Pertahankan ‘Takhta’

PENANTIAN panjang itu berakhir sudah. Ya, pencinta bola di daerah ini kini boleh lega, karena tim kesayangannya --Barito Putera--

Tayang:
Editor: Dheny Irwan Saputra
PENANTIAN panjang itu berakhir sudah. Ya, pencinta bola di daerah ini kini boleh lega, karena tim kesayangannya --Barito Putera-- kembali dapat berkiprah di kasta tertinggi persepakbolaan di Tanah Air, Indonesia Super League (ISL).

Kemenangan 2-0 atas Persepam Madura United di semifinal Divisi Utama Liga Indonesia 2011-2012, memastikan Barito meraih tiket ke ISL. Apa pun hasil pertandingan final melawan Persita Tangerang, Minggu malam, tidak akan mempengaruhi posisi tim asuhan pelatih Salahudin ini.

Peringkat I, II dan III dalam kompetisi divisi utama ini, berhak meraih tiket ke ISL. Sedang juara IV akan menjalani play-off melawan peringkat 15 kompetisi ISL, yang hingga kini belum berakhir.

Keberhasilan tim berjuluk Laskar Antasari itu, memang sangat membanggakan masyarakat penggila bola di Kalsel. Betapa tidak, setelah sempat terpuruk hampir sepuluh tahun, Barito akhirnya mampu kembali bangkit.

Tim Laskar Antasari terakhir berkiprah di level tertinggi pada musim 2002-2003. Sejak didirikan pengusaha terkenal Kalsel, HA Sulaiman HB pada 21 Mei 1988, klub ini sempat meramaikan kompetisi bergengsi di Tanah Air ini selama sembilan tahun.

Puncaknya, klub yang bermarkas di Stadion 17 Mei Banjarmasin ini sempat mencapai prestasi tertinggi pada musim kompetisi 1994/1995. Saat itu, Barito terjegal di semifinal oleh Persib Bandung akibat kalah 0-1.

Kekalahan itu terasa sangat menyakitkan, karena terkesan kemenangan Barito ‘dirampok’. Wasit tampaknya menjalankan skenario yang sudah diatur, ketika menganulir gol striker Barito Joko Haryanto, yang sebenarnya tidak terperangkap offside.

Namun, langkah Barito mencapai semifinal itu menjadi momentum paling membahagiakan bagi pendukung dan pencinta bola di daerah ini. Terbukti, tim yang kala itu diarsiteki pelatih Daniel Roekito tersebut disambut bak pahlawan. Manusia menyemut sepanjang 30 km mulai dari Bandara Syamsuddin Noor hingga ke tengah kota Banjarmasin.

Kini, momentum lolosnya Barito ke kompetisi ISL ini, diharapkan menjadi awal dari kebangkitan persepakbolaan di Kalsel. Masyarakat pencinta bola di daerah ini tentunya tidak menginginkan klub kebanggaannya hanya sekadar menjadi penggembira pada kompetisi musim depan.

Manajemen PT Putera Barito Berbakti yang menaungi klub tersebut, tentu harus melakukan pembenahan di berbagai aspek, guna menyongsong kompetisi yang lebih berkualitas.

Selain sarana dan prasana yang menunjang kompetisi, manajemen juga perlu menyiapkan pemain yang berkualitas. Pasalnya, ertarungan keras dan bermutu akan mengadang Agustiar Batubara dan kawan-kawan. Barito juga harus siap menghadapi tim berkelas seperti Sriwijaya FC (juara ISL 2011-2012), Persipura Jayapura, Persija Jakarta, Pelita Jaya ataupun Persela Lamongan.

Sebagai gambaran, tim bertabur bintang, seperti Persib hanya mampu bertengger di papan tengah. Ini, menunjukkan persaingan pada kompetisi Indonesi Super League tidak mudah.

Sebagai klub yang berpengalaman berlaga di kompetisi kasta tertinggi, kita berharap manajemen Barito Putera sudah mengantisipasi segala kekurangan yang ada pada tim. Tak terkecuali pula, kelayakan stadion sebagai tempat laga kandang Barito.

Kita berharap, ‘takhta’ yang diperjuangkan selama hampir 10 tahun --untuk menapak kasta tertinggi-- itu dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Jangan sampai, takhta itu runtuh hanya dalam rentang waktu yang singkat. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved