Seribu Kali Thomas

Piala Thomas yang menjadi supremasi cabang bulutangkis beregu kelas dunia, sudah pasti bukan milik Indonesia lagi tahun ini. Sebab

Tayang:
Editor: M Fadli Setia Rahman
PIALA Thomas yang menjadi supremasi cabang bulutangkis beregu kelas dunia, sudah pasti bukan milik Indonesia lagi tahun ini. Sebab, Tim Merah Putih harus takluk di tangan Jepang 2-3 pada pertandingan di Wuhan Gymnasium Sport Center, Wuhan, China, Rabu (23/5).

Apa boleh dikata, Taufik Hidayat dan kawan-kawan harus tersingkir. Apalagi, dengan tim non unggulan dan tidak pernah menggondol Piala Thomas, Negeri Sakura Jepang.

Kondisi ini diperparah dengan tumbangnya di sektor putri. Gresya Polli dan kawan-kawan juga tersingkir untuk memperebutkan Piala Uber yang di waktu yang hampir bersamaan dengan lawan yang sama pula, Jepang.

Terlepas dari hebat atau majuya perkembangan bulutangkis di Negeri Matarahti Terbit itu, Indonesia harus berbenah. Apa gerangan yang terjadi. Sebuah capaian yang sangat di luar dugaan. Jika tersingkir lantaran melawan Cina, mungkin banyak yang mahfum. Tapi, Indonesia mencatat rekor buruk yang dicampakkan oleh Jepang. Sungguh Ironi.

Hasil ini bukan saja mendapat perhatian dari Pebulutangkis legendaris Indonesia yang kini memangku jabatan sebagai Koordinator sektor ganda itu, Christian Hadinata. Dia miris melihat kiprah Taufik Hidayat cs di Wuhan.

“Mereka seperti tidak berada dalam performa terbaiknya. Keduanya pebulutangkis kelas Olimpiade, kejuaraan dunia, dan Asian Games. Kami terus menunggu evaluasi dari pelatih. Bagaimana persiapan di sana (di Wuhan, Cina). Seharusnya, persiapan selama enam hari di sana cukup,” ujar juara All-England 1972 dan 1973 itu.

Sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang Piala Thomas, baru kali ini Tim Merah Putih gagal melangkah ke semifinal, dalam kurun waktu 54 tahun terakhir sejak 1958.

Dari 23 partisipasi sebelumnya, Indonesia juara 13 kali dan runner up lima kali, sisanya selalu kandas di semifinal.

Terakhir kali Indonesia menjadi juara adalah pada 2002 di Guangzhou, Cina, dengan menundukkan Malaysia di final, sekaligus mempertahankan titel lima kali berturut-turut.

Dua tahun lalu di Kuala Lumpur Indonesia masuk final tapi kalah 0-3 dari Cina, yang untuk keempat kalinya beruntun memenangi turnamen ini, atau total yang kedelapan. Malaysia adalah pengumpul piala terbanyak dengan lima gelar. Selain ketiga negara itu, tidak ada tim lain yang pernah menjuarai Piala Thomas.

Indonesia sendiri sudah 13 kali memboyong Piala Thomas yakni 1958, 1961*, 1964, 1970, 1973*, 1976, 1979*, 1984, 1994*, 1996, 1998, 2000 dan 2002. Sebagai runner up sebanyak lima kali yakni 1967*, 1982, 1986*, 1992 dan 2010. (*tuan rumah).

Siapa yang patut disalahkan? Semua, siapa pun yang terlibat dalam pembinaan bulutangkis Tanah Air. Dari kelas bawah, menangah dan tingkat elite, harus bertanggung jawab. Bahkan, pemain, pelatih dan seluruh ofisial tim, harus bertanggung jawab. Terlebih lagi PB PBSI (Persatuan Bulutangkis Indonesia) sebagai induk organisasi olahraga tepak bulu itu.

Artinya, pembinaan dan regenerasi bulutangkis Indonesia yang digadang PBSI, jalan di tempat. Jangan sampai keluhan Taufik Hidayat sang fenomenal itu hanya sebagai angin lalu. Sebab, generasi baru tak bisa melewati kehebatan Taufik seperti Simon Santoso, Dyon Hayom Rumbaka dan Tommy Sugiarto.

Dari tujuh kali tampil di Piala Thomas, kontribusi terbaik Taufik adalah pada 2000 dan 2002. Tak mungkin dipungkiri menantu Agum Gumelar itu adalah salah satu pemain terbaik dalam satu dekade terakhir ini.

Tapi, Merah Putih tak boleh menoleh ke belakang. Tatap masa depan. Sekarang saatnya berbenah. Jika tidak, biarpun seribu kali perhelatan Piala Thomas, Indonesia takan pernah juara. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved