Wisata Pandulangan Intan Cempaka

Mitos si Galuh, Gadis Alam Gaib Penabur Intan dan Sejumlah Pantangan di Pendulangan Intan

Cerita yang berkembang, dua di antara gadis penabur intan itu bernama Siti Anggani dan Putri Sahanjani.

Mitos si Galuh, Gadis Alam Gaib Penabur Intan dan Sejumlah Pantangan di Pendulangan Intan
banjarmasinpost.co.id/salmah
Pendulang intan tradisional di Cempaka Banjarbaru sedang melenggang tanah hasil galian untuk mendapatkan intan atau emas. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Galuh adalah sebutan untuk intan yang lazim di kalangan pendulang. Kenapa galuh? Sementara galuh dalam bahasa Banjar artinya gadis.

Konon, kaitannya dengan mitos bahwa intan yang didapat para pendulang adalah hasil taburan gadis alam sebelah alias alam gaib.

Cerita yang berkembang, dua di antara gadis penabur intan itu bernama Siti Anggani dan Putri Sahanjani.

Siang hari, ketika para pendulang intan sedang asyik bekerja, Siti Anggani, Putri Sahanjani dan kawan-kawannya menaburkan butiran intan ke dalam lubang pendulangan

Gadis alam gaib itu bolak-balik dari lubang yang satu ke lubang yang lain untuk memilih lubang yang layak untuk ditaburi intan.

Baca: LIVE STREAMING Madura United vs Persib Liga 1 2018 - Link Live Streaming Indosiar 15.30 WIB

Baca: Wisata Pandulangan Intan di Lokasi Penemuan Intan Trisakti Cempaka, Beruntung Bisa Lihat Ini

Kriterianya adalah pendulang yang berlaku baik, tidak melanggar pantangan dalam mendulang. Lantas, apa saja pantangannya?

Pantangan itu antara lain tidak boleh bertolak pinggang, kedua tangan ke belakang, bersiul, menunjuk dengan telunjuk, mengibas baju, menyebut ular dengan istilah akar, berkata cabul, larangan wanita menstruasi ke pendulangan dan sebagainya.

Pengunjung wisata Pendulangan Intan Cempaka, Banjarbaru, menyaksikan langsung proses pendulangan tradisional.
Pengunjung wisata Pendulangan Intan Cempaka, Banjarbaru, menyaksikan langsung proses pendulangan tradisional. (banjarmasinpost.co.id/salmah)

Menurut Ayi, warga Palam, Cempaka, Banjarbaru, semasa ia kecil sering sekali ke pendulangan intan sekadar ingin bermain bersama teman.

"Dulu tahun 80-an masih pendulangan sistem lubang. Jika ke pendulangan, kami sering ditegur para pendulang karena lupa dengan pantangan," ungkapnya.

Ayi juga mengaku pernah ditimpuk kerikil oleh pendulang karena melakukan hal pantangan yaitu kedua tangan ke belakang dan bersiul.

"Kata para pendulang, nanti mereka tidak dapat hasil jika ada yang melanggar pantangan," terangnya.

Namun kini pantangan itu tak sepenuhnya lagi berlaku, apalagi sekarang sudah banyak wisatawan sehingg sulit untuk menerapkan aturan di pendulangan. (banjarmasinpost.co.id/dea)

Penulis: Salmah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved