Mengapa Harus Spesies Asing
Mangium (Acacia mangium) adalah tumbuhan Indonesia, karena berkembang di Maluku. Tumbuhan ini ditanam secara luas di Jawa, Sumatera, dan
Oleh: Prof M Arief Soendjoto
Dosen Unlam
Mangium (Acacia mangium) adalah tumbuhan Indonesia, karena berkembang di Maluku. Tumbuhan ini ditanam secara luas di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan pada tahun 1980-an untuk memprakondisikan lahan kritis. Batangnya pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kayu perkakas dan kertas.
Mangium memang berkembang luar biasa, tetapi yang terjadi kemudian di luar perkiraan. Mangium tidak memberi kesempatan tumbuhan asli setempat untuk tumbuh baik. Apabila terbakar, tumbuhan asli habis. Sebaliknya, akasia mampu bertahan, karena menyukai lahan terbuka. Bahkan, tumbuhan ini mampu menginvasi lahan yang ditumbuhi galam.
Nilotika (Acacia nilotica) adalah tumbuhan yang didatangkan dari India. Pada 1960-an tumbuhan ini dikembangkan sebagai sekat bakar untuk menghambat serangan api dari luar Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Api menjadi penyebab kebakaran savana yang terjadi hampir setiap tahun di taman itu. Savana menghasilkan rumput yang menjadi pakan utama banteng, hewan asli Indonesia.
Mirip dengan mangium, nilotika pun berkembang pesat (apalagi setelah terbakar). Akibatnya, savana dipenuhi nilotika dan banteng susah mendapat rumput pakan. Apabila memaksakan diri mencari rumput di sela-sela tegakan akasia, badan banteng pasti dihadapkan dengan duri yang tumbuh di batang akasia.
Akasia gila (Prosopis juliflora) diperkenalkan pertama kali di Gujarat dan Rajasthan, India pada 1877. Akasia ini ditanam untuk mengurangi perluasan padang pasir. Hampir seabad kemudian (tepatnya sejak tahun 1950), tumbuhan ini tumbuh luar biasa dan justru mengurangi padang rumput yang menjadi tempat berkembang biak dan mencari makan beberapa satwa langka daerah tersebut.
Pada 1957, ilmuwan mengintroduksi satu spesies lebah afrika ke Brazil. Tujuan introduksi adalah meningkatkan produksi madu. Perkembangan berikutnya menyedihkan. Lebah afrika ini berkembang biak dengan cepat dan menyebar ke negara-negara Amerika Selatan lainnya. Mereka berubah menjadi lebah pembunuh, memakan makanan utama spesies lebah asli dan sangat garang terhadap hewan lain.
Empat kejadian itu adalah contoh kasus buruk yang sudah pasti berbeda dengan kasus berikut. Semangka (Citrullus lanatus), tumbuhan asli dari lembah Sungai Nil, Afrika tumbuh subur di Indonesia dan bermanfaat sebagai buah penyegar pada musim kemarau.
Karet (Hevea brasiliensis), tumbuhan asli Brazil (Amerika Selatan) dan sawit (Elaeis guineensis), tumbuhan asli Afrika Barat menjadi sumber pendapatan sebagian masyarakat dan sumber devisa negara. Pohon sawit pertama yang didatangkan ke Indonesia dan menjadi cikal bakal sawit di negeri ini masih bisa dilihat di Kebun Raya Bogor.
Walaupun kasus terakhir ini menunjukkan keuntungan spesies asing, kita seharusnya tetap waspada dan tidak boleh gegabah mengintroduksi (baca: menanam tumbuhan atau memelihara hewan) spesies asing ke wilayah tertentu. Mengintroduksi spesies asing ke satu wilayah tidak ubahnya memasukkan virus dalam tubuh.
Ketika mampu beradaptasi, virus merusak keseimbangan tubuh. Begitu pula spesies asing. Ketika mampu beradaptasi, spesies asing tidak hanya mengancam atau menekan populasi spesies asli setempat, tetapi dalam jangka panjang bahkan mengganggu keseimbangan ekologis.
Masih untung, apabila dampak negatif dari introduksi spesies asing terlihat segera atau dirasakan langsung. Dengan demikin, dampak negatif bisa diatasi sesegera mungkin. Apabila dampak negatif baru dirasakan setelah spesies asing hadir sekian lama, spesies asli terlanjur hilang, serta keseimbangan ekologis berubah kacau, sudah jelas ini kerugian besar.
Hal ini tidak mustahil akan terjadi, setelah introduksi nila ke Indonesia. Nila adalah ikan asli Sungai Nil, Afrika. Karena ketahanannya yang luar biasa terhadap penyakit dan kecepatannya menghasilkan, ikan ini dibudidayakan. Tujuan budidaya tidak hanya untuk meningkatkan produksi ikan, tetapi juga untuk meningkatkan asupan protein pada masyarakat.
Namun, sadarkah kita bahwa ikan ini bisa menekan populasi ikan asli Indonesia?
Sudah seharusnya para pemimpin tidak mengutamakan keinginan belaka dalam mengambil putusan. Yang seharusnya diprioritaskan adalah kebutuhan. Biasanya ketika keinginan diprioritaskan, logika pasti dikesampingkan dan kebutuhan sekedar pemanis di bibir.
Kita tidak perlu memaksa diri menaman pohon kurma di Banjarmasin yang beriklim tropis. Kurma diciptakan Allah untuk hidup di wilayah subtropis dan beradaptasi pada suasana gurun.