninggalkannya, atau memanfaatkannya untuk kepentingan politik semata.

Pandangan bahwa orang hidup di dua ranah yang terpisah itu, semakin diperkuat oleh pengajaran-pengajaran agama yang sangat menekankan kesalehan ritual, seperti pentingnya amalan, wirid atau bacaan ini dan itu, sementara kesalehan sosial seperti mengentaskan kemiskinan dan mendorong kemajuan pendidikan, kurang diperhatikan. Seolah, di luar ritual, tak ada lagi ibadah.

Padahal, kita semua tahu, kesalehan ritual berupa hubungan yang intim dengan Tuhan, akan sia-sia tanpa hubungan yang baik dengan sesama manusia. Sebaliknya, hubungan kemanusiaan yang baik, tanpa hubungan mesra dengan sang Khaliq, akan membuat jiwa manusia rapuh. Keduanya harus berjalan seiring, sebagaimana dunia dan akhirat adalah dua alam yang padu dan sinambung.

Alhasil, pemisahan dunia-akhirat, ritual dan sosial, adalah suatu kosmologi yang terbelah, yang bisa melahirkan kepribadian yang terbelah pula. Keterbelahan ini, hanya akan dapat berpadu ketika agama berhasil menjadi kekuatan etis, bukan sekadar perhiasan dalam ritual dan dunia politik.

Paris, 20 Mei 2012. (*)

  • Editor: Dheny
  • Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak
  • Jalan Sehat Bersama Suaka Ananda

    Polling