Jendela
Kritik, Cinta, Benci dan Tak Peduli
Demikianlah, dunia terus berputar, tetapi ceritanya tetap serupa. Teguran dan kritik bisa datang dari siapa saja, pecinta atau pembenci
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- DUA minggu yang lalu, dalam kajian rutin atas kitab Fihi Ma Fihi di masjid kampus, kami sampai pada dialog Jalaluddin Rumi dengan seorang muridnya.
Murid itu berkata, “Aku ini ceroboh”. Rumi menanggapi, “Jika seseorang menegur diri sendiri, ‘Siapa aku ini?’ ‘Mengapa aku melakukan ini?’, maka itu adalah bukti bahwa Tuhan mencintainya dan selalu memerhatikannya.
Cinta senantiasa ada selama teguran masih ada”. Namun, teguran yang berarti cinta Tuhan itu haruslah timbal-balik, tidak bisa bertepuk sebelah tangan.
Rumi meneruskan, “Jika seseorang merasa tersengat oleh satu teguran dan ia menerima dengan lapang dada, maka teguran itu adalah tanda cinta dan perhatian. Namun jika teguran itu tak membuat orang itu tersengat, maka ia bukanlah cinta”.
Rumi memberikan tamsil. Memukul sajadah agar bersih dari debu bukanlah cinta. Sebaliknya, pukulan orangtua terhadap anaknya adalah cinta. Sajadah adalah benda mati, sedangkan anak adalah manusia, yang dapat menerima cinta.
Demikianlah, bagi Rumi, teguran, peringatan, nasihat, kritik atau apapun istilah yang kita gunakan, adalah wujud dari perhatian pihak lain kepada kita perihal kekurangan, kesalahan, kebodohan, atau kelalaian kita.
“Pihak lain” itu, jika tak tampak sosoknya sebagai manusia, maka kita cenderung mengabaikannya. Seperti saat kita merasa tak enak dan berat hati setelah melakukan satu kesalahan atau dosa. Padahal, justru rasa yang muncul di dalam diri sendiri itu adalah langsung diberikan oleh Tuhan, sebagai tanda cinta-Nya pada kita. Orang menyebutnya suara kesadaran atau hati nurani.
Selain itu, teguran cinta itu dapat ditemukan pada diri orang lain yang dijadikan cermin. Orang lain itu tidak bersuara menegur kita, tetapi keadaannya menjadi bahan pembanding bagi kita.
Menurut Rumi, manusia cenderung meremehkan kesalahannya sendiri, tetapi sangat tak suka dengan kesalahan orang lain. Karena itu, jika kita melihat ucapan, sikap atau perilaku orang lain yang buruk, kemudian kita marah dan tak suka karenanya, maka kita harus sadar bahwa orang lain pun akan marah dan tak suka pada kita jika kita berucap, bersikap dan berperilaku yang sama.
Rasa tidak nyaman pada diri sendiri dan menjadikan orang lain sebagai cermin hidup adalah tata kelola hati dan pikiran yang bersifat personal. Lantas, bagaimanakah jika kesadaran personal itu dibawa ke ranah sosial, hubungan antar manusia? Saya kira, alur pikirnya tetaplah sama.
Jika ada teman yang menegur atau mengkritik perilaku kita yang salah atau merugikan diri sendiri dan orang lain, maka itu adalah bukti cinta dan perhatiannya pada kita. Jika kita mengabaikannya, maka kita telah mengabaikan cinta orang tersebut sekaligus cinta Tuhan kepada kita.
Pengabaian akan peringatan, nasihat dan kritik itu akan lebih merugikan dan berbahaya lagi jika menyangkut kepentingan orang banyak. Jika seseorang diberi amanah menjadi pemimpin, maka keputusan dan kebijakan yang diambilnya akan berdampak pada orang-orang yang dipimpinnya.
Jika ada kesalahan, kelalaian atau kebodohan dalam keputusan, kebijakan dan tindakannya, dan masyarakat yang dipimpinnya merasa dirugikan lalu menegur dan mengkritiknya, maka dia wajib memerhatikannya sebagai tanda cintanya kepada mereka.
Di zaman media sosial ini kita memang harus berhati-hati dalam menyaring arus informasi yang campur aduk antara yang benar dan palsu, termasuk di dalamnya teguran dan kritik. Meski begitu, tidaklah sulit bagi kita untuk mengetahui mana teguran dan kritik yang benar dan mana yang berupa provokasi bahkan fitnah. Bukankah kebenaran itu ada ukurannya?.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)