“Nggangsir”
Nggangsir itu berasal dari kata gangsir, binatang sejenis jangkrik yang pintar menggali lubang buat menyimpan makanan sekaligus rumah.
BANJARMASINPOST.CO.ID - Nggangsir itu berasal dari kata gangsir, binatang sejenis jangkrik yang pintar menggali lubang buat menyimpan makanan sekaligus rumah.
Kata nggangsir sangat populer pada era sebelum merdeka hingga 1970-an. Kata ini berkonotasi mencuri, dengan cara-cara yang masih sangat ‘manual’ khususnya di desa-desa di Jawa.
Saat itu pencuri yang paling ditakuti karena ilmu kebalnya sekalipun, senjata untuk ‘operasi’ juga cuma linggis.
Mereka menggali fondasi rumah korbannya dengan linggis, yang disebut nggangsir. Lubang galiannyanya dipakai untuk masuk. Tidak ada kesulitan karena rumah-rumah pada waktu itu umumnya berdinding bambu dengan tiang-tiang dari kayu.
Sekarang nggangsir sudah tidak ada lagi karena rumah-rumah di desa pun sudah menggunakan tembok berfondasi batu atau bata sehingga sulit ditembus linggis. Kalau masih ada yang berdinding bambu paling rumahnya orang yang sangat miskin sehingga tidak ada target yang bisa dijarah. Habislah sudah riwayat kejayaan maling kampung.
Tapi istilah nggangsir masih terus terpakai sampai sekarang untuk merujuk pada aktivitas pencurian yang dilakukan orang modern, para pencuri APBN/APBD, BUMN, bank, pajak, proyek-proyek dan sebagainya. Itu lah tipe pencuri zaman sekarang, mereka orang berpangkat, punya jabatan, mulai yang rendah sampai pejabat negara, anggota DPR dan DPRD.
Dulu yang mencuri dan dicuri sama miskinnya. Malingnya juga hanya rakyat jelata, sekarang malingnya para pemegang kekuasaan. Dulu hanya orang gembel yang sial sekarang jenderal pun ikut. Dulu orang mencuri hanya untuk makan sekarang untuk menumpuk kekayaan.
Dulu orang mencuri kayu di hutan hanya satu dua tegakan atau ranting-ranting sekadar untuk kayu bakar, tapi sekarang hutannya habis oleh pembalak. Anehnya semua orang tahu, petugas keamanan juga tahu tapi tak pernah terungkap siapa di balik pembalakan itu. Padahal kita punya intel yang hebat-hebat dan aktivitas penjarahan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Di Kalsel hutan sudah dibabat habis tapi cukongnya tak pernah tertangkap.
Zaman terus berubah, tidak hanya teknologi tapi dunia permalingan pun berubah dan bertambah. Objek pencurian juga semakin luas, tinggal pilih.
Pelakunya orang-orang terhormat, menyebar di seluruh negeri. Ibarat tubuh, di ketiak pun ada pencuri.
***
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kala belum lama ini bilang, 2012 adalah tahun pencurian dan 2013 tahun pencarian. Tahun 2012 memang banyak terungkap kasus korupsi kelas kakap. Sedang 2013 adalah saatnya mencari calon pemimpin untuk masa jabatan 2014-2019. Mirip ucapannya tapi beda jauh artinya.
Tapi kalau kita mau teliti sebenarnya memang sama. Sebab sekarang ini lah saat-saat para aktivis politik mencari uang untuk biaya kampanye Pemilu. Menjadi anggota DPR bisa menghabiskan Rp 5 miliar, kalau terpilih pun jangan harap bisa menutupi dari penghasilan resmi. Makanya selagi bisa tumpuk modal yang banyak.
Kita sekarang lagi riuh oleh suasana penangkapan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK karena diduga menerima suap dalam impor daging. Hampir tak percaya ulama besar seperti dia masih mempan suap.
Apalagi di DPR dia sebenarnya anggota Komisi I yang membidangi pertahanan, tidak ada urusan dengan impor daging. Itu wewenang Komisi IV.
Suasana gaduh terus berlangsung setelah Partai Demokrat terungkap banyak penyamunnya. Kini Demokrat dapat teman baru, sementara kasus lain sepertinya tinggal menunggu KPK bergerak. Seperti itulah negara yang tidak pernah tegas terhadap penjarah uang rakyat. Bisa dihukum berat tapi hakim pilih yang ringan.