Dokter (Hobi) Bedah Caesar

NYONYA Saini, warga Banjarmasin, wajar saja syok begitu dokter kandungan merekomendasikan persalinannya

NYONYA Saini, warga Banjarmasin, wajar saja syok begitu dokter kandungan merekomendasikan persalinannya harus melalui operasi caesar. Bukan dia takut lantaran kata ‘operasi’. Tapi, bayangan tanggungan biaya yang harus dikeluarkan wanita sederhana itu bakal jauh berlipat-lipat dari proses persalinan normal.

Wajar pula kalau kemudian Nyonya Saini emoh menggubris rekomendasi sang dokter. Perempuan bersahaja itu lebih memilih persalinan alami yang ternyata berjalan lancar. Bayinya pun lahir selamat, dan tumbuh sehat hingga kini. Tapi, yang terpenting bagi Nyonya Saini, dia tidak harus mengeluarkan dana hingga belasan juta rupiah sebagaimana tarif persalinan melalui operasi caesar.

Dari kasus Nyonya Saini itu menyiratkan betapa model persalinan tidak alami alias operasi caesar seakan telah menjadi sebuah trend di kalangan tenaga medis, khususnya dokter kandungan. Fakta bahwa persalinan tidak alami menjadi ceruk bagi para oknum dokter kandungan menangguk rupiah dalam jumlah yang tidak sedikit.

Tengok saja angka kelahiran dalam lima tahun tahun terakhir di Kalimantan Selatan menunjukkan kenaikan jumlah persalinan melalui operasi caesar saban tahunnya. Tahun 2011, misalnya, dari total angka kelahiran 65.447 kasus, 40 persen persalinan di antaranya dilakukan melalui proses tidak alami atau sekitar 26 ribu kasus. Padahal, angka standar yang dipatok Kementerian Kesehatan proses persalinan melalui operasi caesar tidak lebih dari 20 persen.

Harus diakui semakin banyak ibu hamil merencanakan persalinan melalui proses operasi caesar. Memang, jenis operasi besar ini bukan tanpa alasan dipilih para ibu hamil. Setidaknya, melalui proses persalinan yang tidak alami itu, ibu hamil tidak akan merasakan rasa sakit hebat sebagaimana dialami persalinan normal. Selain itu, faktor estetika dimana ibu hamil tidak ingin elastisitas vaginanya beruba juga bisa menentukan tanggal kelahiran bayinya.

Namun, di balik alasan psikologi para ibu hamil, sejatinya faktor paling menentukan adalah peran dokter kandungan. Hampir 85 persen proses persalinan tidak alami yang terjadi di negeri ini, lebih dikarenakan rekomendasi medis yang dikeluarkan dokter kandungan. Dan, sebaiknya persalinan caesar hanya dilakukan bila ada indikasi medis yang benar-benar mengancam keselamatan ibu dan bayi. Namun, itu pun bukan berarti semua indikasi medis wajib melalui proses persalinan operasi caesar.

Misalnya, faktor terjadinya lilitan tali pusat pada bayi yang sebenarnya tidak ada alasan ahli medis melakukan caesar. Mengapa?  Rata-rata bayi normal memiliki panjang tali pusat sekitar 50 cm sehingga ukurannya cukup panjang.  Jika terjadi lilitan 1-2 kali tentu itu tidak menimbulkan masalah, dimana itu tergantung posisi plasenta ada di sebelah mana.

Jika lilitannya melebihi 2-3 kali, barulah itu akan berpengaruh, namun peluang ini pun jarang terjadi. Jadi sebenarnya, di sini ibu hamil harus lebih cermat memilih ahli medis yang menangani kehamilan berikut persalinannya kelak.

Kita berharap para ibu yang akan melahirkan sebaiknya tidak memilih dokter yang punya hobi melakukan operasi caesar pada pasiennya. Apalagi, bila lebih dari 50 persen pasiennya diketahui dilahirkan melalui bedah caesar.

Sudah saatnya bagi pemangku kebijakan di Dinas Kesehatan dan organisasi profesi kedokteran seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaudit rumah sakit yang tinggi angka bedah caesarianya. Selain itu mendeteksi rumah sakit dan para dokter yang banyak melakukan operasi caesar.

Fakta bahwa ada indikasi tidak sedikit oknum dokter yang gemar melakukan operasi caesar pada setiap pasiennya. Mereka tidak lagi perlu terkungkung pada nilai-nilai etika kedokteran, tapi berapa banyak pasien ibu hamil yang siap masuk meja operasi.

Di sisi perlu sosialisasi dan pemahaman berbagai institusi kesehatan dan organisasi profesi dokter kepada masyarakat agar tidak selalu menjadi ‘korban’ oknum dokter. Kita ingin warga seperti Nyonya Sain yang berani menolak keinginan dokter yang jelas-jelas memperdayainya. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved